Senin, 14/09/2026 15:09 WIB

Kualitas Udara Singapura Memburuk Imbas Karhutla Indonesia





Kualitas udara di wilayah pusat Singapura kembali memburuk hingga masuk ke kategori tidak sehat pada Senin (14/9/2026).

Kabut asap di Singapura (Foto: Straits Times)

Singapura, Jurnas.com - Kualitas udara di wilayah pusat Singapura kembali memburuk hingga masuk ke kategori tidak sehat pada Senin (14/9/2026).

Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (National Environment Agency/NEA) mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (PSI) 24 jam mencapai angka 102 pada siang hari.

Berdasarkan data resmi NEA hingga pukul 12.00 waktu setempat, indeks PSI di wilayah timur dan barat berada di angka 91, wilayah selatan 82, serta wilayah utara mencatatkan angka 79.

Kondisi ini memperpanjang periode kabut asap tahunan yang sempat menembus angka 101 pada 4 September lalu. Kendati sempat membaik ke rentang moderat sejak 11 September, pergerakan angin kembali membawa kumpulan asap pekat menuju wilayah Singapura.

"Dengan angin dominan yang bertiup dari arah tenggara atau selatan, risiko kabut asap yang mempengaruhi Singapura masih tetap ada," demikian pernyataan resmi NEA yang dikutip dari Straits Times.

NEA mengonfirmasi bahwa sebaran asap pekat dan sedang terpantau berasal dari titik-titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan yang terdeteksi bergerak mendekati daratan Singapura.

Selain Kalimantan, titik asap juga terdeteksi di wilayah selatan Sumatra. Meskipun hujan diprakirakan turun di Sumatra bagian utara dan Borneo bagian barat laut, cuaca kering diperkirakan masih akan bertahan di Kalimantan serta Sumatra bagian tengah dan selatan dalam beberapa hari ke depan.

Sebagai informasi, parameter kualitas udara dianggap tidak sehat apabila nilai PSI berada di rentang 101 hingga 200. Dalam kondisi ini, otoritas kesehatan Singapura mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan demi meminimalkan risiko gangguan pernapasan.

KEYWORD :

Kabut Asap Singapura Karhutla Kalimantan Asap Kebakaran Hutan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :