Bendera kebangsaan Uni Emirat Arab (Foto: AFP)
Abu Dhabi, Jurnas.com - Sebuah serangan pesawat tanpa awak (drone) memicu insiden kebakaran di area luar satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir milik Uni Emirat Arab pada Minggu (17/5) kemarin. Meskipun belum ada pihak yang dituduh bertanggung jawab, insiden ini meningkatkan risiko perang kembali antara Amerika Serikat dan Iran di tengah rapuhnya gencatan senjata kedua pihak.
Dikutip dari Associated Press pada Senin (18/5), peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban luka maupun adanya kebocoran radiasi nuklir. Sementara itu, UEA baru-baru ini menuduh Iran meluncurkan serangkaian serangan drone dan rudal, di saat ketegangan di Selat Hormuz terus meningkat.
"Bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka sebaiknya segera bergerak, CEPAT, atau tidak akan ada lagi yang tersisa dari mereka," tulis Presiden AS Donald Trump di media sosial sesaat setelah melakukan panggilan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Trump tercatat telah berulang kali menetapkan batas waktu bagi Teheran namun kemudian membatalkannya kembali. Pembahasan tentang Iran juga mengemuka ketika Trump bertemu Presiden China, Xi Jinping, di Beijing pekan lalu.
"Jari-jari angkatan bersenjata kami sudah berada di atas pelatuk, sementara jalur diplomasi juga masih terus berjalan," ujar Mohsen Rezaei, seorang penasihat militer untuk pemimpin tertinggi Iran, saat berbicara di televisi negara.
Kondisi gencatan senjata saat ini terpantau masih sangat rapuh. Berbagai upaya diplomatik untuk mewujudkan perdamaian kerap mengalami kegagalan. Di saat yang sama, pertempuran justru semakin memanas antara Israel dan kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon, meskipun secara nominal status gencatan senjata telah ditetapkan.
Kementerian Pertahanan UEA menyatakan bahwa tiga buah drone terpantau masuk melewati perbatasan baratnya yang berbatasan dengan Arab Saudi, di mana dua drone lainnya berhasil dicegat.
Pihak militer kini sedang menyelidiki dalang di balik peluncuran tersebut, mengingat Iran dan kelompok milisi Syiah sekutunya di Irak tercatat kerap meluncurkan serangan drone yang menargetkan negara-negara Arab Teluk selama perang berlangsung.
"Apakah tindakan ini dilakukan oleh aktor utama atau melalui salah satu proksinya, serangan ini merepresentasikan sebuah eskalasi yang sangat berbahaya," kata Anwar Gargash, seorang penasihat diplomatik untuk presiden UEA, melalui media sosial miliknya.
Pemerintah Arab Saudi mengutuk keras serangan tersebut, dan beberapa saat kemudian menyatakan bahwa pihak mereka juga telah berhasil mencegat tiga buah drone yang terpantau masuk menyusup dari ruang udara Irak.
Pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah senilai USD$20 miliar dibangun oleh UEA dengan bantuan dari Korea Selatan, dan resmi mulai beroperasi pada 2020. Fasilitas ini merupakan satu-satunya pembangkit nuklir yang ada di dunia Arab dan mampu memasok seperempat dari total kebutuhan energi di UEA, sebuah negara federasi yang terdiri dari tujuh keamiran dan menjadi rumah bagi kota Dubai.
Badan regulator nuklir UEA menyatakan bahwa insiden kebakaran tersebut sama sekali tidak memengaruhi aspek keselamatan pembangkit dan memastikan seluruh unit reaktor beroperasi secara normal.
Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) selaku pengawas nuklir PBB, melaporkan bahwa serangan tersebut menyebabkan kebakaran pada bagian generator listrik sehingga satu reaktor terpaksa ditenagai menggunakan generator diesel darurat.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Serangan Pembangkit Nuklir Pembangkit Barakah Perang AS vs Iran

























