Kegiatan International Environment Forum di Jakarta (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Guru Besar IPB University, Prof. Dr. Ir. Sudarsono Soedomo, membantah bahwa kelapa sawit menjadi penyebab utama bencana banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Hal ini disampaikan dalam kegiatan 1st International Environment Forum (IEF) yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), sekaligus peringatan Hari Bumi Sedunia, pada Rabu (22/4).
Sudarsono menilai bahwa penyebab banjir Sumatra dipahami secara simplistik karena adanya tekanan publik sehingga memaksa pemerintah untuk mendorong pencarian pihak.
"Sebetulnya banyak orang yang tidak percaya dengan narasi sawit penyebab banjir. Tetapi ketika narasinya sudah tersebar luas, tidak ada yang berani menyanggah," kata Sudarsono.
Sudarsono dalam paparannya menjelaskan bahwa penyebab banjir di berbagai wilayah Sumatera dan Aceh akhir 2025 lalu disebabkan oleh curah hujan yang sangat ekstrem.
"Banjir terjadi ketika run-off melebihi kapasitas sistem dan kalau masuk ke sungai secara berlebihan terjadilah banjir," ujar dia.
Peran hutan memanglah intersepsi hujan, meningkatkan infiltrasi, dan meningkatkan air tanah untuk menunda aliran permukaan (lag ime) dan sangat efektif pada kondisi hujan normal. Namun, ketika hujannya sangat ekstrem seperti di Sumatera, hutan ada batas dan masalahnya juga," dia menambahkan.
Sudarsono menyebut kapasitas hujan yang terjadi dalam waktu 1-2 hari pada saat itu mencapai 411 mm. Padahal, dalam jumlah tersebut biasanya terjadi dalam 2-3 bulan.
"Ahli hidrologi menyebut bahwa hujan seperti itu terjadi 400-500 tahun sekali. Jadi, dalam kondisi seperti itu, hutan pun tak akan tahan," kata Sudarsono.
Kesalahan dalam narasi umum yang menyatakan sawit sebagai penyebab tunggal terjadinya banjir, lanjut Sudarsono, menimbulkan banyak kerugian bagi para pelaku industri penopang devisa negara.
"Penyebaran informasi berbasis emosi hanya menghukum secara tidak proporsional, bisa salah sasaran, tidak menyelesaikan akar masalah, dan menurunkan kepercayaan publik. Banjir adalah fenomena sistemik, hutan penting tetapi tidak absolut. Kebijakan harus berbasis data dan hukum," ujar dia.
Ketua panitia IEF 2026, Hendra J. Purba mengatakan bahwa tema `Kelapa Sawit Merusak Lingkungan?` sengaja diusung untuk membedah fakta di lapangan mengenai banjir bandang secara ekologis, dan memperkuat kampanye positif industri sawit yang selama ini dilangsungkan dengan prinsip keberlanjutan.
"Forum in mudah-mudahan menjadi forum ilmiah pertama yang dapat menjadi wadah bagi berbagai pihak terutama para generasi muda yang melek digital untuk menyebarkan kampanye positif bahwa pernyataan `sawit merusak lingkungan` itu tidak benar," ujar Hendra.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Perkebunan 2016-2019 sekaligus Pemimpin Umum Media Perkebunan, Ir. Bambang, MM dalam sambutannya menyampaikan bahwa masyarakat haru melindungi dan menyelamatkan sawit dari gangguan orang-orang yang belum paham tentang industri sawit.
"Kalau dikatakan kelapa sawit merusak lingkungan, itu tidak benar. Mahasiswa harus dapat mengedukasi seluruh lapisan masyarakat bahwa sawit sendiri memiliki produktivitas yang lebih baik dibandingkan dengan komoditas minyak nabati lain, sehingga menanam sawit lebih sedikit menggunakan lahan dibandingkan menanam komoditas minyak nabati lain," kata Bambang.
Terkait dengan dinamika geopolitik global yang terjadi di Timur Tengah, Bambang menyoroti kebutuhan minyak sawit yang semakin krusial mengingat akan diterapkannya B50 untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak fosil untuk kebutuhan energi.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Banjir Sumatra Sawit Penyebab Banjir Guru Besar IPB Prof. Dr. Ir. Sudarsono Soedomo



















