Ilustraasi Gajah Asia (Foto: Pexels: Quang Nguyen Vinh)
Jakarta, Jurnas.com - Enam belas gajah Asia di Thailand menunjukkan kemampuan yang jarang teridentifikasi pada spesiesnya, yakni menahan dorongan untuk mengulangi perilaku yang sebelumnya berhasil ketika cara tersebut sudah tidak efektif.
Temuan itu diperoleh melalui eksperimen pemecahan masalah yang dilakukan terhadap gajah di National Elephant Institute, Lampang, Thailand.
Dikutip dari Earth, para peneliti menemukan bahwa gajah-gajah tersebut mampu meninggalkan kebiasaan lama dan mencari cara baru untuk mendapatkan makanan ketika posisi pintu sebuah kotak transparan diubah.
Penelitian ini dipimpin psikolog Joshua Plotnik dari Hunter College dan CUNY Graduate Center bersama peneliti pascadoktoral Sydney Hope. Para penulis menyebut hasil tersebut sebagai bukti pertama kemampuan pengendalian diri pada gajah Asia dalam jenis pengujian seperti ini.
Dalam konteks kognisi, kemampuan menekan dorongan atau respons yang sudah terbentuk berkaitan dengan pengendalian diri, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah.
“Kami menemukan bahwa ketika gajah menghadapi situasi yang mengharuskan mereka menekan perilaku impulsif, mereka secara umum mampu menekan dorongan tersebut,” kata Hope.
Eksperimen menggunakan kubus akrilik berukuran 40 sentimeter yang dipasang pada pohon setinggi mata gajah. Salah satu sisinya terbuka dan di dalamnya ditempatkan potongan nanas, setengah apel, atau pisang kecil.
Para peneliti menggunakan dua jenis kotak. Kotak pertama dicat hitam, sedangkan kotak kedua transparan dan memiliki lima lubang berdiameter sekitar 2 sentimeter di bagian depan sehingga aroma makanan dapat tercium oleh gajah.
Pada tahap awal, setiap gajah belajar mengambil makanan dari kotak hitam dengan mengarahkan belalainya dari bagian samping, atas, atau bawah kotak menuju celah yang tersedia.
Setelah itu, kotak transparan ditempatkan di posisi yang sama. Para peneliti memperkirakan keberadaan dinding transparan dan makanan yang terlihat di baliknya akan membuat gajah lebih sulit menahan dorongan untuk meraih makanan secara langsung.
Namun, dugaan tersebut tidak terbukti. Gajah tetap dapat mengarahkan belalainya mengitari kotak transparan dengan kecepatan yang kurang lebih sama seperti ketika menghadapi kotak hitam. Setiap gajah juga berhasil memasukkan belalainya ke celah kotak dalam waktu kurang dari semenit.
Pada percobaan pertama dengan kotak transparan, gajah memang mempertahankan belalainya di dalam kotak sedikit lebih lama sebelum menarik makanan, sekitar 8,5 detik dibandingkan enam detik pada kondisi sebelumnya.
Para peneliti menilai respons tersebut kemungkinan menunjukkan bahwa gajah memperhatikan permukaan baru dan mengeksplorasinya, bukan semata-mata tergoda oleh makanan yang terlihat.
Ujian yang lebih penting dilakukan ketika posisi kotak transparan diubah. Celah tempat gajah dapat memasukkan belalainya dipindahkan ke sisi kiri atau kanan, kemudian ke bagian atas dan bawah. Setiap empat percobaan, posisi bukaan kembali diubah.
Setiap kali posisi pintu berpindah, gajah awalnya mendatangi lokasi yang sebelumnya menjadi tempat masuk. Waktu yang dibutuhkan untuk menemukan bukaan baru meningkat dari sekitar dua detik menjadi sekitar delapan detik.
Menurut peneliti, jeda tersebut menunjukkan bahwa gajah pada awalnya kembali menggunakan respons yang telah dipelajari sebelumnya. Justru di situlah kemampuan pengendalian respons atau inhibitory control dapat diamati.
Setelah itu, gajah meninggalkan respons lama dan mulai menggunakan cara baru. Dalam empat percobaan pada setiap posisi bukaan, waktu yang mereka butuhkan kembali menurun.
Pada sesi terakhir, ketika posisi bukaan berubah pada setiap percobaan, rata-rata waktu pencarian berada di sekitar 4,5 detik dan tidak lagi menunjukkan percepatan berarti.
