Kasus wabah Ebola di Afrika (Foto: Reuters)
Jenewa, Jurnas.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan wabah mematikan Ebola yang sedang mengamuk di Afrika Tengah kemungkinan besar telah dimulai sejak beberapa bulan lalu. Kendati demikian, meski tingkat risiko penularan sangat tinggi di tingkat nasional dan regional, namun masih rendah di tingkat global.
Sejumlah pakar WHO menjelaskan bahwa investigasi sedang dilakukan untuk menyelidiki asal-usul wabah yang resmi dideklarasikan di wilayah timur Republik Demokratik Kongo pada Jumat pekan lalu tersebut. Muncul kecurigaan kuat bahwa demam berdarah yang sangat menular ini telah menyebar tanpa terdeteksi selama beberapa waktu.
“Melihat skalanya, kami berpikir bahwa ini kemungkinan sudah dimulai beberapa bulan yang lalu,” kata Anais Legand, petugas teknis WHO untuk demam berdarah akibat virus, dikutip dari AFP pada Rabu (20/5).
Ebola tercatat telah menewaskan lebih dari 15.000 orang di Afrika dalam kurun waktu setengah abad terakhir, dan badan kesehatan PBB tersebut kini telah menetapkan lonjakan terbaru ini sebagai keadaan darurat kesehatan internasional.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan wabah Ebola ke-17 yang melanda Kongo ini diduga telah menyebabkan 139 kematian dari sekitar 600 kasus berstatus probabel.
“Kami memperkirakan angka-angka tersebut akan terus meningkat, mengingat lamanya waktu virus ini bersirkulasi sebelum wabah tersebut terdeteksi,” ujar dia.
WHO juga menyoroti rumitnya proses deteksi dan respons terhadap wabah ini, karena virus menyebar di daerah-daerah yang sulit dijangkau di Provinsi Ituri, Kongo, yang sedang dilanda konflik bersenjata. Keadaan diperparah oleh fakta bahwa virus Ebola varian Bundibugyo yang menjadi dalang wabah ini tidak muncul pada alat tes yang dirancang untuk mendeteksi varian Zaire yang lebih umum.
Pada Minggu pekan lalu, Tedros mendeklarasikan wabah ini sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC). Ini merupakan tingkat kewaspadaan tertinggi kedua di bawah Regulasi Kesehatan Internasional (IHR) yang mengikat secara hukum, guna memicu respons darurat di berbagai negara di seluruh dunia.
“Ada beberapa faktor yang menimbulkan kekhawatiran serius mengenai potensi penyebaran lebih lanjut dan kematian lebih lanjut. Namun, saya menetapkan bahwa situasi ini bukanlah keadaan darurat pandemi,” jelas dia.
Pasca-pertemuan komite darurat WHO pada Rabu ini, lembaga PBB tersebut memutuskan bahwa risiko epidemi dinilai tinggi pada tingkat nasional dan regional, serta rendah pada tingkat global. Sejalan dengan hal itu, Komisi Eropa di Brussels menegaskan bahwa risiko infeksi di wilayah Uni Eropa sangat rendah dan belum ada indikasi bagi warga Eropa untuk mengambil langkah-langkah penanganan khusus.
Pertama kali diidentifikasi pada tahun 1976 dan diyakini berasal dari kelelawar, Ebola merupakan penyakit virus mematikan yang menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, di mana penyakit ini dapat menyebabkan pendarahan hebat hingga gagal organ.
Hingga saat ini, WHO belum merekomendasikan pembatasan perjalanan spesifik secara global, meskipun Direktur Kesiapsiagaan dan Respons Darurat WHO, Abdi Rahman Mahamud, memberikan penegasan khusus.
“Semua kontak, semua kasus (yang terinfeksi) seharusnya tidak melakukan perjalanan,” tegas Abdi Rahman Mahamud.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Wabah Ebola Kongo Risiko Darurat WHO Varian Ebola Bundibugyo
















