Senin, 20/04/2026 08:02 WIB

Putin Peringatkan Ukraina Barat Menuju Tragedi





Putin peringatkan Ukraina Barat menuju tragedi

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu meninggalkan Lapangan Merah setelah parade militer Hari Kemenangan di Moskow tengah pada 9 Mei 2022. (AFP)

JAKARTA, Jurnas.com - Presiden Vladimir Putin menuduh Barat melakukan agresi puluhan tahun terhadap Moskow dan memperingatkan jika ingin mencoba mengalahkan Rusia di medan perang, boleh dicoba, tetapi ini akan membawa tragedi bagi Ukraina.

Pernyataannya datang ketika Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov bersiap untuk pertemuan tertutup menteri luar negeri pada pertemuan G20 di Indonesia pada Jumat yang akan menjadi pertama kalinya diplomat top Putin bertatap muka dengan penentang paling vokal dari invasi ke Rusia ke Ukraina pada Februari.

"Kami telah mendengar berkali-kali bahwa Barat ingin melawan kami sampai Ukraina terakhir. Ini adalah tragedi bagi rakyat Ukraina, tetapi tampaknya semuanya menuju ke arah ini," kata Putin dalam pidato yang disiarkan televisi kepada para pemimpin parlemen.

"Barat telah gagal dalam upayanya untuk menahan Rusia, dan sanksinya terhadap Moskow telah menyebabkan kesulitan tetapi tidak pada skala yang dimaksudkan," tambah Putin.

Putin mengatakan, Rusia tidak menolak pembicaraan damai, tetapi semakin jauh konflik berlanjut, semakin sulit untuk mencapai kesepakatan.

Ukraina kehilangan pendukung internasional utamanya setelah Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson mengumumkan mengundurkan diri. Kyiv mengatakan, pihaknya mengharapkan dukungan Inggris dan berterima kasih kepada Johnson karena membela kepentingan Ukraina.

Dalam panggilan telepon, Johnson mengatakan kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, "Kamu adalah pahlawan, semua orang mencintaimu", kata juru bicara Johnson.

Menteri Luar Negeri Ukraina, Dmytro Kuleba menggambarkan Perdana Johnson sebagai teman sejati Ukraina karena menjadi salah satu pemimpin dunia pertama yang secara tegas mengutuk invasi dan juga membantu Ukraina mempertahankan diri dan akhirnya memenangkan perang ini di masa depan.

Sementara itu, Moskow tidak menyembunyikan kegembiraannya atas kematian politik seorang pemimpin yang telah lama dikritik karena mempersenjatai Kyiv dengan penuh semangat.

Pengunduran diri Johnson terjadi pada saat gejolak domestik di beberapa negara Eropa lainnya yang mendukung Kyiv dan keraguan tentang daya tahan mereka untuk apa yang telah menjadi konflik yang berkepanjangan.

Hari itu dimulai dengan upacara pengibaran bendera Ukraina di Pulau Ular yang direbut kembali di Laut Hitam, yang terletak sekitar 140 km selatan pelabuhan Odesa Ukraina.

Moskow dengan cepat menanggapi, dengan pesawat tempurnya menyerang pulau strategis tak lama setelah itu dan menghancurkan bagian dari detasemen Ukraina di sana, katanya.

Rusia meninggalkan pulau itu pada akhir Juni dalam apa yang dikatakannya sebagai isyarat niat baik - kemenangan bagi Ukraina yang diharapkan Kyiv dapat melonggarkan blokade Moskow terhadap pelabuhan Ukraina.

Kepala staf presiden Ukraina, Andriy Yermak, menyarankan pengibaran bendera nasional biru dan kuning adalah momen yang akan diulang di seluruh Ukraina.

Sementara itu, Pasukan Rusia di Ukraina timur terus menekan pasukan Ukraina yang berusaha mempertahankan garis di sepanjang perbatasan utara wilayah Donetsk, sebagai persiapan untuk mengantisipasi serangan yang lebih luas terhadapnya.

Setelah merebut kota Lysychansk pada Minggu dan secara efektif memperkuat kontrol total mereka atas wilayah Luhansk Ukraina, Moskow telah menjelaskan, pihaknya berencana merebut bagian dari wilayah tetangga Donetsk yang belum direbutnya.

Walikota Kramatorsk di kota Donetsk mengatakan pasukan Rusia telah menembakkan rudal ke pusat kota dalam serangan udara pada Kamis (7/7) dan setidaknya satu orang tewas dan enam terluka.

Gubernur wilayah Donetsk, Pavlo Kyrylenko mengatakan rudal itu telah merusak enam bangunan termasuk sebuah hotel dan sebuah blok apartemen di pusat industri besar itu.

Reuters tidak dapat secara independen memverifikasi pernyataan tersebut.

Di Kramatorsk, mekanik yang berubah menjadi tentara Artchk membantu menopang pertahanan terhadap serangan Rusia yang akan segera terjadi, sementara, di dekatnya, petani Vasyl Avramenko menyesali hilangnya tanaman yang digantikan oleh ranjau.

"Tentu saja kami sudah siap. Kami siap," kata Artchk, yang menyebut namanya sebagai no-de-guerre, kepada Reuters.

"Ini fantasi mereka (Rusia) untuk menduduki kota-kota ini, tetapi mereka tidak mengharapkan tingkat perlawanan. Bukan hanya pemerintah Ukraina, tetapi orang-orang yang menolak untuk menerimanya."

Rusia membantah menargetkan warga sipil dalam apa yang disebutnya "operasi militer khusus" untuk mendemiliterisasi Ukraina, membasmi nasionalis berbahaya, dan melindungi penutur bahasa Rusia.

Ukraina dan sekutunya mengatakan Rusia melancarkan perampasan tanah gaya kekaisaran dengan invasi Februari, memulai konflik terbesar di Eropa sejak Perang Dunia Kedua yang telah menewaskan ribuan orang, jutaan orang mengungsi dan kota-kota rata.

Sumber: Reuters

KEYWORD :

Rusia Vladimir Putin Negara Barat Sergei Lavro G20




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :