Sabtu, 04/04/2026 13:05 WIB

Lansia Melonjak di China, Panti Jompo Minim Peminat





Salah satu penyebabnya ialah harga perawatan yang tidak terjangkau oleh para keluarga lansia. Di salah satu panti jompo yang berlokasi Heyuejia di antaranya, biayanya mencapai 10.000 yuan atau Rp21 juta per bulan.

Pemandangan lansia di China (Foto: Reuters)

Beijing, Jurnas.com - Lonjakan populasi warga lanjut usia (lansia) di China menimbulkan polemik baru. Fasilitas panti jomo, yang diharapkan dapat menampung para lansia, malah minim peminat.

Salah satu penyebabnya ialah harga perawatan yang tidak terjangkau oleh para keluarga lansia. Di salah satu panti jompo yang berlokasi Heyuejia di antaranya, biayanya mencapai 10.000 yuan atau Rp21 juta per bulan.

Sebagaimana diketahui, di China saat ini tercatat ada 264 juta warga berusia 60 tahun ke atas. Jumlah ini masih meningkat pesat seiring dengan menyusutnya populasi pekerja.

HNA Investment Group membuka Heyuejia pada 2016 silam, sebagai bagian dari upaya menanggapi krisis penuaan di China.

Dibantu oleh subsidi pemerintah, lebih dari 40.000 rumah telah dibangun di lokasi ini dalam beberapa dekade terakhir. Tetapi kerap dikeluhkan karena biaya yang terlalu mahal dan kualitas yang terlalu rendah.

Beberapa panti jompo memiliki daftar tunggu yang panjang. Sementara sebagian besar lainnya cukup kosong. Tingkat hunian rata-rata paling rendah 50 persen menurut data resmi. Angka ini jauh lebih rendah dari pada tingkat hunian di Jepang atau Inggris yang mencapai 80-90 persen.

Wang Yiguang (85) pensiunan ilmuwan yang pindah ke Heyuejia pada 2018 silam, menyukai panti jompo dan mampu membelinya dengan nyaman.

"Di sini Anda memiliki seseorang untuk membantu Anda kapan saja, dan ada dokter untuk melihat apakah Anda perlu pergi ke rumah sakit," kata Wang dikutip dari Reuters pada Jumat (9/7).

Salah satu putranya, yang tinggal di Amerika Serikat (AS), menolak pindah. Berdasarkan pengalamannya, lansia AS yang tinggal di panti jompo sering kali lamban dan mudah tersinggung. Tetapi sang putra akhirnya datang ketika dia melihat betapa bahagianya Wang di panti jompo.

Bei Wu, profesor di Universitas New York yang telah meneliti penuaan di China sejak 1980-an, mengatakan biaya tinggi dan staf yang buruk menjadi alasan para lansia enggan ke panti jompo.

Padahal satu dekade lalu, China berencana melatih 6 juta pengasuh (caregiver) pada tahun 2020. Hanya 300.000 yang memenuhi syarat pada tahun 2017. Dan yang terbaru ada 2 juta calon caregiver yang dilatih untuk tahun 2022.

Sampai saat ini hampir semua lansia dirawat oleh anggota keluarga, kata Wu. Tetapi menyusutnya keluarga, migrasi, dan penurunan rasa kewajiban berbakti menyusutkan sistem dukungan keluarga.

Yang Wei, seorang insinyur dari provinsi Hebei utara, mengatakan bahwa kakeknya yang hampir berusia 90 tahun, ingin mencoba panti jompo untuk mengurangi stres pada keluarganya.

Dia pindah ke salah satu panti jompo berbiaya 4.000 yuan per bulan. Tetapi staf tampaknya tidak peduli dengan kesejahteraan penguhi.

"Stafnya tidak profesional. Dan tidak cukup," kata Yang. "Bahkan jika Anda menghabiskan lebih banyak uang, masih sulit bagi orang tua untuk menikmati perawatan yang baik di panti jompo, dan keluarga tidak dapat sepenuhnya merasa nyaman. Jadi kami membawa kakek pulang," ungkap Yang.

KEYWORD :

Panti Jompo Lansia China




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :