Jum'at, 11/09/2026 19:24 WIB

Gunung Puntang dan Radio Malabar, Jejak Awal Teknologi Radio di Indonesia





Teknologi yang digunakan Radio Malabar tergolong revolusioner pada masanya. Antena sepanjang sekitar dua kilometer dibentangkan di antara Gunung Puntang-Halimun

Stasiun radio Malabar yang berlokasi di kawasan Gunung Puntang, Pegunungan Malabar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Foto: Direktorat Jenderal Infrastrutur Digital)

Jakarta, Jurnas.com - Gunung Puntang di Pegunungan Malabar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menyimpan salah satu jejak penting dalam sejarah perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia. Di kawasan ini pernah berdiri Radio Malabar, proyek komunikasi nirkabel jarak jauh yang menghubungkan Bandung di Asia dengan Amsterdam di Eropa sejak 1923.

Sejarah Radio Malabar bermula dari pembangunan stasiun radio yang dirancang oleh insinyur Belanda, Cornelis Johannes de Groot. Berdasarkan siaran pers Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas I Bandung pada 29 Juli 2020 yang dikutip Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital, pembangunan stasiun tersebut telah dimulai sejak 1916.

Teknologi yang digunakan Radio Malabar tergolong revolusioner pada masanya. Antena sepanjang sekitar dua kilometer dibentangkan di antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun dengan ketinggian rata-rata 350 meter dari dasar lembah.

Pancaran radio itu diarahkan ke Belanda yang berjarak sekitar 12.000 kilometer. Proyek tersebut sekaligus menempatkan Hindia Belanda dalam perkembangan teknologi komunikasi jarak jauh pada masa itu.

Namun, Radio Malabar perlu dibedakan dari radio siaran yang dikenal masyarakat saat ini. Stasiun di Gunung Puntang tersebut merupakan radio komunikasi atau telekomunikasi, bukan radio siaran untuk publik.

Jejak sejarah Radio Malabar kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan napak tilas yang digelar Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas I Bandung bersama Dinas Kominfotik Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Bandung pada 27 Juli 2020. Kegiatan itu menjadi bagian dari edukasi mengenai sejarah telekomunikasi.

Jika Radio Malabar menjadi tonggak komunikasi nirkabel jarak jauh, perkembangan radio siaran di Indonesia memiliki jalur sejarah yang berbeda.

Dikutip dari laman Komdigi, banyak sejarawan merujuk pada berdirinya Bataviasche Radio Vereeniging pada 1925 sebagai awal radio siaran di Indonesia. Radio swasta milik Belanda tersebut dianggap sebagai stasiun radio siaran pertama yang mengudara di Indonesia.

Masyarakat pribumi kemudian mulai mengenal siaran radio pada 1927. Salah satu momentum penting terjadi ketika Mangkunegara VII menerima sebuah pesawat radio penerima atau receiver dari seorang Belanda.

Perangkat tersebut kemudian diserahkan kepada RM Ir. Sarsito Mangunkusumo. Pada 31 Maret 1927, Mangkunegara VII bersama permaisurinya mendengarkan siaran langsung pidato Ratu Wilhelmina dari Eindhoven, Belanda.

Pada masa itu, radio atau yang dikenal sebagai radio toestel dipandang sebagai benda yang hampir ajaib. Teknologinya masih baru, sementara kualitas suara yang diterima belum jernih.

Perkembangan radio di Indonesia kemudian berjalan dalam dua arus besar. Di satu sisi terdapat jaringan radio Belanda yang membawa orientasi budaya Barat, sementara di sisi lain muncul Radio Ketimuran yang digagas dan dikelola pribumi dengan perhatian lebih besar terhadap budaya tradisional.

Pada awal 1930-an, stasiun radio Belanda berkembang pesat di berbagai kota. Perkembangan tersebut mencapai salah satu titik penting dengan berdirinya Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM) pada 1934 sebagai jaringan penyiaran kolonial resmi.

