Rabu, 20/05/2026 21:16 WIB

Wamendiktisaintek: Bangsa yang Besar Dibangun oleh Kualitas Manusianya





Wamendiktisaintek Fauzan, menekankan bahwa kemajuan Indonesia tidak boleh hanya bertumpu pada melimpahnya kekayaan alam, melainkan kualitas SDM-nya

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, menekankan bahwa kemajuan Indonesia tidak boleh hanya bertumpu pada melimpahnya kekayaan alam.

Menurutnya Fondasi utama pembangunan bangsa yang kokoh justru terletak pada keunggulan kualitas sumber daya manusianya.

Hal tersebut disampaikan Wamen Fauzan saat memberikan sambutan secara daring pada National Seminar & Grand Opening of Indonesian Center for Transformative Education (ICTE) bertema "Innovative and Impactful Universities for Advanced Indonesia 2045" di Gedung Guru Indonesia, Jakarta, Rabu (20/5).

"Kita menyadari bahwa bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kekayaan alam tetapi oleh kualitas manusianya," ujar Wamen Fauzan.

Dalam kesempatan tersebut, Fauzan mengapresiasi atas peluncuran program Indonesia Center for Transformative Education (ICTE) sebagai pusat kolaborasi yang diharapkan mampu mempertemukan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan realitas kemanusiaan serta nilai kebangsaan.

"Kita membutuhkan lebih banyak ruang yang mempertemukan ilmu dengan realitas, teknologi dengan kemanusiaan, dan inovasi dengan nilai-nilai kebangsaan," katanya.

Ia berharap langkah ini menjadi titik lahirnya gerakan bersama untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang inovatif, inklusif, dan berdampak nyata bagi Indonesia.

"Semoga dari forum ini lahir gagasan-gagasan besar yang mampu membawa Indonesia menuju peradaban yang unggul, bermartabat, dan berdaya saing global menuju Indonesia Emas 2045," ujarnya.

Fauzan juga menyampaikan bahwa kualitas manusia yang unggul harus dibentuk dan ditumbuhkan melalui ekosistem pendidikan yang sehat, adaptif, serta visioner.

Menurutnya, hakikat kampus merupakan ruang untuk menumbuhkan keberanian berpikir, bertindak, serta mengasah kepekaan sosial. Oleh sebab itu, perguruan tinggi dituntut melakukan transformasi fundamental agar keberadaannya dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Konsekuensi adanya transformasi perguruan tinggi menuntut bahwa perguruan tinggi harus bergerak dari sekadar menara ilmu menjadi pusat solusi terhadap problem sosial. Dengan demikian, perguruan tinggi dituntut untuk menghadirkan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat," katanya.

Melalui transformasi ini, kampus diharapkan menjadi kawah candradimuka yang melahirkan para pemimpin masa depan dengan jiwa pemecah masalah (problem solver).

Terlebih, tantangan menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan aksi nyata yang konsisten, bukan sekadar retorika perubahan.

Lebih lanjut Wamen Fauzan, meminta para insan akademis agar membuang mentalitas suka menyalahkan pihak lain atau blame mentality serta victim mentality.

"Ia menilai sikap merasa menjadi korban kebijakan tidak akan membawa solusi bagi ekosistem pendidikan.

"Satu lagi ialah victim mentality, yakni penyakit mental yang selalu merasa menjadi korban atas setiap kebijakan pihak lain," katanya.

Sebagai informasi, kegiatan ICTE tersebut mengangkat isu implementasi Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi Berdampak, penguatan relevansi perguruan tinggi dengan dunia industri dan masyarakat, serta pengembangan ekosistem pendidikan tinggi yang mendorong inovasi dan kolaborasi.

KEYWORD :

Wamendiktisaintak Fauzan ICTE 2026 Kualitas SDM




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :