Kamis, 16/07/2026 11:44 WIB

Kenaikan Suhu Panas Global Diprediksi Picu Lonjakan Bunuh Diri pada 2050





Perubahan iklim bisa tingkatkan risiko bunuh diri pada 2050, studi internasional ungkap dampak yang terabaikan

Ilustrasi seorang petani memandang lahan pertanian yang mengering akibat perubahan iklim, suhu panas ekstrem (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Dampak perubahan iklim ternyata tidak hanya mengancam kesehatan fisik akibat gelombang panas, kebakaran hutan, atau cuaca ekstrem. Penelitian internasional terbaru mengungkap bahwa kenaikan suhu global juga berpotensi meningkatkan angka kematian akibat bunuh diri pada beberapa dekade mendatang.

Studi yang dipimpin tim peneliti internasional, termasuk dari University of Tokyo, memproyeksikan bahwa kematian akibat bunuh diri yang berkaitan dengan suhu panas akan meningkat di seluruh wilayah yang diteliti pada 2050-an.

Dikutip dari Earth, temuan ini menambah daftar panjang dampak kesehatan yang dipicu oleh krisis iklim. Penelitian ini menjadi salah satu yang terbesar di bidangnya.

Para ilmuwan menganalisis data dari 751 lokasi di 26 negara, kemudian menggabungkannya dengan berbagai model perubahan iklim untuk memproyeksikan bagaimana peningkatan suhu akan memengaruhi angka bunuh diri pada pertengahan abad ini.

Selama ini, berbagai penelitian memang telah menunjukkan adanya pola musiman dalam kasus bunuh diri. Namun, risiko bunuh diri akibat perubahan iklim belum banyak dimasukkan ke dalam perhitungan dampak kesehatan global.

Associate Professor Yoonhee Kim dari Department of Global Environmental Health, University of Tokyo, mengatakan penelitian tersebut bertujuan mengisi kekosongan tersebut.

"Kami meneliti bagaimana kematian akibat bunuh diri yang berkaitan dengan suhu akan berubah pada 2050-an dalam berbagai skenario perubahan iklim. Hasilnya menunjukkan bahwa angka kematian terkait suhu diproyeksikan meningkat di seluruh wilayah yang kami teliti seiring meningkatnya temperatur bumi," ujar Kim.

Peneliti menjelaskan bahwa suhu panas kemungkinan bukan penyebab utama seseorang melakukan bunuh diri. Namun, suhu ekstrem dapat menjadi pemicu jangka pendek yang memperbesar risiko pada individu yang sudah memiliki kerentanan psikologis.

Untuk meminimalkan bias, analisis telah memperhitungkan berbagai faktor lain seperti tren jangka panjang, perubahan musim, hingga perbedaan hari dalam sepekan.

Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa bunuh diri merupakan persoalan kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi psikologis, ekonomi, sosial, hingga lingkungan.

Menariknya, peningkatan risiko tidak terjadi dengan tingkat yang sama di setiap kawasan.

Co-author penelitian, Yeonseung Chung dari Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), menjelaskan bahwa masyarakat di Asia Timur kemungkinan memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik terhadap suhu tinggi karena telah lama hidup di wilayah beriklim panas dan lembap.

Meski demikian, para peneliti menilai mekanisme adaptasi tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut agar dapat dipahami secara ilmiah. Penelitian juga menghadapi sejumlah kendala, terutama minimnya data bunuh diri dari negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.

Sebagian besar wilayah Afrika dan Timur Tengah belum dapat dimasukkan dalam analisis karena keterbatasan sistem pencatatan maupun akses terhadap data bunuh diri.

Selain itu, stigma terhadap bunuh diri di berbagai negara juga menyebabkan masih adanya kasus yang tidak dilaporkan atau salah diklasifikasikan.

Menurut Kim, hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu pemerintah menyusun strategi adaptasi perubahan iklim yang juga mempertimbangkan aspek kesehatan mental, bukan hanya kesehatan fisik.

Ia menilai upaya membangun ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim perlu dibarengi dengan penguatan layanan kesehatan mental, terutama bagi kelompok yang paling rentan.

Penelitian ini juga menjadi pengingat bahwa dampak krisis iklim jauh lebih luas dari yang selama ini diperkirakan. Selain mengancam lingkungan dan kesehatan fisik, kenaikan suhu global berpotensi memengaruhi kondisi psikologis masyarakat apabila tidak diantisipasi sejak dini. 

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Mental Health. (*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Suhu Panas Perubahan Iklim Angka Kematian Kasus Bunuh Diri




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :