Selasa, 02/06/2026 01:31 WIB

Pengemis Bersapu di Jembatan Indramayu dan Mitos di Baliknya





Ada pemandangan yang cukup unik ketika pengendara menyusuri Jembatan Sewo di jalur pantura. Jembatan ini berdiri di atas sungai perbatasan Subang dan Indramayu

Pengemis bersapu di Jembatan Sewo, perbatasan Subang dan Indramayu (Foto: Diskominfo Indramayu)

Jakarta, Jurnas.com - Ada pemandangan yang cukup unik ketika pengendara menyusuri Jembatan Sewo di jalur pantura. Jembatan ini berdiri di atas sungai yang merupakan perbatasan antara Kabupaten Subang dan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Tak hanya pada musim mudik, di jembatan ini saban hari kerap terlihat belasan hingga puluhan orang berjejer sejak sebelum hingga sesudah jembatan. Mereka berbekal sapu untuk berebut uang receh dari pengguna jalan yang lewat.

Sapu yang digunakan pun cukup unik. Gagang bambu seperti sapu lidi pada umumnya, namun tersambung dengan semacam ranting pohon yang telah dikeringkan, agar lebih mudah mengambil koin atau uang kertas yang dilemparkan.

Tak jarang muncul keluhan dari pengendara, karena keberadaan para pengemis bersapu ini membuat jalur menyempit hingga mengakibatkan kemacetan. Namun, upaya apapun untuk menyudahi fenomena tersebut, tak pernah berujung mulus.

Masyarakat sekitar meyakini bahwa yang mereka lakukan merupakan salah satu dari tradisi yang berakar kuat selama puluhan tahun. Tradisi ini juga tak bisa dilepaskan dari legenda Saedah Saenih.

Kisahnya, konon dulu terdapat sebuah keluarga di Desa Karang Turi, Indramayu yang terdiri dari Ki Sarkawi dan istrinya Maimunah. Dari pernikahan pertamanya, Ki Sarkawi memiliki dua orag orang bernama Saedah dan Saenih.

Sayangnya, Maimunah yang berprofesi sebagai penari ronggeng, selalu berlaku kasar kepada kedua anak tirinya, terutama ketika Ki Sarkawi sedang pergi ke hutan.

Pada suatu hari, Saedah nekat memasak beras yang dilarang oleh Maimunah karena merasa lapar. Hal ini membuat darah Maimunah naik ke ubun-ubun. Dia lalu mengguna-guna suaminya agar lebih memilih dirinya ketika Saedah dan Saenih.

Akibat pengaruh guna-guna, Ki Sarkawi meninggalkan kedua anak kandungnya di tengah hutan belantara. Di tengah ketakutan, muncul seorang kakek tua yang menawarkan Saedah dan Saenih kesuksesan dan kekayaan dengan imbalan nyawa.

Seiring waktu berlalu, Saedah dan Saenih sukses sebagai penari ronggeng di wilayah Sewo. Namun, perjanjian dengan kakek tua membuat Saenih mati. Berita kejayaan Saedah pada waktu yang sama juga terdengar oleh Ki Sarkawi.

Bersama sang istri, Maimunah, Ki Sarkawi berkunjung ke rumah Saedah. Malang, Saedah mencampakkan keduanya dan hanya memberikan uang sebagai pengganti beras yang dulu pernah mereka masak. Penyesalan kemudian menghantui Ki Sarkawi.

Menurut penuturan turun-temurun, di Jembatan Sewo inilah Ki Sarkawi dan Maimunah konon tewas usai tergelincir ke Kali Sewo saat perjalanan pulang.

Singkat cerita, masyarakat meyakini arwah Saenih, Ki Sarkawi, dan Maimunah mendiami sungai tersebut. Adapun pelemparan koin saat melintasi Jembatan Sewo, dianggap sebagai bentuk meminta izin agar pelintas dapat melalui jembatan tanpa adanya gangguan mistis hingga sekarang.

KEYWORD :

Jembatan Sewo Mitos Jembatan Indramayu Saedah dan Saenih Pengemis Bersapu




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :