Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara bersama Dubes Tiongkok berkunjung ke PT Natural Indococonut Organik (NICO) di Kabupaten Halmahera Utara (Foto: Kementrans)
Jakata, Jurnas.com - Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengajak Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong meninjau industri dan hilirisasi kelapa yang telah berkembang di kawasan transmigrasi di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara.
Hal ini juga membuka peluang penguatan kerja sama perdagangan dan investasi, seiring tingginya kebutuhan pasar global, khususnya Tiongkok, terhadap komoditas kelapa dan produk turunannya.
Kunjungan ini dilakukan untuk mendorong transformasi transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis potensi unggulan daerah. Mentrans mengatakan, kawasan transmigrasi saat ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai lokasi produksi komoditas primer, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang mampu menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.
“Sesuai arahan Bapak Presiden, kami diminta untuk melakukan industrialisasi dan hilirisasi. Apa yang kami lihat di kawasan transmigrasi ini sangat menggembirakan," ujar Mentrans, dalam kunjungan kerjanya ke PT Natural Indococonut Organik (NICO) di Kabupaten Halmahera Utara, Rabu (3/6).
Dulu kawasan transmigrasi identik dengan produksi bahan mentah, sekarang sudah berkembang industri dan hilirisasi yang membentuk ekosistem ekonomi baru yang lebih baik,” kata Menteri Iftitah lagi.
Menurutnya, kehadiran industri pengolahan kelapa telah memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani. Jika sebelumnya harga kelapa di tingkat petani hanya berkisar Rp500 hingga Rp700 per butir, kini meningkat menjadi Rp2.500 hingga Rp3.000 per butir seiring meningkatnya permintaan dari industri.
Selain meningkatkan nilai ekonomi komoditas, industri kelapa juga menjadi sumber penciptaan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar. Saat ini sekitar 85 persen tenaga kerja yang bekerja di industri tersebut berasal dari masyarakat lokal.
“Dengan adanya industri, permintaan terhadap kelapa meningkat sehingga harga di tingkat petani naik berkali-kali lipat. Selain itu, industri ini juga membuka lapangan kerja yang luas. Hampir 85 persen tenaga kerjanya merupakan masyarakat lokal dengan pendapatan yang berada di atas UMR,” ujarnya.
Menteri Iftitah menjelaskan, salah satu alasan mengajak Duta Besar Tiongkok dalam kunjungan tersebut adalah besarnya peluang pasar yang tersedia. Berdasarkan hasil komunikasi dan kunjungan sebelumnya ke Tiongkok, kebutuhan kelapa di negara tersebut mencapai sekitar 4 miliar butir per tahun, sementara produksi domestiknya hanya sekitar 1 miliar butir.
“Kebutuhan kelapa di Tiongkok sangat besar, mencapai sekitar 4 miliar butir per tahun. Sementara yang bisa dipenuhi dari dalam negeri mereka hanya sekitar 1 miliar butir. Artinya masih ada kebutuhan sekitar 3 miliar butir yang menjadi peluang besar bagi Indonesia, termasuk Halmahera Utara,” ujarnya.
Potensi tersebut semakin terbuka dengan rencana pengembangan pabrik baru oleh PT NICO yang diproyeksikan mampu menggandakan kapasitas produksi. Jika terealisasi, pabrik tersebut diperkirakan dapat menyerap hingga 20 ribu tenaga kerja dan menghasilkan sekitar 570 juta butir kelapa per tahun.
“Jika pabrik baru itu terealisasi, produktivitasnya bisa mencapai sekitar 570 juta butir kelapa per tahun dan membuka lapangan kerja hingga 20 ribu orang. Dengan pasar yang besar di Tiongkok maupun negara-negara lain, kami optimistis pengembangan ini akan menjadi penggerak ekonomi baru di Halmahera Utara,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Wang Lutong menyampaikan apresiasinya terhadap potensi industri kelapa Indonesia, khususnya di Halmahera Utara. Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia dan menjadi pemasok utama kebutuhan kelapa di Tiongkok.
“Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen kelapa dunia. Tiongkok masih sangat bergantung pada impor kelapa dari luar negeri dan Indonesia menjadi salah satu pemasok utama. Kami melihat peluang kerja sama yang sangat besar, tidak hanya dalam perdagangan tetapi juga pengembangan industri pengolahan dan investasi,” ujar Dubes Wang Lutong.
Dirinya menambahkan bahwa hampir seluruh bagian kelapa memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari makanan, minuman, kosmetik hingga bahan bangunan.
Untuk memperkuat daya saing kawasan, Kementerian Transmigrasi juga akan mendorong penyelesaian sejumlah kebutuhan infrastruktur pendukung, termasuk peningkatan jalan produksi dan pengembangan pelabuhan khusus ekspor agar distribusi produk lebih efisien.
Selain itu, pemerintah juga melihat potensi hilirisasi lanjutan dari berbagai bagian kelapa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk serabut kelapa yang berpotensi dikembangkan menjadi sumber energi terbarukan maupun produk industri lainnya.
“Kami yakin ekosistem ekonomi baru yang tumbuh di kawasan transmigrasi Poliwangi dan sekitarnya akan memberikan kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat. Fokus kami adalah menghadirkan lebih banyak lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat melalui penguatan industri dan hilirisasi berbasis potensi daerah,” pungkas Menteri Iftitah.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanegara Dubes Tiongkok Sentra Kelapa
























