Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai di Tianjin, Tiongkok, 1 September 2025. Sputnik via REUTERS
Berlin, Jurnas.com - Sejumlah badan intelijen Eropa meyakini bahwa Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) menyelenggarakan pelatihan rahasia bagi ratusan tentara Rusia untuk bertempur di Ukraina.
Menurut laporan surat kabar Jerman, Die Welt, pada Rabu (20/5) dengan mengutip dokumen rahasia, PLA menggelar pelatihan rahasia pada akhir tahun lalu di enam pangkalan militer di China.
Pelatihan difokuskan terutama pada pengerahan drone dan tindakan pencegahan elektronik (electronic countermeasures). Hal ini dibuktikan dengan banyaknya tentara Rusia yang dikirim untuk bertempur di Ukraina segera setelahnya, termasuk bergabung dengan unit drone garis depan elite Rusia bernama `Rubicon`.
Dikutip dari AFP, laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Meski China selama ini mengeklaim bersikap netral dalam invasi Rusia ke Ukraina, laporan ini dinilai akan memperkuat kecurigaan bahwa Beijing telah menawarkan lebih banyak dukungan kepada sekutu Rusianya daripada yang diungkapkan ke publik.
Di sisi lain, pasukan China juga dilaporkan menerima pelatihan rahasia di Rusia. Sumber intelijen Eropa meyakini bahwa sekitar 600 tentara PLA menghabiskan waktu di pangkalan militer Rusia tahun lalu untuk mempelajari pertempuran lapis baja, pengerahan artileri, dan pertahanan udara.
Badan intelijen Eropa juga percaya bahwa Rusia dan China telah berbagi informasi luas tentang senjata canggih buatan Eropa dan AS yang digunakan oleh Ukraina, termasuk peralatan yang ditangkap di medan perang oleh pasukan Rusia.
Ketertarikan khusus berfokus pada peluncur roket HIMARS buatan AS, sistem pertahanan udara Patriot, kendaraan lapis baja Marder buatan Jerman, dan tank tempur utama Abrams milik Amerika.
Selama ini, China terus menghadapi kritik dari negara-negara Barat atas ekspor barang-barang yang disebut serbaguna (dual-use goods) ke Rusia dalam skala luas, seperti semikonduktor dan motor listrik kecil yang digunakan baik dalam persenjataan militer maupun produk sipil.
Sementara itu, Presiden China Xi Jinping baru saja menyambut kedatangan Vladimir Putin dari Rusia di Beijing pada Selasa (19/5) kemarin untuk kunjungan kerja. Hubungan antara China dan Rusia terus menguat dalam beberapa tahun sejak Putin meluncurkan invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022.
Putin juga menjadi lebih bergantung pada China seiring sanksi Barat yang menekan pendapatan minyak Rusia dan menjadikan China sebagai pembeli dominan minyak mereka.
“Kedua negara kita telah terus memperdalam rasa saling percaya politik dan koordinasi strategis kami dengan ketahanan yang tetap tidak tergoyahkan,” kata Xi Jinping kepada Putin pada Rabu, menurut laporan media pemerintah China.
Marc Henrichmann, ketua komite pengawas intelijen parlemen Jerman, menilai laporan Die Welt tersebut masuk akal dan selaras dengan perkembangan yang diamati dalam beberapa tahun terakhir.
“Khususnya sejak awal perang agresi Rusia, kerja sama yang semakin erat antara Moskow dan Beijing menjadi sangat nyata baik di bidang militer maupun ekonomi. Sejak 2022, sebagian besar mesin perang Rusia telah digerakkan oleh komponen serbaguna China, mulai dari kabel serat optik untuk drone dan cip hingga mesin dan sistem penggerak untuk senjata jarak jauh,” jelas Marc Henrichmann saat berbicara kepada surat kabar Handelsblatt.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Pelatihan Militer China Drone Tentara Rusia Pasukan PLA China

















