Presiden China, Xi Jinping, dan Presiden AS Donald Trump (Foto: AFP)
Beijing, Jurnas.com - Di sela-sela kunjungan ke China, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan bahwa kesabarannya terhadap Iran sudah hampir habis, sehubungan diblokadenya Selat Hormuz yang memicu gejolak energi global.
Dia juga mengklaim bahwa Presiden China Xi Jinping setuju bahwa Teheran harus segera membuka kembali Selat Hormuz, udai melakukan pertemuan selama dua hari di Beijing yang membahas isu perang Iran, Taiwan, hingga perdagangan global.
Dikutip dari Reuters pada Jumat (15/5), Trump sekaligus bicara tentang Washington yang sedang mempertimbangkan untuk mencabut sanksi terhadap perusahaan minyak China, meskipun membeli minyak Iran.
Namun, di sisi lain, belum ada indikasi kuat mengenai Beijing akan menggunakan pengaruh diplomatiknya untuk mendesak Teheran mengakhiri konflik, yang menurut Kementerian Luar Negeri China seharusnya tidak pernah terjadi dan tidak punya alasan untuk dilanjutkan.
"Kami tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir. Kami ingin selat tersebut dibuka. Saya tidak akan bisa bersabar lebih lama lagi. Mereka (Iran) harus segera membuat kesepakatan," kata Donald Trump.
Krisis di Selat Hormuz bermula sejak 28 Februari lalu ketika Iran menutup jalur pelayaran tersebut sebagai respons atas serangan udara AS dan Israel. Meskipun AS sempat menghentikan serangannya pada bulan April, Washington justru menerapkan blokade total terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Teheran bersikeras tidak akan membuka selat yang menjadi jalur bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, hingga AS mencabut blokadenya. Akibat ketidakpastian ini, harga minyak dunia kembali melonjak sekitar 3 persen hingga mendekati US$109 per barel.
Di tengah kebuntuan tersebut, Trump mengklaim bahwa Xi Jinping telah berjanji tidak akan mengirimkan peralatan militer ke Iran dan menolak keras rencana Iran untuk memungut biaya tol bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Sementara itu, pihak China membantah laporan bahwa mereka berencana memasok senjata ke Teheran dan menyebutnya sebagai fitnah tak berdasar. Para analis menilai Xi Jinping akan berpikir dua kali untuk menekan Iran terlalu keras, mengingat posisi Teheran yang strategis sebagai penyeimbang kekuatan AS di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa pihaknya telah menerima pesan dari AS yang menunjukkan kesediaan Washington untuk melanjutkan pembicaraan yang sebelumnya dimediasi oleh Pakistan.
Namun, Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak memercayai AS dan siap menghadapi opsi perang maupun solusi diplomatik. Iran menuntut pencabutan sanksi, ganti rugi kerusakan perang, serta pengakuan atas kendali mereka di selat tersebut.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Donald Trump Perang AS vs Iran Blokade Selat Hormuz














