https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Studi: Risiko DBD di California Meningkat akibat Pemanasan Suhu

Agus Mughni | Sabtu, 13/06/2026 14:15 WIB



para peneliti memperingatkan bahwa semakin banyak wilayah di California yang kini cocok bagi virus dengue dan nyamuk pembawanya Ilustrasi nyamuk penyebab DBD (Foto: RRI)

Jakarta, Jurnas.com - Demam berdarah dengue (DBD) yang selama puluhan tahun dianggap sebagai penyakit khas wilayah tropis dan subtropis kini mulai menjadi ancaman di California, Amerika Serikat. Sebuah studi terbaru menunjukkan kenaikan suhu akibat perubahan iklim menciptakan kondisi yang semakin mendukung penyebaran virus tersebut.

Meski penularan lokal masih tergolong jarang, para peneliti memperingatkan bahwa semakin banyak wilayah di California yang kini cocok bagi virus dengue dan nyamuk pembawanya. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko penyebaran penyakit dalam beberapa tahun mendatang.

Dikutip dari Earth, dengue merupakan salah satu masalah kesehatan global terbesar saat ini. Virus tersebut ditemukan di lebih dari 125 negara dan menginfeksi ratusan juta orang setiap tahun.

Baca juga :
Kasus DBD Melonjak, Gus Muhaimin: Warning untuk Kita Semua

Penyakit ini ditularkan terutama melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang banyak hidup di kawasan perkotaan dan lebih sering menggigit manusia. Virus dengue memiliki empat serotipe berbeda sehingga seseorang yang pernah sembuh masih dapat terinfeksi kembali oleh tipe lain.

Penulis utama studi dari University of California Berkeley, Lisa I. Couper, mengatakan California kemungkinan memasuki fase baru ketika dengue tidak lagi menjadi kasus langka. Menurutnya, penyakit tersebut dapat menimbulkan gejala berat dan berpotensi mematikan.

Baca juga :
Ketua DPD Minta Warga Jatim Waspada Lonjakan Kasus Demam Berdarah

"Kasus ringan saja bisa menyebabkan demam tinggi, nyeri sendi, nyeri otot, dan kelelahan ekstrem. Pada kasus yang lebih berat, pasien dapat mengalami muntah, pendarahan, dan harus beristirahat selama berminggu-minggu," kata Couper.

Otoritas kesehatan California pertama kali mendeteksi nyamuk Aedes aegypti pada 2013. Dalam waktu sekitar satu dekade, spesies tersebut telah menyebar ke lebih dari separuh wilayah county di negara bagian itu.

Baca juga :
Ahmad Iman Ajak Warga Jakarta Bersatu Perangi DBD

Titik balik terjadi pada 2023 ketika kasus dengue yang ditularkan secara lokal pertama kali ditemukan di Pasadena. Para pasien diketahui tidak memiliki riwayat perjalanan ke daerah endemis dengue, sehingga penularan dipastikan terjadi di California.

Hingga saat ini dengue belum dikategorikan sebagai penyakit endemik di California. Tercatat baru sekitar 20 kasus penularan lokal yang berhasil didokumentasikan.

Sebagian besar kasus masih berasal dari pelancong yang kembali dari negara-negara dengan tingkat penularan tinggi. Namun para peneliti menilai pola tersebut dapat berubah seiring meningkatnya suhu global.

Penulis senior studi, Andy MacDonald dari University of California Santa Barbara, mengaku terkejut dengan hasil pemodelan yang menunjukkan tingkat risiko saat ini. Menurutnya, potensi penyebaran dengue di California ternyata lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

Tim peneliti menganalisis kemungkinan penyebaran dengue berdasarkan kondisi iklim saat ini dan proyeksi masa depan. Model tersebut mempertimbangkan keberadaan nyamuk Aedes aegypti, masuknya virus melalui pelancong, serta suhu yang cukup hangat untuk mendukung reproduksi virus.

Hasil penelitian menunjukkan sebagian wilayah California Selatan dan Central Valley telah memiliki kondisi yang mendukung penularan. Sekitar 18,2 juta penduduk atau 46 persen populasi California saat ini tinggal di area yang berisiko mengalami penularan lokal.

Para peneliti memperkirakan lebih dari empat juta orang tambahan dapat tinggal di wilayah berisiko pada masa mendatang. Risiko penularan juga diprediksi meluas secara geografis dan berlangsung lebih lama setiap tahunnya.

Menurut Couper, suhu memegang peranan penting dalam siklus penularan dengue. Setelah menggigit orang yang terinfeksi, nyamuk membutuhkan waktu sebelum virus berkembang dan dapat ditularkan ke orang lain.

Selama ini banyak wilayah California terlalu dingin untuk mendukung proses tersebut secara efisien. Namun pemanasan iklim membuat suhu di negara bagian itu semakin mendekati kisaran optimal bagi reproduksi virus dengue, yakni sekitar 29 derajat Celsius.

Peneliti juga mengingatkan bahwa risiko yang ada kemungkinan masih lebih rendah dari kondisi sebenarnya. Pertumbuhan penduduk yang pesat di Central Valley dan pola perjalanan internasional dapat meningkatkan peluang masuknya virus ke wilayah tersebut.

Meski demikian, para ahli belum meminta masyarakat untuk panik. Saat ini risiko terbesar masih berasal dari perjalanan ke negara-negara endemis dengue dibandingkan penularan lokal.

Warga dianjurkan mengurangi genangan air di sekitar rumah, mengenakan pakaian berlengan panjang, dan menggunakan losion antinyamuk yang mengandung DEET. Langkah-langkah tersebut dinilai efektif untuk menekan risiko gigitan nyamuk pembawa penyakit.

Para peneliti juga mengingatkan bahwa Aedes aegypti tidak hanya menyebarkan dengue. Nyamuk yang sama juga dapat menularkan virus chikungunya dan Zika yang berpotensi meningkat seiring perubahan iklim.

Temuan tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah The Lancet Regional Health – Americas. Studi itu memperkuat kekhawatiran bahwa perubahan iklim dapat memperluas penyebaran penyakit yang ditularkan melalui vektor ke wilayah yang sebelumnya dianggap relatif aman. (*)

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Demam Berdarah Dengue California Amerika Serikat Pemanasan Suhu Risiko DBD

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777