Gajah juga tidak tampak mampu langsung menemukan bukaan hanya dengan mengandalkan penciuman dari jarak jauh. Dari 208 percobaan setelah kotak diputar, gajah hanya delapan kali langsung menuju sisi yang memiliki bukaan.
“Secara umum, gajah menggunakan belalainya untuk mencari bukaan dengan cepat, dengan menyentuh berbagai sisi kotak hingga menemukan sisi yang terbuka,” kata Hope.
Usia ternyata berpengaruh pada kemampuan gajah untuk meninggalkan respons lama, tetapi tidak pada eksperimen dengan kotak transparan.
Semakin tua gajah, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk berhenti menuju posisi bukaan sebelumnya dan menemukan posisi baru. Hasil tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan kecepatan gerakan belalai masing-masing gajah pada percobaan sebelumnya.
Namun, peneliti menekankan bahwa hasil tersebut belum cukup untuk menyimpulkan adanya penurunan kemampuan kognitif akibat usia. Jumlah sampel penelitian relatif kecil dan lebih banyak terdiri atas gajah muda.
Hope juga membedakan antara lambat beradaptasi dan benar-benar tidak mau mengubah perilaku.
“Jika seekor gajah benar-benar ‘terbiasa dengan caranya sendiri’, saya akan menafsirkan bahwa mereka tetap ingin melakukan suatu perilaku meskipun tidak pernah mendapatkan hadiah. Hal itu tidak pernah terjadi dalam penelitian kami,” kata Hope.
Menurut dia, seluruh gajah tetap termotivasi mendapatkan makanan. Yang terlihat pada gajah lebih tua adalah mereka sedikit lebih lambat menekan dorongan untuk kembali menuju sisi yang sebelumnya digunakan.
Tidak ditemukan perbedaan kinerja antara gajah jantan dan betina. Peneliti sebelumnya memperkirakan betina mungkin akan lebih unggul karena hidup dalam kelompok keluarga yang erat, tetapi hasil eksperimen tidak menunjukkan perbedaan tersebut.
Penelitian tersebut juga memiliki kaitan dengan persoalan konflik antara manusia dan gajah Asia, terutama ketika gajah memasuki lahan pertanian.
Plotnik telah mempelajari kemampuan kognitif gajah di Thailand selama hampir dua dekade. Penelitiannya mencakup kemampuan gajah mengenali diri di cermin, memberikan respons terhadap individu lain yang mengalami tekanan, hingga berkoordinasi dengan pasangan.
Dalam konteks pagar pembatas lahan pertanian, kemampuan menahan dorongan dapat membantu gajah mencari jalan alternatif ketika jalur langsung menuju tanaman terhalang.
Hope memberikan contoh pagar listrik. Menurut dia, gajah perlu menekan dorongan untuk langsung menuju tanaman dan mencari jalan lain, misalnya memutari pagar atau merobohkan bagian yang tidak menghantarkan listrik seperti tiang kayu.
Pemahaman mengenai cara gajah berpikir dan mengambil keputusan dapat membantu merancang strategi untuk mengurangi konflik antara manusia dan gajah.
“Semakin kita memahami bagaimana gajah berpikir, mengambil keputusan mengenai risiko, dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia, semakin baik kita dapat memprediksi apa yang akan mereka lakukan selanjutnya dan merancang strategi koeksistensi manusia-gajah,” kata Plotnik.
Meski memberikan bukti awal mengenai kemampuan pengendalian diri, penelitian tersebut masih menyisakan pertanyaan.
Kotak transparan ternyata tidak membuat gajah lebih lambat mengambil makanan. Karena gajah sangat mengandalkan penciuman dan sentuhan, peneliti belum dapat memastikan apakah mereka benar-benar harus menahan dorongan karena melihat makanan atau sejak awal tidak mengalami dorongan tersebut.
Karena itu, penelitian lanjutan perlu menggunakan eksperimen yang lebih mengandalkan penciuman dan sentuhan.
Peneliti juga membutuhkan lebih banyak gajah berusia tua untuk mengetahui apakah perbedaan kecepatan dalam mengubah respons benar-benar berkaitan dengan penurunan kemampuan kognitif atau hanya variasi perilaku berdasarkan usia.
Studi mengenai kemampuan gajah Asia menahan respons tersebut telah diterbitkan dalam jurnal PLOS One. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Gajah Asia Strategi Menghadapi Masalah Kemampuan Gajah Keunikan Gajah



















