Ilustrasi mata uang dolar Amerika Serikat (Foto: Unsplash/Alexander Grey)
Jakarta, Jurnas.com - Nilai tukar rupiah terus melanjutkan pelemahan. Hingga Kamis (4/6) pagi, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tembus Rp18.000.
Meski bagi sebagian orang yang jarang bersentuhan dengan pasar valuta asing, angka ini hanya angin lalu, namun dalam sistem ekonomi global yang saling terikat, pergerakan nilai tukar mata uang bertindak laksana denyut jantung.
Ketika denyutnya bergejolak ekstrem seperti saat ini, efek domino yang dihasilkan akan merayap pelan namun pasti, mengetuk pintu-pintu rumah tangga, dan mengubah isi piring makan masyarakat menengah ke bawah.
Berikut ini sederet alasan anjloknya rupiah bisa berdampak langsung pada urusan dapur masyarakat:
1. Harga Makanan dan Minuman Naik
Terkadang banyak yang merasa aman karena sehari-hari bertransaksi menggunakan rupiah. Namun faktanya, banyak makanan di dalam negeri bersumber dari luar negeri yang dibeli menggunakan dolar AS, atau dalam istilah ekonomi disebut Imported Inflation (inflasi yang diimpor).
Sebagai contoh, kedelai dan gandum. Kedelai adalah bahan baku utama tahu dan tempe, dua lauk andalan pemenuhan gizi masyarakat. Sementara gandum adalah bahan dasar utama pembuat mi instan, roti, hingga tepung terigu untuk gorengan. Karena komoditas tersebut dibeli dengan dolar, maka harganya otomatis melonjak tajam bagi produsen dalam negeri.
Bukan hal yang mustahil para pengrajin tempe atau pedagang gorengan akan menghadapi dilema akut. Jika menaikkan harga terlalu tinggi, maka ditinggal pembeli. Pilihan lainnya adalah mengurangi porsi atau ukuran produknya. Bagi masyarakat bawah, ini berarti uang belanja yang sama kini menghasilkan kalori yang lebih sedikit.
2. Kenaikan Biaya Transportasi
Meski bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia mendapatkan subsidi dari pemerintah, khususnya golongan Pertalite dan solar, namun komponen transportasi bukan hanya soal bahan bakar. Suku cadang kendaraan, ban, hingga pelumas sebagian besar masih memiliki kandungan impor atau harganya mengacu pada pasar global.
Sore Ini, Rupiah Menguat Rp16.293 per Dolar AS
Ketika biaya perawatan armada ojek online, angkutan kota (angkot), hingga truk logistik pengangkut sayur merangkak naik, biaya tersebut lambat laun akan dibebankan kepada konsumen. Ongkos transportasi harian untuk berangkat kerja atau sekolah pun diam-diam akan menggerus sisa tabungan yang sudah kian menipis.
3. Ancaman PHK di Sektor Pabrik dan Manufaktur
Sektor industri padat karya seperti tekstil, alas kaki, perakitan elektronik, hingga obat-obatan berpeluang menghadapi tekanan arus kas yang sangat berat.
Sektor manufaktur sangat bergantung pada komponen dan bahan baku impor. Ketika ongkos produksi melonjak drastis akibat kurs dolar yang perkasa, sedangkan daya beli masyarakat di dalam negeri justru sedang lesu, margin keuntungan perusahaan akan habis tergerus.
Untuk mempertahankan bisnis agar tidak gulung tikar, manajemen perusahaan terpaksa melakukan efisiensi ketat. Langkah awal biasanya dimulai dengan pemotongan uang lembur, penghapusan insentif, hingga skenario terburuk berupa Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
4. Efek Squeeze Sektor Informal
Masyarakat kelas bawah banyak yang menggantungkan hidup pada sektor informal, mulai dari pedagang kaki lima, asisten rumah tangga, buruh bangunan harian, hingga pedagang asongan. Uniknya, sektor informal ini hidup dari perputaran uang masyarakat kelas menengah ke atas.
Saat dolar melonjak dan inflasi merayap naik, kelompok masyarakat kelas menengah biasanya akan langsung mengambil sikap waspada. Mereka mulai menahan belanja non-primer, seperti mengurangi frekuensi jajan di luar, menunda renovasi rumah, atau mengerem pembelian baju baru.
Dampaknya, sektor informal kehilangan pelanggannya. Kondisi ini menciptakan jepitan (squeeze) yang sangat berat. Situasi terjepit inilah yang sering kali memaksa masyarakat bawah masuk ke lingkaran utang instan demi sekadar menyambung hidup harian.
Setelah mengetahui dampak-dampak di atas, kamu perlu menerapkan kebijakan keuangan mikro di tingkat keluarga. Saatnya setiap rumah tangga menyusun kembali skala prioritas dengan ketat. Mengurangi pengeluaran gaya hidup yang kurang penting, mengutamakan konsumsi produk-produk lokal murni yang tidak bergantung pada rantai pasok impor, serta menahan diri dari segala bentuk pinjaman konsumtif (terutama pinjaman online) adalah tameng terbaik untuk melindungi kesejahteraan keluarga saat ini.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Kurs Rupiah Dolar 18 Ribu Dampak Menengah ke Bawah






















