Sabtu, 18/08/2018 02:10 WIB

Militer AS Kirim Surat ke Jokowi, Apa Isinya?

Leffler mengatakan, untuk menangkal terorisme tidak butuh pendekatan persenjataan maupun politik.

Presiden Jokowi

Jakarta – Direktur Eksekutif Pusat Ilmu Militer Lanjutan Amerika Serikat (AS) Dr. David Leffler mengirimkan sebuah editorial kepada Presiden RI Joko Widodo, pada Selasa (15/5).

Surat tersebut berisi imbauan kepada sang presiden, untuk menggunakan pendekatan baru dalam menghadapi terorisme di Indonesia. Alih-alih kesusu mengesahkan RUU Terorisme, yang kata Leffler, rentan menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Leffler mengatakan, untuk menangkal terorisme tidak butuh pendekatan persenjataan maupun politik. Melainkan perpaduan antara ilmu sosial dan teori medan kuantum.

“Presiden Joko Widodo dapat mencegah terorisme di Indonesia dengan melatih angkatan bersenjatanya untuk membentuk Pencegahan Sayap Militer, yang terdiri dari para ahli Teknologi Pertahanan Tak Terkalahkan,” tulis Leffler dalam editorialnya kepada redaksi Jurnas.com.

Teknologi Pertahanan Tak Terkalahkan atau disebut IDT, menurut Leffler sudah teruji karena sudah digunakan oleh berbagai kelompok militer besar di seluruh dunia. Dan dampaknya, IDT membawa penurunan angka perang, terorisme, dan kejahatan.

IDT, kata Leffler, juga terbukti meningkatkan kualitas hidup, yang notabene merupakan tanda nyata dari penurunan tingkat stres di masyarakat.

“Tujuan IDT adalah untuk mencegah munculnya musuh. Begitu IDT diterapkan dengan benar, penduduk Indonesia akan menjadi aman dari terorisme karena tidak akan ada musuh yang harus diperangi,” ujarnya.

“Tidak ada musuh berarti tidak ada perang, tidak ada terorisme, tidak ada perang nuklir dan keamanan penuh, serta kehidupan yang bahagia dan produktif untuk semua orang,” lanjutnya.

Di negara-negara dengan tingkat stres tinggi, pembentukan IDT diklaim dapat meningkatkan pertumbuhan kemakmuran dan insentif ekonomi. Sejak dirumuskan pada 1983 hingga 1985 oleh para ahli sipil, korban terorisme menurun 72 persen, dan konflik internasional menurun 32 persen.

“Pendekatan IDT telah digunakan selama masa perang, yang berakibat pada berkurangnya pertempuran, berkurangnya kematian akibat perang, dan berkurangnya korban, serta kemajuan yang meningkat menuju penyelesaian konflik melalui cara-cara damai,” kata anggota Associate of the Proteus Management Group at the Center for Strategic Leadership, Sekolah Perang AS tersebut.

Leffler mencontohkan, beberapa negara sukses menerapkan sistem ini untuk mengatasi konflik. Di antaranya Presiden Joachim Chissano dari Mozambik, yang mengakui program IDT sukses mengakhiri perang saudara di negara itu.

Sementara pensiunan Letnan Jenderal Ekuador José Villamil, yang juga menerapkan IDT mengatakan berhasil mengakhiri perang antara Ekuador dan Peru.

“IDT adalah cara yang telah terbukti bagi Indonesia untuk melindungi dirinya sendiri dan untuk mendapatkan penghormatan global dengan menerapkan pertahanan yang sederhana, biaya rendah, dengan pelatihan minimal yang diperlukan untuk implementasi,” ucap Leffler.

“Begitu musuh menjadi teman, tidak perlu berkelahi. Perbedaan dapat diselesaikan melalui diplomasi damai,” sambungnya.

TAGS : Amerika Serikat Terorisme Indonesia Jokowi




TERPOPULER :