Senin, 20/07/2026 00:17 WIB

Ternyata Bukan Menyendiri, Kesepian yang Paling Merusak Kesehatan Mental





 Kesepian ternyata lebih berbahaya bagi kesehatan mental dibanding sekadar hidup sendiri atau jarang bersosialisasi

Ilustrasi kesepian (foto: Doknet)

Jakarta, Jurnas.com - Kesepian ternyata lebih berbahaya bagi kesehatan mental dibanding sekadar hidup sendiri atau jarang bersosialisasi. Temuan itu terungkap dalam studi berskala besar yang melibatkan ratusan ribu orang dan menunjukkan bahwa perasaan kesepian dapat menjadi penyebab langsung meningkatnya risiko depresi, kecemasan, hingga menurunnya kualitas hidup.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications itu menunjukkan bahwa masalah utama bukan terletak pada seberapa banyak seseorang berinteraksi dengan orang lain, melainkan pada seberapa terhubung ia merasa secara emosional.

Dikutip dari Earth, selama ini, kesepian memang kerap dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan. Namun, para ilmuwan masih kesulitan memastikan apakah kesepian menjadi penyebab atau justru akibat dari gangguan kesehatan mental.

Tim peneliti dari University of Bristol mencoba menjawab pertanyaan tersebut menggunakan pendekatan yang lebih komprehensif. Mereka menggabungkan data genetik dan rekam kesehatan ratusan ribu peserta untuk memisahkan pengaruh kesepian dari faktor lain seperti kondisi ekonomi, pendidikan, maupun latar belakang keluarga.

Penelitian dipimpin Dr. Zoe Reed bersama timnya menggunakan tiga metode analisis berbeda agar hasilnya lebih akurat.

Metode pertama membandingkan kondisi orang yang merasa kesepian dengan mereka yang tidak, sambil mengendalikan berbagai faktor seperti pendapatan dan tingkat pendidikan.

Metode kedua membandingkan saudara kandung dalam keluarga yang sama sehingga pengaruh lingkungan masa kecil dapat diminimalkan.

Sementara metode ketiga menggunakan pendekatan Mendelian randomization, yakni memanfaatkan variasi genetik yang diwariskan sejak lahir sebagai "eksperimen alami" untuk melihat hubungan sebab-akibat.

Sebagian besar data berasal dari UK Biobank yang memantau kesehatan sekitar 500 ribu warga Inggris sejak akhir 2000-an. Analisis genetiknya bahkan didukung penelitian lain yang melibatkan hingga dua juta orang.

Hasil ketiga metode tersebut menunjukkan pola yang konsisten.

Orang yang merasa kesepian memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi dan gangguan kecemasan. Mereka juga lebih rentan melakukan tindakan menyakiti diri sendiri, memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih rendah, merasa hidup kurang bermakna, serta mengalami penurunan kepuasan hidup.

Sebaliknya, isolasi sosial atau kondisi objektif seperti tinggal sendirian maupun jarang bertemu keluarga ternyata hanya memiliki pengaruh yang jauh lebih kecil terhadap kesehatan mental.

Saat kedua faktor dibandingkan secara langsung, dampak negatif isolasi sosial hampir menghilang setelah memperhitungkan tingkat kesepian yang dirasakan seseorang. Temuan ini menunjukkan bahwa perasaan sendiri jauh lebih berpengaruh dibanding benar-benar hidup sendiri.

Penelitian juga menemukan bahwa orang yang sering merasa kesepian lebih berisiko mengalami multimorbiditas, yaitu memiliki dua atau lebih penyakit kronis dalam waktu bersamaan.

Selain itu, mereka cenderung kehilangan lebih banyak quality-adjusted life years (QALY), ukuran yang menggambarkan kualitas sekaligus harapan hidup seseorang.

Meski demikian, hubungan antara kesepian dengan penyakit fisik seperti penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, maupun tekanan darah tinggi belum dapat dipastikan secara kuat dalam penelitian ini.

Para peneliti menilai hasil tersebut bukan berarti kesepian tidak memengaruhi kesehatan fisik, melainkan bukti yang tersedia masih belum cukup untuk memastikan hubungan sebab-akibatnya.

Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa hubungan antara kesepian dan kesehatan mental berjalan dua arah.

Gangguan mental dapat membuat seseorang semakin merasa kesepian, sementara kesepian juga memperburuk kondisi mental. Siklus tersebut dapat terus berulang jika tidak ditangani.

Karena itu, para peneliti menilai kesepian perlu dipandang sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang serius, bukan sekadar kondisi emosional biasa.

"Temuan kami menunjukkan bahwa kesepian, dan mungkin juga isolasi sosial, merupakan persoalan penting bagi kesehatan masyarakat, terutama terkait kesehatan mental dan kesehatan secara umum," kata Dr. Zoe Reed.

Lauren Bowes Byatt dari Nesta menambahkan bahwa penelitian ini memperkuat bukti bahwa kesepian memberikan dampak nyata terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan seseorang.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa upaya mengatasi kesepian tidak cukup hanya dengan memperbanyak interaksi sosial.

Yang lebih penting adalah membantu seseorang membangun hubungan yang bermakna sehingga tidak lagi merasa sendirian, meski berada di tengah banyak orang.

Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa kesepian bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan faktor risiko yang layak mendapat perhatian dalam kebijakan kesehatan publik, terutama di tengah meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental di berbagai negara. (*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Bahaya Kesepian Hidup Menyendiri Kesehatan Mental




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :