Senin, 15/10/2018 20:11 WIB

Bejat, Tentara Sudan Perkosa hingga Bakar Hidup-hidup Warga Sipil

Para tentara dan pejuang menyerang warga sipil. Tak sedikit yang diperkosa, dibakar hidup-hidup, ditarik menggunakan kendaraan lapis baja, dan digantung di pohon.

Misi penjaga perdamaian PBB di Sudan Selatan (UNMISS) menjaga anak-anak selama patroli dekat kota Bentiu di daerah Rubkona, Sudan selatan utara, 11 Februari 2017 (Siegfried Modola/Reuters)

Jakarta - Pemerintah Sudan Selatan dan milisi sekutunya dituding melakukan kejahatan perang  dan kejahatan terhadap kemanusiaan menyusul serangan di Negara Kesatuan pada 2016.

Amnesty International menyebutkan, para tentara dan pejuang menyerang warga sipil. Tak sedikit yang diperkosa, dibakar hidup-hidup, ditarik menggunakan kendaraan lapis baja, dan digantung di pohon.

"Seorang yang diwawancarai mengatakan, seorang gadis yang berusia 8 tahun diperkosa geng dan seorang wanita lain menyaksikan perkosaan seorang bocah berusia 15 tahun," katanya.

Laporan itu didasarkan pada wawancara dengan 100 orang terlantar dari kabupaten Leer dan Mayendit di Negara Kesatuan, yang menjadi salah satu daerah yang paling terpukul selama lima tahun perang sipil di Sudan Selatan.

Amnesty juga mendokumentasikan penculikan perempuan dan anak perempuan, dan pembunuhan yang disengaja terhadap anak-anak lelaki dan bayi laki-laki. Serangan itu berlanjut selama seminggu setelah gencatan senjata diumumkan.

"Pemerintah menyerang puluhan warga sipil di daerah-daerah ini, membakar rumah secara sistematis, membunuh orang - termasuk wanita, anak-anak, dan orang tua," kata Joanne Mariner dari Amnesty kepada Al Jazeera.

"Kami mendokumentasikan kasus mengerikan di mana orang tua yang sudah berusia 70, 80, hingga 90 tahun  dibakar hidup-hidup di dalam rumah karena pemerintah membakar desa dengan cara yang sangat sistematis."

Sekedar diketahui, pekan lalu, Presiden Salva Kiir dan pemimpin pemberontak Riek Machar menandatangani perjanjian perdamaian baru di Ethiopia setelah negosiasi panjang.

Meskipun ada terobosan, banyak pengamat internasional tetap skeptis karena perjanjian sebelumnya telah runtuh setelah pihak yang bertikai gagal menghormati mereka.

Bertahun-tahun konflik di Sudan Selatan telah menyebabkan lebih dari separuh dari 12 juta penduduknya membutuhkan bantuan makanan untuk bertahan hidup.

Negara terbaru di dunia itu jatuh ke dalam perang sipil pada 2013 setelah Kiir menuduh Machar, kemudian wakilnya, merencanakan kudeta.

Konflik telah menewaskan puluhan ribu orang dengan lebih dari dua juta orang melarikan diri dari negara itu, menciptakan krisis pengungsi terbesar Afrika sejak genosida Rwanda tahun 1994. (Al Jazeera)

TAGS : Amnesty International Sudan




TERPOPULER :