https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Studi: Sosial-Ekonomi Paling Pengaruhi Perkembangan Otak Anak, Bukan IQ

Agus Mughni | Sabtu, 13/06/2026 15:15 WIB



Dalam studi ini, kondisi sosial ekonomi tercatat menjelaskan sekitar 16 persen variasi fungsi otak anak Ilustrasi - Studi ungkap kondisi sosial-ekonomi paling pengaruhi perkembangan otak anak, bukan IQ (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Selama puluhan tahun para ilmuwan berupaya menemukan jejak kecerdasan pada struktur fisik otak manusia. Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa faktor yang paling memengaruhi perkembangan otak anak bukanlah IQ, melainkan kondisi sosial ekonomi tempat mereka tumbuh.

Penelitian yang dilakukan tim dari Washington University School of Medicine di St. Louis menemukan bahwa kondisi keuangan keluarga dan lingkungan tempat tinggal memiliki pengaruh terbesar terhadap perkembangan otak anak. Dampaknya bahkan jauh melampaui faktor seperti kecerdasan, pola asuh, maupun riwayat kesehatan.

Selama ini, banyak penelitian menggunakan pemindaian MRI untuk mencari hubungan antara struktur otak dengan kemampuan kognitif, perilaku, atau kesehatan mental. Namun, sebagian besar studi tersebut jarang mempertimbangkan pengaruh lingkungan sosial dan ekonomi terhadap perkembangan otak.

Baca juga :
Penelitian Terbaru Ungkap Cara Otak Mengatur Perilaku Manusia

Untuk menguji hal tersebut, para peneliti menganalisis ratusan faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak. Hasilnya menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi menjadi variabel yang paling dominan.

Dikutip dari Earth, kondisi sosial ekonomi tercatat menjelaskan sekitar 16 persen variasi fungsi otak anak. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pengaruh IQ, gaya pengasuhan, maupun faktor kesehatan lainnya.

Baca juga :
Ini Organ yang Terdampak jika Kamu Malas Minum Air Putih

Penelitian ini melibatkan hampir 12.000 anak berusia sembilan hingga 10 tahun. Data diperoleh dari Adolescent Brain Cognitive Development Study, proyek nasional jangka panjang yang didanai National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat.

Tim peneliti memetakan 649 variabel yang terbagi dalam 12 kategori. Faktor-faktor yang dianalisis mencakup waktu penggunaan layar, pola tidur, kondisi kesehatan, pola asuh, hingga penggunaan zat adiktif.

Baca juga :
Awas! Konsumsi Gula Berlebih Picu Penurunan Fungsi Otak

Penulis senior studi, Nico U. Dosenbach, mengatakan penelitian ini menjadi yang pertama membandingkan ratusan faktor perkembangan otak dalam skala besar secara setara. Menurutnya, kondisi sosial ekonomi meninggalkan jejak paling kuat dibandingkan faktor lain yang diteliti.

Salah satu temuan paling menonjol adalah kuatnya pengaruh lingkungan tempat tinggal anak. Pendapatan keluarga, kepemilikan rumah, tingkat kemiskinan di lingkungan sekitar, hingga akses transportasi menjadi faktor yang berkaitan erat dengan fungsi otak.

Dari 40 variabel yang paling terkait dengan fungsi otak, sebanyak 37 di antaranya merupakan faktor sosial ekonomi. Sementara itu, 35 dari 40 variabel yang paling terkait dengan struktur otak juga berasal dari kelompok faktor yang sama.

Penulis utama studi, Scott Marek, menyebut temuan tersebut sebagai "gajah di dalam otak" karena pengaruhnya yang sangat besar. Ia mengaku tidak menyangka faktor sosial ekonomi dapat mengungguli seluruh variabel lain dengan selisih yang begitu jauh.

Penelitian ini juga menemukan bahwa area otak yang paling dipengaruhi kondisi sosial ekonomi merupakan wilayah yang sensitif terhadap kurang tidur dan stres. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan yang terlihat bukanlah soal kemampuan intelektual, melainkan dampak kelelahan dan tekanan psikologis.

Menurut Dosenbach, otak anak dari keluarga kurang mampu tampak mirip dengan otak anak dari keluarga sejahtera yang mengalami kurang tidur dan stres berkepanjangan. Dengan kata lain, perbedaannya bukan pada tingkat kecerdasan, melainkan pada kondisi fisik dan mental yang sedang terbebani.

Para peneliti menilai kondisi sosial ekonomi memengaruhi otak secara tidak langsung melalui gangguan tidur dan stres yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya dianggap sebagai faktor yang masih dapat diperbaiki melalui berbagai intervensi dan dukungan.

Menariknya, pengaruh sosial ekonomi terutama ditemukan pada area otak yang berhubungan dengan fungsi sensorik dan motorik. Sebaliknya, wilayah otak yang berkaitan dengan penalaran dan pemecahan masalah relatif tidak banyak terpengaruh.

Hubungan antara kondisi sosial ekonomi dan perkembangan otak juga ditemukan konsisten pada berbagai kelompok ras dan jenis kelamin. Faktor demografi tersebut tidak menjelaskan hubungan yang ditemukan dalam penelitian ini.

Tim peneliti kemudian menguji kembali teori lama yang mengaitkan IQ dengan struktur otak. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar hubungan antara IQ dan karakteristik otak menghilang setelah faktor sosial ekonomi diperhitungkan.

Sekitar 70 persen hubungan statistik antara IQ dan struktur otak tidak lagi signifikan setelah penyesuaian dilakukan. Temuan ini mengindikasikan bahwa banyak penelitian sebelumnya kemungkinan sebenarnya menangkap dampak lingkungan sosial ekonomi, bukan kecerdasan itu sendiri.

Dalam analisis lanjutan yang hanya melibatkan anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi tinggi, IQ tidak menunjukkan hubungan dengan struktur maupun fungsi otak. Temuan tersebut semakin memperkuat peran lingkungan dalam membentuk perkembangan otak anak.

Menurut Marek, pemindaian otak dapat menunjukkan kondisi sosial ekonomi keluarga, pola tidur, hingga penggunaan layar anak. Namun, setelah pengaruh sosial ekonomi diperhitungkan, pemindaian tersebut tidak mampu memprediksi tingkat IQ seseorang.

Para peneliti menyimpulkan bahwa lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk kondisi otak anak dan selama ini sering disalahartikan sebagai cerminan kecerdasan. Karena faktor seperti stres dan kurang tidur dapat diperbaiki, mereka menilai masih ada peluang besar untuk meningkatkan kesehatan otak anak melalui kebijakan dan dukungan sosial yang tepat. (*)

Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi, Science. Sumber: Earth

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Kondisi Sosial-Ekonomi Perkembangan Otak Anak Fungsi Otak

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777