https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Bolehkah Puasa 6 Hari di Bulan Syawal Tidak Berurutan?

Agus Mughni | Senin, 23/03/2026 18:38 WIB



Puasa Syawal menjadi amalan sunnah yang biasa dikerjakan umat Islam setelah perayaan Idulfitri Ilustrasi - Bolehkah Puasa 6 Hari di Bulan Syawal Tidak Berurutan? Simak Penjelasan dan Ketentuannya (Foto: khats cassim)

Jakarta, Jurnas.com - Puasa Syawal menjadi amalan sunnah yang biasa dikerjakan umat Islam setelah perayaan Idulfitri. Ibadah ini tidak hanya ringan dijalankan, tetapi juga memiliki keutamaan besar yang setara dengan puasa satu tahun penuh.

Keutamaan tersebut didasarkan pada hadis riwayat Imam Muslim yang menyebut bahwa puasa Ramadan yang dilanjutkan puasa enam hari di bulan Syawal akan diganjar seperti puasa setahun. Karena itu, puasa Syawal kerap menjadi amalan lanjutan yang tidak ingin dilewatkan.

Namun demikian, muncul pertanyaan yang cukup sering dibahas: apakah puasa Syawal harus dilakukan enam hari berturut-turut. Pertanyaan ini relevan mengingat tidak semua orang memiliki waktu luang yang sama setelah Lebaran. Lantas bagaimana hukumnya? Berikut penjelasannya yang dikutip dari berbagai sumber.

Baca juga :
Ragam Keutamaan Puasa Syawal, Sempurnakan Ramadan hingga Menjaga Kesehatan

Para ulama menjelaskan bahwa puasa Syawal memang dianjurkan dilakukan secara berurutan sejak awal bulan. Meski begitu, pelaksanaannya tidak bersifat wajib untuk berurutan dan tetap sah jika dilakukan terpisah.

Pandangan ini diperkuat oleh ulama fikih seperti Ibnu Hajar al-Haitami yang menyatakan bahwa puasa Syawal boleh dilakukan kapan saja selama bulan Syawal. Artinya, seseorang tetap mendapatkan pahala meskipun menjalankannya secara tidak berurutan.

Baca juga :
Halalbihalal, Tradisi Khas Indonesia yang Kerap Disangka Berasal dari Arab

Dengan demikian, umat Islam memiliki fleksibilitas dalam menentukan waktu berpuasa sesuai kondisi masing-masing. Misalnya, puasa bisa dilakukan pada hari Senin dan Kamis atau di pertengahan bulan tanpa mengurangi nilai ibadahnya.

Selain itu, ulama seperti Muhammad Nawawi al-Bantani juga menegaskan bahwa puasa Syawal tidak terikat pada pola tertentu. Selama masih berada dalam bulan Syawal, pelaksanaannya tetap dianggap sah dan bernilai pahala.

Baca juga :
Niat Puasa Syawal dan Senin-Kamis, Keutamaan hingga Hukumnya

Di sisi lain, puasa Syawal dimulai sejak tanggal 2 Syawal dan berlangsung hingga akhir bulan. Pada tahun 2026, waktu pelaksanaannya dimulai sekitar akhir Maret, memberi ruang cukup panjang bagi umat Islam untuk menunaikannya.

Seperti puasa sunnah lainnya, pelaksanaan puasa Syawal dimulai dengan niat dan dilakukan dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ibadah ini juga menjadi sarana menjaga konsistensi setelah menjalani Ramadan.

Namun demikian, ada hal penting yang perlu diperhatikan terkait hukumnya. Puasa Syawal berstatus sunnah bagi mereka yang telah menyempurnakan puasa Ramadan tanpa tanggungan.

Jika masih memiliki utang puasa Ramadan, sebagian ulama menganjurkan untuk mendahulukannya sebelum menjalankan puasa Syawal. Bahkan, bagi yang sengaja meninggalkan puasa Ramadan tanpa alasan, maka menjalankan puasa Syawal tidak dianjurkan.

Dengan demikian, puasa Syawal menawarkan kemudahan sekaligus keutamaan besar dalam satu ibadah. Fleksibilitas pelaksanaannya menjadi bukti bahwa Islam memberikan ruang bagi umatnya untuk tetap beribadah secara optimal tanpa memberatkan. (*)

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Puasa Syawal Bulan Syawal Amalan Syawal

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777