Dalam file foto ini diambil pada 06 Juni 2021 calon presiden Iran Ebrahim Raisi memberi isyarat selama kampanye pemilihan umum di kota Eslamshahr. (AFP)
Dubai, Jurnas.com - Presiden Iran, Ebrahim Raisi meminta Jepang melepaskan dana Iran yang dibekukan di negara yang berujuluk matahari terbit ITU karena sanksi Amerika Serikat (AS).
Iran tidak dapat memperoleh puluhan miliar dolar asetnya terutama dari ekspor minyak dan gas di bank asing, termasuk 3 miliar dolar AS dananya di Jepang, karena sanksi AS terhadap sektor perbankan dan energinya.
Sanksi itu diberlakukan kembali pada 2018 setelah Washington meninggalkan kesepakatan nuklir Teheran 2015 dengan enam kekuatan dunia.
"Peningkatan hubungan dengan Jepang sangat penting bagi Iran. Setiap penundaan dalam membuka blokir aset Iran di bank-bank Jepang tidak dibenarkan," kata Raisi pada pertemuannya dengan Toshimitsu Motegi, yang tiba di Teheran pada Minggu malam untuk kunjungan dua hari.
Iran dan enam kekuatan telah melakukan pembicaraan sejak April untuk mengembalikan pakta nuklir, di mana Teheran setuju mengekang program nuklirnya untuk mempersulit mendapatkan bahan fisil untuk senjata, dengan imbalan keringanan sanksi.
Namun, para pejabat Iran dan Barat mengatakan masih ada celah yang signifikan untuk mengembalikan pakta tersebut. Putaran keenam pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Washington di Wina ditunda pada 20 Juni, dua hari setelah ulama garis keras Raisi memenangkan pemilihan presiden di Iran.
Iran dan enam kekuatan belum mengumumkan kapan mereka akan melanjutkan negosiasi. Raisi, yang telah mengajukan kabinetnya ke parlemen untuk mosi percaya, diperkirakan akan mengadopsi pendekatan garis keras dalam pembicaraan di Wina, menurut orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.
Raisi, seperti pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, telah mendukung pembicaraan nuklir di Wina.
"Iran tidak memiliki masalah dengan prinsip negosiasi. Apa pembenaran untuk mempertahankan sanksi AS terhadap Iran?" Media pemerintah Iran mengutip pernyataan Raisi kepada Motegi Jepang.
Pada 2019, Khamenei Iran menolak membalas pesan yang dibawa Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ke Teheran dari presiden AS saat itu Donald Trump, karena kunjungan perdamaian dibayangi serangan terhadap kapal tanker di Teluk Oman. Salah satu kapal tanker itu adalah Jepang. (Reuters)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Jepang Aset Iran Amerika Serikat

























