Rabu, 07/10/2026 09:42 WIB

CDC Pantau Dugaan Pes Pneumonik di Rusia, Satu Orang Meninggal





CDC mengetahui dan terus memantau laporan dugaan kasus pes pneumonik di wilayah Irkutsk, Rusia, yang mengakibatkan kematian

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (Foto: Anadolu)

Jakarta, Jurnas.com - Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memantau laporan dugaan kasus pes pneumonik di wilayah Irkutsk, Rusia, setelah seorang warga dilaporkan meninggal dunia.

Namun, CDC menegaskan kondisi kasus tersebut masih belum terkonfirmasi dan sejauh ini tidak ada indikasi ancaman yang lebih luas terhadap Amerika Serikat.

“CDC mengetahui dan terus memantau laporan dugaan kasus pes pneumonik di wilayah Irkutsk, Rusia, yang mengakibatkan kematian,” kata CDC dalam unggahan di platform media sosial X, Selasa (6/10).

CDC menyatakan tengah bekerja bersama sejumlah lembaga pemerintah AS untuk menilai perkembangan kasus tersebut sembari menunggu informasi tambahan. Badan yang bermarkas di Atlanta itu juga menegaskan bahwa kondisi dan penyebab kematian dalam laporan tersebut masih belum dikonfirmasi.

Pes merupakan penyakit bakteri serius yang dapat diobati menggunakan antibiotik, terutama jika penyakit dikenali dan ditangani sejak dini. CDC menjelaskan, jenis pes pneumonik dapat menular dari orang ke orang melalui droplet pernapasan saat terjadi kontak dekat.

Karena itu, CDC menilai identifikasi dan pengobatan pasien yang terinfeksi secara cepat, disertai pemantauan terhadap orang yang kemungkinan terpapar, menjadi langkah penting dalam penanganan kesehatan masyarakat.

Meski terus mengikuti perkembangan di Rusia, CDC menyebut saat ini tidak ada indikasi ancaman yang lebih luas terhadap AS. Lembaga tersebut bersama mitra antarlembaga juga menyatakan siap merespons perkembangan apabila informasi baru menunjukkan perubahan situasi.

Di tengah pemantauan tersebut, pemerintah AS juga meminta Rusia memberikan informasi lebih lengkap mengenai kematian seorang pekerja di sebuah lembaga penelitian pes di Siberia. The Wall Street Journal melaporkan, mengutip pejabat AS, bahwa Washington telah memperingatkan Moskow bahwa penahanan informasi terkait kematian tersebut tidak sejalan dengan kewajiban kesehatan internasional.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, saat berbicara di Islandia, mengatakan informasi yang disampaikan Moskow masih sangat terbatas. Ia juga mendorong transparansi lebih besar terkait kasus tersebut.

Menurut laporan itu, otoritas Rusia sejauh ini hanya menyatakan bahwa seorang perempuan yang oleh media lokal diidentifikasi sebagai Daria Shipilova meninggal akibat pneumonia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan risiko penyebaran penyakit tersebut ke luar Rusia saat ini “sangat rendah”.

Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington dapat memberikan bantuan, sementara badan pengawas konsumen Rusia menyatakan kesediaannya membantu AS menangani wabah campak yang terjadi di negara tersebut.

Perkembangan kasus itu juga mendorong Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warga negaranya. Kedutaan Besar AS menyatakan mengetahui laporan media mengenai dugaan pes pneumonik yang menyebabkan kematian di wilayah Irkutsk, termasuk laporan mengenai langkah karantina dan penutupan rumah sakit di daerah tersebut.

Pemerintah AS mengatakan terus mengikuti situasi secara dekat. Namun, dalam peringatannya, Departemen Luar Negeri mengingatkan bahwa kemampuan pemerintah AS untuk membantu warga negaranya di Rusia terbatas, terutama bagi mereka yang berada di luar Moskow.

Departemen Luar Negeri AS juga mendesak warga negaranya untuk segera meninggalkan Rusia. Warga AS yang berencana bepergian ke Rusia kembali diminta untuk tidak melakukan perjalanan karena risiko penahanan yang tidak semestinya serta persoalan keamanan.

KEYWORD :

CDC AS Pes Pneumonik Irkutsk Rusia AmerikaSerikat




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :