Sabtu, 18/04/2026 08:29 WIB

Kepala BKKBN: Remaja Penentu Keberhasilan Bonus Demografi





Jika tidak berkualitas, maka tidak berkah tapi menjadi musibah, tidak mendapatkan panen bonus demografi tapi justru menjadikan beban pembangunan.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo pada acara Forum Nasional Stunting 2021, Selasa 14 Desember 2021. (Foto: Supianto/screenshot)

JAKARTA, Jurnas.com - Kepala Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), Hasto Wardoyo mengatakan, usia produktif 15-64 tahun saat ini tumbuh pesat. Sebaliknya, usia yang tidak produktif terus menurun.

"Inilah potensi yang luar biasa, yang dikenal dengan bonus demografi, tapi ingat bonus demografi ini tidak lama karena ada aging population," kata Hasto pada acara Apresiasi Pelaksanaan Pendidikan Kependudukan Tahun 2021, di Jakarta, Selasa (21/12).

Karena itu, Hasto berharap, agar sekolah menyadari bahwa disaat bonus demografi kualitasnaya harus bagus. Jika tidak berkualitas, maka tidak berkah tapi menjadi musibah, tidak mendapatkan panen bonus demografi tapi justru menjadikan beban pembangunan.

"Suatu bangsa terpuruk karena remajanya tidak berkualitas. Bisa dibayangkan kemudian bangsa, seperti kita angka harapan hidupnya tinggi tetapi masih banyak yang miskin. Nah, ini karena saat windows offortunity tidak dimanfaatkan dengan bagus karena kualitas SDM tidak bagus," ujar Hasto.

Hasto mengatakan, penentu  kebehasilan bonus demografi adalah remaja yaitu anak-anak muda yang sekarang masih sekolah. Kalau mereka banyak yang putus sekolah, kawin usia muda, dan juga kemudian jumlah anaknya banyak maka akan jadi beban negara.

Hasto menyebutkan, tiga hal yang membuat kualitas SDM di Indonesia terganggu, yaitu stunting 27,7 persen, mental emotional disorder 9,8 persen, difable/autisme 4,1 persen, Napsa 5,1 persen, dan ODGJ 7/1000.

"Maka, GenRe (Generasi Berencana) salamnya menjadi tree zero, yaitu tidak kawin usia dini, tidak kawin di luar nikah, dan tidak Napsa. Inilah yang ingin kita masukan ke dalam lingkungan sekolah," kata Hasto.

Pada kesempatan tersebut, Hasto kembali mengingatkan bahwa stunting pasti pendek, tapi pendek belum tentu stunting. Stunting bukan penyakit keturunan.

Disebutkan juga hasto bahwa ada tiga kerugian yang akan dialami anak yang stunting di masa depan, yaitu pendek, intelektualnya rendah, dan mudah sakit-sakitan saat usianya sudah 45 tahun.

Anak stunting disebabkan oleh tiga hal. Pertama, suboptimal healt, yaitu sering sakit-sakitan sebelum 1000 hari pertama kehidupan. Kedua, suboptimal nutrition, yaitu kurang diberikan makan. Ketiga, parenting (pengasuhan) yang kurang menggembirakan. 

"Saya titip betul di SMA terutama, mari kita terus dorang besok kalau mau menikah persiapkan betul jangan hanya prawedding yang habis ratusan juta, tapi prakonsepsi yaitu persiapan antara kesemuanya bibit laki laki dan perempuan. Itu lebih pending dan murah," kata Hasto.

 

KEYWORD :

BKKBN Hasto Wardoyo Bonus Demografi Remaja




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :