Kamis, 08/10/2026 16:25 WIB

Asap Kiriman, Kualitas Udara Singapura Kembali Memburuk





Indeks Standar Pencemar Udara (PSI) sempat menyentuh level tertinggi di angka 160 di wilayah barat pada pukul 10.00 pagi.

Penampakan kabut asap di Singapura imbas kebakaran hutan di Indonesia (Foto: CNA)

Singapura, Jurnas.com - Kualitas udara di lima wilayah Singapura bertahan dalam rentang tidak sehat pada Kamis (8/10), imbas asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Indeks Standar Pencemar Udara (PSI) sempat menyentuh level tertinggi di angka 160 di wilayah barat pada pukul 10.00 pagi. Pembacaan PSI 24 jam tersebut tercatat mulai memasuki rentang tidak sehat sejak Rabu siang dan bertahan sepanjang malam hingga Kamis pagi.

Hingga pukul 13.00 siang, pembacaan PSI 24 jam berada di angka 154 untuk wilayah barat, 140 di wilayah tengah, 118 di wilayah timur, 109 di wilayah utara, dan 108 di wilayah selatan, dikutip dari CNA.

Selain itu, angka konsentrasi PM2.5 1 jam di wilayah timur dan selatan turut melonjak masuk ke kategori tinggi pada pukul 13.00 siang, menyusul wilayah tengah dan barat yang telah berada di kategori tersebut.

Sehari sebelumnya, pada Rabu pukul 16.00 sore, angka PM2.5 1 jam di wilayah barat sempat melesat ke level 152 yang masuk ke kategori sangat tinggi untuk pertama kalinya pada musim kabut asap kali ini, sebelum kembali turun ke kategori tinggi satu jam setelahnya.

Dalam pembaruan resminya pada Kamis pagi, Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (NEA) mengungkapkan bahwa kabut asap lintas batas dengan intensitas sedang menyelimuti sebagian wilayah Singapura, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Sarawak, serta area tengah dan selatan Sumatra.

Gumpalan asap tebal terpantau berasal dari klaster titik panas yang terdeteksi di sebagian besar wilayah Kalimantan serta kawasan tengah dan selatan Sumatra. Meskipun titik panas tersebar di Kalimantan dan Sumatra, hanya sedikit titik panas yang teramati di bagian lain kawasan selatan ASEAN. Kendati demikian, tingkat keparahan situasi belum dapat dipastikan secara menyeluruh akibat tebalnya kabut asap dan tutupan awan.

Kondisi cuaca kering diperkirakan masih akan berlanjut di sebagian besar wilayah selatan ASEAN, kecuali area utara Kalimantan serta sebagian Sumatra dan Semenanjung Malaysia yang diprakirakan mengalami hujan.

"Situasi titik panas dan kabut asap dapat membaik di wilayah yang mengalami hujan, tetapi akan tetap tinggi di daerah yang mengalami periode kering berkepanjangan, disertai risiko kemunculan kabut asap lintas batas yang terus berlanjut," ungkap NEA.

Menghadapi kondisi udara tersebut, NEA mengimbau masyarakat untuk merujuk pada prakiraan PSI 24 jam serta panduan kesehatan resmi saat merencanakan aktivitas luar ruangan.

Ketika pembacaan PM2.5 1 jam berada di kategori tinggi, warga yang sehat disarankan mengurangi aktivitas berat di luar ruangan untuk satu jam ke depan. Sementara itu, kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, serta penderita penyakit jantung atau paru-paru kronis diimbau untuk sepenuhnya menghindari aktivitas berat di luar ruangan.

KEYWORD :

Kabut Asap Kualitas Udara Singapura Karhutla Kalimantan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :