Rabu, 22/04/2026 01:28 WIB

Tekanan China Paksa Presiden Taiwan Batalkan Kunjungan ke Eswatini





Presiden Taiwan, Lai Ching-te, membatalkan rencana kunjungannya ke Eswatini pada Selasa (21/4) akibat tekanan yang dilakukan China.

Presiden Taiwan Lai Ching-te mengadakan konferensi pers di Taipei, Taiwan, 14 Februari 2025. REUTERS

Taipei, Jurnas.com - Presiden Taiwan, Lai Ching-te, membatalkan rencana kunjungannya ke Eswatini pada Selasa (21/4). Keputusan ini diambil setelah pemerintah Taiwan menuduh China menekan tiga negara Afrika lainnya untuk mencabut izin terbang pesawat kepresidenan di wilayah udara mereka.

Eswatini merupakan satu dari hanya 12 negara yang masih mempertahankan hubungan diplomatik formal dengan Taiwan. Presiden Lai awalnya dijadwalkan berangkat pada Rabu besok untuk menghadiri peringatan 40 tahun naik takhtanya Raja Mswati III.

Namun, rencana tersebut buyar setelah Seychelles, Mauritius, dan Madagaskar secara sepihak mencabut izin lintas udara tanpa peringatan sebelumnya, sebagaimana laporan Reuters.

"Alasan sebenarnya adalah tekanan intens yang dilakukan oleh otoritas China, termasuk paksaan ekonomi," ujar Sekretaris Jenderal Kantor Kepresidenan Taiwan, Pan Meng-an.

Melalui unggahan di laman Facebook pribadinya, Presiden Lai mengecam tindakan tersebut sebagai ancaman terhadap tatanan internasional. Dia menilai penindasan Beijing mengancam ketertiban internasional, perdamaian, dan stabilitas.

"Tidak ada ancaman atau penindasan yang dapat mengubah tekad Taiwan untuk berinteraksi dengan dunia," kata Lai.

Sementara itu, pihak Seychelles dan Madagaskar memberikan pembelaan bahwa keputusan tersebut diambil secara independen dan sesuai dengan kebijakan `Satu China`.

"Diplomasi Malagasi hanya mengakui satu Tiongkok. Keputusan tersebut dibuat dengan menghormati sepenuhnya kedaulatan Madagaskar atas wilayah udaranya," ujar Kemenlu Madagaskar.

Seorang pejabat keamanan senior Taiwan menyebutkan bahwa China diduga mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi, termasuk pembatalan penghapusan utang terhadap negara-negara tersebut jika mereka mengizinkan pesawat Lai melintas. Beijing telah lama melabeli Lai sebagai tokoh separatis yang berbahaya.

Ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah seorang presiden Taiwan terpaksa menunda perjalanan luar negeri akibat tekanan langsung terkait rute penerbangan.

Insiden ini mempertegas upaya Beijing untuk mengisolasi Taiwan di panggung internasional sejak Lai menjabat, terutama di wilayah Afrika di mana Tiongkok memiliki pengaruh ekonomi dan politik yang sangat kuat.

KEYWORD :

China vs Taiwan Presiden Taiwan ke Eswatini Lai Ching-te




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :