Pemeriksaan Ebola di Kongo (Foto: AFP)
Jenewa, Jurnas.com - Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan kekhawatirannya terhadap skala dan kecepatan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo, yang kini diperkirakan telah menewaskan 131 orang.
Karena itu, lembaga PBB tersebut kini resmi mendeklarasikan darurat kesehatan internasional, dan akan menggelar pertemuan darurat pada Selasa (19/5) untuk membahas krisis ini.
Hingga saat ini, belum ada fasilitas vaksin maupun metode pengobatan terapeutik yang eksis untuk virus Ebola varian Bundibugyo, yang menjadi dalang dari wabah terbaru, dan telah menewaskan lebih dari 15,000 orang di Afrika dalam kurun waktu setengah abad terakhir.
Mengingat wabah baru ini sebagian besar terkonsentrasi di daerah-daerah yang sulit diakses, hanya sedikit sampel yang telah diuji di laboratorium dan akumulasi data yang ada saat ini sebagian besar masih didasarkan pada kasus-kasus yang dicurigai.
Data sebelumnya pada akhir pekan lalu di wilayah timur Kongo menunjukkan total 91 orang meninggal dunia dari 350 kasus yang dicurigai. Tedros menyatakan bahwa keputusan untuk menetapkan tingkat kewaspadaan tertinggi kedua di bawah peraturan kesehatan internasional ini tidak diambil secara sembarangan.
“Saya sangat prihatin dengan skala dan kecepatan epidemi ini,” kata Tedros di Jenewa, dikutip dari AFP.
Pusat penyebaran wabah ini berada di provinsi Ituri yang terletak di bagian timur laut dan berbatasan langsung dengan Uganda serta Sudan Selatan.
Sebagai pusat penambangan emas, wilayah ini menjadi tempat lalu lalang masyarakat yang rutin melintasi kawasan tersebut, di samping kondisinya yang telah bertahun-tahun dilanda konflik bersenjata antar-milisi lokal. Virus ini dilaporkan telah menyebar ke provinsi-provinsi tetangga, bahkan hingga melewati batas-batas negara Kongo.
Menteri Kesehatan Kongo, Samuel Roger Kamba menjelaskan bahwa kasus-kasus yang dicurigai telah dilaporkan di pusat perdagangan Butembo di provinsi tetangga, Kivu Utara, yang berjarak sekitar 200 kilometer (125 mil) dari titik nol epidemi, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Satu kasus lainnya juga telah tercatat di Goma, ibu kota provinsi penting di Kivu Utara yang saat ini berada di bawah kendali kelompok bersenjata anti-pemerintah M23 yang didukung oleh Rwanda.
“Sayangnya, peringatan tersebut lambat beredar di masyarakat, karena orang-orang mengira itu adalah penyakit mistis, dan akibatnya, orang yang sakit tidak dibawa ke rumah sakit,” ujar Kamba.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) telah menyatakan wabah ini sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat benua. Langkah tersebut memungkinkan lembaga yang berbasis di Ethiopia itu untuk memobilisasi sumber daya tambahan termasuk tim respons darurat dan operasi pengawasan.
Pertama kali diidentifikasi pada 1976 dan diyakini berasal dari kelelawar, Ebola merupakan penyakit virus mematikan yang menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh. Penyakit ini dapat menyebabkan pendarahan hebat hingga gagal organ. Wabah kali ini menandai kemunculan yang ke-17 kalinya di negara Afrika Tengah berpenduduk lebih dari 100 juta jiwa tersebut.
Catatan wabah Ebola paling mematikan di Kongo sebelumnya pernah merenggut hampir 2.300 nyawa dari total 3.500 kasus yang terjadi antara 2018 dan 2020. Sementara itu, wabah terakhir sebelum yang terjadi saat ini tercatat menewaskan 45 orang antara September hingga Desember tahun lalu, menurut data resmi dari pihak WHO.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Wabah Ebola Kongo Status Darurat WHO Virus Varian Bundibugyo


























