https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Studi: Hutan Tropis yang Rusak Bisa Pulih dalam 30 Tahun

Agus Mughni | Selasa, 14/04/2026 09:13 WIB



ketika hutan ditebang, kerusakan yang terjadi kerap terlihat permanen. Meski begitu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa alam memiliki kemampuan pulih alami Ilustrasi kerusakan lingkungan (hutan) akibat penebangan pohon. (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Hutan hujan tropis selama ini dikenal sebagai ekosistem paling kaya di Bumi. Meski hanya menutupi sebagian kecil permukaan planet, kawasan ini menjadi rumah bagi sebagian besar spesies makhluk hidup.

Namun, ketika hutan ditebang, kerusakan yang terjadi kerap terlihat permanen. Lahan menjadi gundul dan kehidupan seolah lenyap. Meski begitu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa alam memiliki kemampuan pulih secara alami yang jauh lebih cepat dari yang selama ini diperkirakan.

Dikutip dari Earth, saat aktivitas manusia dihentikan di lahan yang telah dibuka, proses pemulihan alami mulai terjadi. Tanaman kecil tumbuh terlebih dahulu, diikuti pepohonan yang semakin besar seiring waktu. Kehadiran vegetasi ini kemudian menarik kembali berbagai jenis hewan.

Baca juga :
Operasi Merah Putih, Kemenhut Target Pulihkan 80 Ribu Hektare Hutan Seblat

Para ilmuwan menemukan bahwa dalam waktu sekitar 30 tahun, hutan hujan dapat memulihkan sebagian besar keanekaragaman hayatinya. Ini menunjukkan bahwa alam memiliki daya regenerasi yang kuat, asal diberi kesempatan.

Penelitian ini dilakukan di wilayah Chocó, Ekuador, yang memiliki kombinasi hutan alami dan lahan bekas pertanian. Kondisi ini memungkinkan peneliti mengamati proses pemulihan secara langsung.

Baca juga :
Berapa Lama Waktu untuk Memulihkan Hutan Gundul?

Lebih dari 30 kelompok riset terlibat, dengan pengamatan terhadap lebih dari 10.000 spesies—mulai dari tumbuhan, hewan, hingga mikroorganisme tanah. Studi dilakukan di 62 lokasi berbeda, dari lahan aktif hingga hutan yang telah pulih selama bertahun-tahun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan hujan tidak serapuh yang dibayangkan. Ekosistem ini mampu bangkit kembali bahkan setelah mengalami kerusakan serius.

Baca juga :
Wamen Viva Yoga Resmikan Miniatur Hutan Hujan Tropis di Banjarmasin

Penulis utama studi, Timo Metz, menyebut bahwa hutan hujan memiliki ketahanan luar biasa dan kemampuan untuk kembali ke kondisi semula. Namun, kemampuan ini hanya dapat terjadi jika gangguan manusia dihentikan.

Pemulihan hutan tidak hanya bergantung pada tumbuhan. Hewan memainkan peran kunci dalam menghidupkan kembali ekosistem.

Menurut Nico Blüthgen, hewan seperti kelelawar, burung, dan mamalia membantu menyebarkan biji tanaman ke area yang rusak. Serangga seperti kumbang kotoran bahkan membantu menanam biji tersebut ke dalam tanah, sementara proses penyerbukan memastikan tanaman bisa berkembang.

Dengan kata lain, hewan menjadi “agen alami” yang mempercepat pemulihan hutan.

Tidak semua spesies kembali dengan kecepatan yang sama. Burung dan kelelawar biasanya lebih cepat kembali karena mobilitasnya tinggi. Sebaliknya, organisme kecil seperti bakteri tanah dan pohon besar membutuhkan waktu lebih lama.

Proses ini berlangsung bertahap, membentuk rantai pemulihan: hewan datang, membantu tanaman tumbuh, lalu tanaman menarik lebih banyak kehidupan lainnya.

Cara penggunaan lahan sebelumnya juga memengaruhi kecepatan pemulihan. Lahan bekas perkebunan kakao, misalnya, cenderung lebih cepat pulih karena masih menyisakan beberapa pohon.

Sebaliknya, lahan bekas padang rumput lebih sulit dipulihkan karena rumput tebal menghambat pertumbuhan tanaman baru.

Meski hutan dapat pulih, hutan primer tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan. Hutan lama menyediakan sumber benih dan habitat penting bagi berbagai spesies.

Menurut Martin Schaefer, sekitar 75% komposisi spesies dan 90% keanekaragaman dapat kembali dalam satu generasi manusia—angka yang menunjukkan potensi besar perlindungan alam.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature ini membawa harapan baru. Banyak hutan di dunia ternyata mampu pulih secara alami tanpa intervensi besar, cukup dengan memberi waktu dan menghentikan kerusakan.

Namun, deforestasi masih terus terjadi. Jika penebangan berlangsung lebih cepat daripada kemampuan hutan untuk pulih, keseimbangan alam akan sulit dipertahankan.

Kesimpulannya, hutan hujan memang bisa sembuh. Tapi masa depannya sangat bergantung pada pilihan manusia hari ini. (*)

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Hutan Hujan Tropis Regenerasi Hutan Pemulihan Hutan

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777