Menurut penilaian Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, 28,9 juta orang, atau sekitar 62 persen dari populasi Sudan, menghadapi kerawanan pangan akut (Foto: Reuters)
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah serangan pesawat nirawak (drone) menghantam truk bantuan di negara bagian Darfur Utara, Sudan, dan menghancurkan seluruh pasokan di dalamnya, demikian pernyataan badan pengungsi PBB (UNHCR) pada hari Minggu, tanpa menyebutkan siapa pihak yang bertanggung jawab.
Serangan drone oleh tentara Sudan maupun pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF), yang telah terjebak dalam perang brutal sejak April 2023, terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir, dan sering kali menewaskan puluhan orang sekaligus.
Kendaraan yang dioperasikan UNHCR tersebut "terkena serangan drone" pada hari Jumat saat sedang mengangkut paket bantuan tenda darurat ke Tawila, tempat bermukimnya lebih dari 700.000 pengungsi yang melarikan diri dari pertempuran di wilayah Darfur barat, ungkap lembaga tersebut.
Pengemudi berhasil selamat tanpa luka, namun seluruh pasokan hancur dalam kebakaran yang dipicu oleh serangan itu, tambahnya.
UNHCR mengecam serangan tersebut dan memperingatkan bahwa aksi ini akan "membuat 1.314 keluarga yang hidup dalam kondisi memprihatinkan di Tawila kehilangan tempat bernaung" di saat kebutuhan kemanusiaan sudah sangat mendesak.
Lebih dari 127.000 orang melarikan diri dari El-Fasher, ibu kota Darfur Utara sekaligus benteng terakhir tentara di wilayah tersebut, setelah kota itu jatuh ke tangan pasukan paramiliter pada bulan Oktober, disertai laporan mengenai pembunuhan massal, kekerasan seksual, penjarahan, dan pemerkosaan pasca-pengambilalihan kekuasaan.
Pertempuran sejak saat itu telah menyebar ke wilayah tetangga, Kordofan, yang kini menjadi medan perang utama, serta negara bagian Blue Nile di tenggara, yang meningkatkan kekhawatiran akan konflik yang lebih panjang dan semakin terpecah-belah.
Menurut PBB, hampir 700 warga sipil telah tewas dalam serangan drone oleh kedua belah pihak sejak Januari tahun ini saja.
UNHCR menyatakan "keprihatinan mendalam" atas meningkatnya penggunaan drone, dan menyebut serangan berulang terhadap operasi kemanusiaan sebagai tindakan yang "sangat keji."
Berdasarkan penilaian Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), sebanyak 28,9 juta orang, atau sekitar 62 persen dari populasi Sudan, menghadapi kerawanan pangan akut.
Jumlah tersebut mencakup 10,2 juta orang yang menghadapi kerawanan pangan parah, terutama di wilayah Darfur dan negara bagian Kordofan Selatan.
Kelaparan hebat telah dinyatakan terjadi tahun lalu di El-Fasher dan Kadugli, ibu kota Kordofan Selatan, dengan 20 wilayah lainnya di Darfur dan Kordofan berada dalam risiko serupa, menurut penilaian yang didukung oleh PBB.
Konflik ini telah menewaskan puluhan ribu orang, memaksa lebih dari 11 juta orang mengungsi, dan menciptakan krisis pengungsian serta kelaparan terbesar di dunia.
Sumber: Arabnews
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Serangan Drone Sudan PBB UNHCR Kerusuhan Sudan


