Di tengah dominasi tersebut, Mangkunegara VII melihat radio sebagai medium yang memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat. Terlebih ketika musik Barat mulai mendominasi pasar piringan hitam.

Ia kemudian menginisiasi siaran gamelan Jawa melalui radio amatir dengan call sign PK2MN, yang juga dikenal sebagai Perkumpulan Karawitan Kring Mangkoenegaran.

Langkah berikutnya menjadi lebih terorganisasi dengan berdirinya Solosche Radio Vereeniging (SRV) pada 1 April 1933 di Solo. SRV menjadi salah satu tonggak penting perkembangan sistem penyiaran profesional yang dikelola pribumi.

Jaringan Radio Ketimuran selanjutnya berkembang ke sejumlah kota, termasuk Semarang, Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Pada 28 Maret 1937, jaringan tersebut membentuk Perikatan Perkumpulan Radio Ketimuran (PPRK) sebagai asosiasi nasional pertama.

PPRK kemudian bekerja sama secara politik dan ekonomi dengan NIROM pada 1940. Namun, orientasi kontennya tetap berbeda karena Radio Ketimuran mempertahankan perhatian terhadap kesenian dan kebudayaan timur sebagai bagian dari identitas masyarakat.

Perkembangan radio akhirnya tidak lagi sebatas persoalan teknologi, hiburan, atau penyebaran informasi. Medium suara tersebut juga berkembang menjadi ruang untuk mempertahankan identitas budaya.

Sejarawan Hari Wiryawan menyebut fenomena tersebut sebagai “perlawanan budaya”, yakni upaya kalangan penyiaran Indonesia menghadapi dominasi budaya Barat melalui konten yang disiarkan.

NIROM digunakan Belanda untuk memperkuat pengaruh kolonial melalui budaya Barat. Sebaliknya, Radio Ketimuran menonjolkan seni tradisional dan nilai kebangsaan sehingga radio ikut menjadi medium untuk memperkuat solidaritas masyarakat Nusantara.

Ketika Jepang menduduki Indonesia, NIROM diambil alih dan diubah menjadi Hoso Kanri Kyoku (HKK). Pada fase ini, bentuk perlawanan melalui radio kemudian berkembang dari persoalan budaya menuju perjuangan politik dan militer.

Puncak perjalanan sejarah penyiaran nasional terjadi pada 11 September 1945 dengan berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI).

RRI menjadi simbol kedaulatan penyiaran nasional dan memainkan peran strategis selama perang kemerdekaan pada 1946–1949. Radio dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi perjuangan, penyebaran informasi, pembangunan moral rakyat, sekaligus untuk menggalang dukungan internasional.

Perjalanan tersebut memperlihatkan perubahan fungsi radio yang sangat besar. Teknologi komunikasi yang pada awalnya digunakan untuk menghubungkan Bandung dengan Amsterdam melalui Radio Malabar di kawasan Gunung Puntang kemudian berkembang menjadi medium penyiaran yang ikut mengiringi perjuangan identitas hingga lahirnya lembaga penyiaran nasional.

Sejarah radio Indonesia dengan demikian tidak hanya berbicara tentang perangkat dan gelombang suara. Dari Gunung Puntang, Radio Malabar menunjukkan kemampuan teknologi menghubungkan dua benua, sementara Radio Ketimuran dan kemudian RRI memperlihatkan bagaimana penyiaran dapat menjadi bagian dari pergulatan budaya, identitas, dan perjuangan bangsa.

Jejak tersebut menjadi bagian penting dari fondasi perkembangan penyiaran nasional hingga sekarang. Radio bukan sekadar medium suara, tetapi juga bagian dari sejarah perjalanan teknologi, kebudayaan, dan perjuangan Indonesia. (*)

Sumber: Sumber: Direktorat Jenderal Infrastrutur Digital, Komdigi

KEYWORD :

Gunung Puntang Radio Malabar Radio pertama di Indonesia Gunung Malabar Sejarah Penyiaran




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :