Saat gajah berlaga bak pemain sepakbola
Jakarta, Jurnas.com - Gajah selama ini dikenal memiliki suara berfrekuensi rendah yang mampu menjangkau jarak jauh. Namun, penelitian terbaru mengungkap kemampuan yang jauh lebih luar biasa. Hewan darat terbesar di dunia ini ternyata dapat saling "berbicara" melalui getaran tanah yang merambat hingga beberapa kilometer.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Audiology and Otology menemukan bahwa gajah tidak hanya mengandalkan telinga untuk mendengar. Mereka juga menangkap getaran yang merambat melalui kaki, tulang, hingga akhirnya diteruskan ke telinga bagian dalam.
Dikutip dari Earth, temuan ini membantu menjelaskan mengapa komunikasi gajah tetap efektif meski berada pada jarak yang sangat jauh atau di lingkungan dengan banyak gangguan suara.
Selain mengeluarkan suara terompet dan dengungan berfrekuensi rendah, gajah menghasilkan gelombang infrasonik yang menciptakan getaran di permukaan tanah.
Getaran tersebut merambat melalui kaki dan tulang kaki menuju tengkorak, kemudian diteruskan ke telinga bagian dalam. Dengan cara inilah gajah dapat "mendengar" pesan yang tidak dapat ditangkap manusia.
Kemampuan ini telah lama diketahui para ilmuwan, tetapi mekanisme biologis yang membuatnya begitu efektif baru kini mulai terungkap.
Tim peneliti yang dipimpin Associate Professor Sunil Puria dari Harvard Medical School menemukan bahwa struktur telinga tengah gajah memiliki ukuran jauh lebih besar dibandingkan manusia.
Tulang-tulang pendengaran gajah memiliki massa sekitar sembilan kali lebih berat, sementara gendang telinganya sekitar tujuh kali lebih besar.
Ukuran tersebut membuat telinga gajah jauh lebih efektif menangkap getaran berfrekuensi rendah.
"Karena ukuran telinganya, gajah mampu meneruskan suara berfrekuensi rendah ke koklea dengan lebih baik," kata Puria.
Menurutnya, koklea kemudian mengubah getaran tersebut menjadi sinyal saraf yang diproses otak sebagai informasi komunikasi.
Penelitian ini juga mengungkap kemampuan unik lain yang tidak dimiliki manusia.
Gajah diduga dapat menutup saluran telinganya secara sukarela ketika ingin mendengarkan getaran dari tanah. Saat saluran telinga tertutup, gangguan suara dari udara berkurang sehingga getaran yang berasal dari tubuh menjadi lebih jelas.
Bagi manusia, fenomena serupa justru sering terasa mengganggu, misalnya ketika menggunakan earphone dan suara langkah kaki terdengar lebih keras. Namun pada gajah, mekanisme tersebut justru menjadi keunggulan untuk komunikasi jarak jauh.
Para peneliti memperkirakan kemampuan menutup saluran telinga dapat meningkatkan pendengaran melalui hantaran tulang hingga sekitar 30 kali lipat, terutama untuk mendengar suara infrasonik dengan frekuensi sekitar 10-20 Hertz.
Frekuensi ini merupakan rentang suara yang biasa digunakan gajah untuk saling berkomunikasi dalam kelompok.
Meski begitu, besarnya peningkatan sensitivitas masih memerlukan penelitian lanjutan karena bergantung pada seberapa rapat saluran telinga dapat ditutup.
Untuk menguji hipotesis tersebut, peneliti memeriksa tulang temporal dari gajah yang telah mati dan membandingkannya dengan sampel manusia.
Bagian tengkorak yang menyimpan telinga tengah dan telinga dalam itu diberi getaran buatan yang menyerupai suara yang merambat melalui tubuh.
Menggunakan laser berpresisi tinggi, tim kemudian mengukur pergerakan tulang-tulang kecil di telinga saat menerima getaran dengan berbagai frekuensi.
Hasilnya menunjukkan tulang pendengaran gajah bergerak tiga hingga empat kali lebih besar dibandingkan manusia pada frekuensi rendah, sehingga lebih banyak energi suara yang diteruskan menuju telinga bagian dalam.
Peneliti mengakui studi ini masih memiliki keterbatasan karena jumlah sampel jaringan gajah sangat sedikit dan jaringan telinga yang digunakan telah kehilangan cairan alaminya.
Meski demikian, temuan tersebut membuka peluang besar untuk memahami cara gajah berkomunikasi, berpindah kelompok, hingga merespons ancaman di alam liar.
"Masih banyak yang harus dipelajari mengenai kemampuan pendengaran gajah. Semakin memahami cara mereka mendengar, semakin baik pula kita memahami perilaku mereka," ujar Puria.
Penelitian ini sekaligus menunjukkan bahwa komunikasi satwa liar tidak selalu mengandalkan suara yang terdengar oleh manusia. Dalam kasus gajah, sebagian besar "percakapan" justru berlangsung diam-diam melalui getaran yang merambat di dalam tanah. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Komunikasi Gajah Kemampuan Unik Gajah Pendengaran Gajah



























