Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri (Foto: Reuters)
Beirut, Jurnas.com - Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, mengeluarkan peringatan keras pada Selasa (21/4) bahwa pasukan Israel yang menduduki sebagian wilayah selatan akan menghadapi perlawanan jika tidak menarik diri.
Peringatan ini menandakan risiko kembalinya konfrontasi menjelang perundingan yang dimediasi Amerika Serikat pada minggu ini, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Meskipun gencatan senjata selama 10 hari telah berlangsung sejak Kamis lalu, pasukan Israel tetap dikerahkan di area Lebanon hingga 5-10 km di sepanjang perbatasan. Israel menyatakan pengerahan ini bertujuan menciptakan zona penyangga untuk melindungi wilayah utaranya dari serangan Hizbullah, kelompok Syiah yang didukung Iran.
Nabih Berri, yang juga merupakan sekutu Hizbullah dan pemimpin Gerakan Amal, menegaskan kepada surat kabar Al-Joumhouria bahwa Lebanon tidak akan mentoleransi kehilangan satu meter pun tanahnya.
"Jika Israel mempertahankan pendudukannya, baik itu atas wilayah, posisi, atau dengan menarik garis kuning, mereka akan mencium aroma perlawanan setiap hari. Jika mereka bersikeras untuk tetap tinggal, mereka akan menghadapi perlawanan, dan sejarah kita menjadi saksi akan hal itu," kata Nabih.
Militer Israel dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pekan lalu merujuk garis penempatan pasukan mereka di Lebanon sebagai "Garis Kuning", istilah yang sama yang digunakan untuk pengerahan pasukan di Gaza.
Namun, para pejabat Israel belakangan beralih menyebutnya sebagai garis pertahanan depan yang ditandai dengan warna merah pada peta militer.
Di sisi lain, sumber kepresidenan Prancis menyatakan bahwa solusi permanen harus segera dicapai dan tidak boleh mencakup pembentukan zona penyangga permanen di Lebanon selatan. Zona tersebut dianggap tidak lagi diperlukan untuk keamanan Israel jika perdamaian abadi antara kedua negara berhasil diwujudkan.
Konflik di Lebanon juga memperumit upaya Pakistan dalam memediasi hubungan antara AS dan Iran. Teheran menuntut agar penghentian kampanye militer Israel terhadap Hizbollah dimasukkan dalam kesepakatan perang yang lebih luas.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa tujuan akhir dari operasi ini adalah pelucutan senjata Hizbullah.
"Jika pemerintah Lebanon terus tidak menepati komitmennya (untuk melucuti senjata Hizbullah), IDF akan melakukannya dengan melanjutkan aktivitas militer," ujar Katz di Tel Aviv.
Berbeda dengan Katz, Perdana Menteri Netanyahu menunjukkan nada yang lebih lunak dengan menyatakan bahwa pelucutan senjata Hizbullah tidak akan tercapai dalam waktu cepat, melainkan memerlukan upaya berkelanjutan, kesabaran, serta navigasi diplomatik yang bijaksana.
Perundingan tingkat duta besar antara Israel dan Lebanon yang dijadwalkan pada Kamis mendatang diharapkan dapat menjadi pembuka jalan bagi penarikan pasukan secara menyeluruh.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Perang Israel vs Lebanon Militer Hizbullah Konflik Timur Tengah




















