Mata Uang Euro. (Getty Images / Glowimages)
JAKARTA, Jurnas.com - Wakil Perdana Menteri Alexander Novak mengatakan pada Sabtu bahwa Rusia telah beralih ke mata uang nasional dalam perdagangan energi dengan mitra asing. Hal itu dia lontarkan dalam sebuah wawancara dengan saluran TV Russia-1.
Dia mengatakan, sebagian besar transaksi sudah dilakukan dalam mata uang ini, sebagian besar dalam yuan China dan rubel Rusia, dan di masa mendatang Moskow bermaksud untuk sama sekali meninggalkan euro dan dolar dalam ekspor energi.
"Tren telah banyak berubah menuju pengurangan penggunaan dolar dan euro. Mempertimbangkan masalah saat ini dengan mata uang ini, dalam penyelesaian kami, kami beralih hampir secara eksklusif ke mata uang nasional," kata dia.
Pernyataan itu merujuk pada pembatasan ekonomi yang diberlakukan di Rusia oleh negara-negara Barat karena konflik Ukraina, yang secara efektif membuat Rusia tidak mungkin melakukan transaksi dalam euro dan dolar.
"Mitra kami di China sudah membayar gas dalam yuan, serta sebagian untuk minyak. Mereka juga membayar dalam rubel. Kami akan terus meningkatkan penyelesaian bersama ini dalam mata uang nasional," tutur Novak.
Dia mengatakan bahwa untuk memenuhi permintaan yang kuat akan energi Rusia, diperlukan mekanisme penyelesaian yang hanya dapat dilakukan dalam mata uang nasional dalam keadaan saat ini.
Dalam wawancara sebelumnya dengan kantor berita TASS, Novak memperkirakan pangsa transaksi dalam mata uang nasional akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang.
Rusia secara signifikan meningkatkan penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan tahun lalu, beralih dari euro dan dolar dalam transaksi dengan mitra asing karena mata uang ini dianggap tidak dapat diandalkan karena sanksi.
Sumber: RT
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Dolar Euro Uni Eropa Rusia Perdagangan Energi






















