Sabtu, 26/09/2020 15:28 WIB

Serapan Lulusan di Tiga SMK Ini 93 Persen, Apa Rahasianya?

Ketiga SMK tersebut ialah SMK Negeri 2 Solo, SMK WARGA Solo, dan SMK 1 Muhammadiyah Sukoharjo, yang dikunjungi Wikan dalam rangka inspeksi mendadak (sidak) pekan lalu.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemdikbud Wikan Sakarinto (Foto: Muti/Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Diksi) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Wikan Sakarinto, mengapresiasi praktik link and match atau `pernikahan massal` yang dilakukan oleh tiga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jawa Tengah.

Ketiga SMK tersebut ialah SMK Negeri 2 Solo, SMK WARGA Solo, dan SMK 1 Muhammadiyah Sukoharjo, yang dikunjungi Wikan dalam rangka inspeksi mendadak (sidak) pekan lalu.

Berkat `pernikahan massal` tersebut, kata Wikan, tingkat keterserapan lulusan di tiga SMK itu mencapai 93 persen. Apa rahasianya?

"Dari kurikulum yang saya lihat dan cermati, ternyata di ketiga SMK tersebut mereka menyusun kurikulumnya benar-benar duduk bersama dengan industri secara intensif. Setiap tahun dilakukan revisi kurikulum sesuai dengan kebutuhan industri dan dunia kerja," ungkap Wikan dalam keterangannya pada Senin (28/7).

"Oleh karena itu, tidak kaget kalau keterserapan lulusannya mencapai rata-rata 93 persen di ketiga SMK tersebut," imbuh dia.

Wikan mengakui, sidaknya ke sejumlah SMK dilakukan untuk melihat secara langsung implementasi `penikahan massal` antara vokasi dengan industri dan dunia kerja (Iduka).

"Jangan sampai kebijakan yang sudah diputuskan di pusat terkait link and match tidak dilaksanakan dengan tuntas di daerah," sebut dia.

Apalagi, lanjut Wikan, saat ini Kemdikbud melalui Ditjen Pendidikan Vokasi sedang meluncurkan puluhan program dengan total nilai anggaran sekitar Rp3,5 triliun untuk mendorong SMK, perguruan tinggi vokasi, dan lembaga kursus dan pelatihan makin menggenjot link and match dengan industri dan dunia kerja.

"Saya mendorong link and match, atau penikahan massal antara SMK dengan Iduka. Program wajib pertama di dalam link and match adalah kurikulum yang disusun bersama dan disetujui oleh industri. Tidak hanya disusun bersama, tetapi harus sampai pada tahap disetujui oleh pihak industri dan calon pengguna lulusan," tegas Wikan.

Dalam sidaknya, Wikan mengatakan SMK Warga Solo berhasil membuat mesin Computer Numerical Control (CNC) yang diberi label HKI (Hasil Karya Indonesia).

Mesin CNC 3 Axis dan 5 Axis, hasil karya proyek guru SMK bersama industri mitra, melibatkan langsung siswa-siswa SMK berbagai jurusan. Dalam waktu dekat, bekerja sama dengan industri King Manufaktur, SMK Warga akan memproduksi mesin CNC lebih massal.

"Saya berharap SMK dan perguruan tinggi serta industri nasional bisa membeli dan memanfaatkan mesin CNC HKI ini, karena sudah resmi di aplikasi SIPLah, yaitu system aplikasi pengadaan sekolah. Apalagi, mesin CNC HKI ini sistem controller-nya dikembangkan mandiri oleh SMK Warga sendiri. Karya anak bangsa ini sungguh patut diapresiasi oleh bangsa sendiri dan dunia," pinta Wikan.

Dirjen Diksi juga mengapresiasi SMK 1 Muhammadiyah Sukoharjo yang berhasil memproduksi alat-alat kesehatan khususnya bed (tempat tidur) rumah sakit yang memenuhi standar.

SMK 1 Muhammadiyah Sukoharjo mampu memproduksi 20-40 unit tempat tidur per bulan, yang dipesan langsung oleh sejumlah rumah sakit di Sukoharjo dan sekitarnya.

Pembuatan alat-alat kesehatan tersebut melibatkan siswa SMK, dalam program Prakerin (praktik kerja industri), mulai dari merancang dan men-design, sampai dengan proses produksi massal serta berbagai pasca produksinya.

TAGS : Pernikahan Massal Wikan Sakarinto Kemdikbud




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :