Rabu, 22/04/2026 01:10 WIB

Negosiasi Bergeser, Selat Hormuz Jadi Senjata Geopolitik Utama Iran





Perundingan AS-Iran tidak lagi menitikberatkan pada program rudal, melainkan lebih fokus pada batas pengayaan uranium dan kendali Teheran atas Selat Hormuz

Ilustrasi pengiriman minyak melalui Selat Hormuz (Foto: Resuter)

Teheran, Jurnas.com - Kekhawatiran negara-negara Teluk kian mengerucut seiring dengan pergeseran fokus negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan.

Sejumlah pejabat dan analis memperkirakan bahwa perundingan tersebut tidak lagi menitikberatkan pada program rudal Iran, melainkan lebih fokus pada batas pengayaan uranium dan kendali Teheran atas Selat Hormuz, jalur distribusi minyak paling krusial di dunia.

Dikutip dari Reuters pada Selasa (21/4), beberapa negara Teluk memperingatkan bahwa pendekatan ini berisiko memperkuat cengkeraman Iran atas pasokan energi Timur Tengah.

Mereka menilai diplomasi saat ini lebih memprioritaskan stabilitas ekonomi global dengan cara mengelola pengaruh Iran, alih-alih melucutinya, sehingga meminggirkan kepentingan keamanan negara-negara di kawasan tersebut.

“Tidak jelas bagaimana gencatan senjata antara Washington dan Teheran akan berakhir. Namun satu hal yang pasti – Iran telah menguji senjata nuklirnya. Senjata itu disebut Selat Hormuz. Potensinya tidak ada habisnya,” kata mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev.

Pernyataan Medvedev tersebut menggambarkan Selat Hormuz sebagai pengungkit kekuatan (leverage) yang memungkinkan Iran untuk menaikkan biaya global, dan membentuk aturan main tanpa harus melintasi ambang batas kepemilikan senjata nuklir.

Para pejabat keamanan Iran juga secara pribadi mengamini pandangan tersebut, dengan menyebut selat itu bukan sekadar rencana darurat, melainkan instrumen pencegahan yang telah disiapkan matang selama bertahun-tahun.

Salah seorang sumber keamanan senior Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz adalah "aset emas yang tak ternilai" yang berakar pada geografi Iran, dan sesuatu yang tidak dapat diambil oleh dunia.

Sumber lain yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran menyarankan bahwa tabu mengenai penutupan Selat Hormuz kini telah pecah. Dia mengibaratkan selat tersebut sebagai pedang yang telah dihunus dari sarungnya, dan tidak dapat diabaikan oleh AS maupun negara-negara regional lainnya.

Bagi negara-negara Arab di Teluk, alarm bahaya berbunyi karena meski wilayah mereka berulang kali diserang oleh rudal dan drone proksi Iran, negosiasi internasional kini seolah-olah hanya terbingkai di seputar dampak ekonomi global dari Selat Hormuz.

Hal ini dikhawatirkan akan membiarkan ancaman keamanan langsung terhadap negara-negara tetangga Iran tetap ada tanpa solusi permanen dalam kesepakatan mendatang.

"Siapa yang menderita akibat rudal dan proksi? Israel dan khususnya negara-negara Teluk. Kesepakatan yang baik bagi kami adalah (menangani) rudal, proksi, dan Hormuz. Dan tampaknya mereka tidak peduli dengan rudal atau proksi tersebut," kata Dr. Ebtesam Al-Ketbi, Presiden Emirates Policy Center.

KEYWORD :

Blokade Selat Hormuz Konflik Timur Tengah Perang AS vs Iran




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :