Kamis, 13/12/2018 06:39 WIB

China Tuding AS Lakukan Hegemoni Perdagangan

Wakil Menteri Luar Negeri China, Zheng Zeguang memanggil Duta Besar AS, Terry Branstad. Ia menyampaikan  pernyataan serius terkait sanksi itu.

Sistem pertahanan udara S-400 (Foto: Sergey Pivovarov / Sputnik)

Jakarta - China memanggil duta besar Amerika Serikat (AS) setelah Gedung Putih menjatuhkan sanksi terhadap militernya. Pengumuman itu datang sehari setelah China  memperingatkan AS untuk mencabut sanksi itu atau menanggung konsekuensinya.

Wakil Menteri Luar Negeri China, Zheng Zeguang memanggil Duta Besar AS, Terry Branstad untuk menyampaikan pernyataan protes terkait sanksi itu.

Pada Kamis (20/9), Washington menjatuhkan sanksi pada Departemen Pengembangan Peralatan (EED) dari kementerian pertahanan China, dan direkturnya Li Shangfu, atas pembelian rudal dan jet tempur dari Rusia.

Sanksi yang dikenakan ke EDD meliputi penolakan lisensi ekspor untuk perusahaan, pembekuan aset Li yang berada dalam yurisdiksi AS, dan pemberlakuan larangan perjalanan terhadapnya.

Departemen luar negeri AS mengatakan, pengadaan rudal permukaan ke udara S-400 dan jet Sukhoi SU-35 dari Rusia melanggar undang-undang sanksi AS yang saat ini dijatahui kepada Rusia setelah terlibat pada pemilihan AS tahun 2016 dan kegiatannya di Ukraina.

Para pejabat AS mengatakan, pengenaan sanksi terhadap China adalah pertama kalinya negara pihak ketiga dihukum di bawah Undang-Undang (UU) Melawan Musuh Melalui Sanksi (CAATSA), sejak diberlakukan pada 2017.

"Militer China mengecam sanksi  tersebut. Mereka menyakatan  kemarahan dan tentangan yang tegas," kata seorang jurubicara kementerian pertahanan kepada kantor berita Xinhua, pada Sabtu (22/9).

"Langkah AS merupakan pelanggaran terang-terangan atas aturan dasar hubungan internasional dan hegemonisme yang terang-terangngan," sambugnya.

Rusia juga memprotes sanksi, memperingatkan bahwa Washington bermain dengan api dan menuduh Gedung Putih mencoba menekan Rusia keluar dari pasar senjata global.

Administrasi Trump juga menambahkan 33 orang dan entitas yang terkait dengan militer Rusia dan layanan intelijen ke dalam catatan  hitam. Dua puluh delapan dari nama-nama baru  didakwa oleh Penasihat Khusus AS Robert Mueller, yang sedang menginvestigasi campur tangan Rusia dalam pemilihan 2016. (Al jazeera)

TAGS : China Amerika Serikat Rusia




TERPOPULER :