Rabu, 22/04/2026 23:33 WIB

Studi Ungkap Inti Bumi Bocorkan Emas, Ilmuwan Temukan Jejaknya dalam Lava





Sebuah gunung berapi memuntahkan lava dan asap saat meletus di Semenanjung Reykjanes, Islandia, 8 Februari 2024 (Foto: Handout via Reuters)

Jakarta, Jurnas.com - Penelitian terbaru mengungkap temuan mengejutkan bahwa inti Bumi kemungkinan “membocorkan” emas dan logam mulia lainnya ke permukaan. Fenomena ini terdeteksi melalui jejak unsur logam dalam lava vulkanik, khususnya di wilayah Hawaii.

Selama ini, para ilmuwan meyakini cadangan emas dan logam seperti rutenium terkunci di batas inti dan mantel Bumi yang berada sekitar 3.000 kilometer di bawah permukaan. Namun, bukti baru menunjukkan sebagian material tersebut perlahan naik melalui aktivitas vulkanik.

Dikutip dari Earth, penelitian yang melibatkan Nils Messling dari University of Göttingen menemukan sinyal kimia unik dalam lava. Temuan ini menjadi indikasi kuat bahwa material dari inti Bumi dapat bergerak menuju lapisan atas.

“Ketika hasil pertama muncul, kami menyadari bahwa kami benar-benar ‘menemukan emas’! Data kami mengonfirmasi bahwa material dari inti Bumi, termasuk emas dan logam mulia lainnya, sedang bocor ke mantel Bumi di atasnya,” ujar Nils Messling.

Analisis isotop menunjukkan adanya anomali unsur seperti tungsten dan rutenium yang tidak dapat dijelaskan tanpa sumber dari bagian terdalam Bumi. Hal ini memperkuat dugaan adanya pertukaran material antara inti dan mantel yang selama ini dianggap terisolasi.

Profesor Matthias Willbold menjelaskan bahwa volume besar material mantel panas ternyata berasal dari batas inti-mantel dan naik ke permukaan. Proses ini bahkan membentuk pulau vulkanik seperti Hawaii.

“Temuan kami tidak hanya menunjukkan bahwa inti Bumi tidak se-terisolasi seperti yang sebelumnya diasumsikan. Kami kini juga dapat membuktikan bahwa volume sangat besar material mantel yang sangat panas berasal dari batas inti-mantel dan naik ke permukaan Bumi,” ujar Matthias Willbold.

Bukti utama ditemukan pada batuan cair yang menjadi sumber letusan gunung berapi. Melalui aliran magma ini, logam dari inti Bumi diduga “menumpang” naik ke lapisan yang lebih dangkal selama jutaan tahun.

Meski pergerakannya sangat lambat, akumulasi jangka panjang memungkinkan sejumlah logam mencapai permukaan. Temuan ini membuka perspektif baru terkait asal-usul logam mulia yang kini banyak digunakan dalam teknologi modern.

Logam seperti emas memiliki peran penting dalam industri elektronik, energi terbarukan, hingga perangkat medis. Karena itu, pemahaman tentang distribusi alami logam menjadi krusial dalam studi geologi dan ekonomi sumber daya.

Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa inti Bumi tidak sepenuhnya tertutup seperti yang selama ini diyakini. Sebaliknya, terjadi pertukaran material secara perlahan namun berkelanjutan antar lapisan Bumi.

Para ilmuwan juga menemukan bahwa sebagian logam yang muncul ke permukaan kemungkinan berasal dari masa awal pembentukan Bumi lebih dari 4,5 miliar tahun lalu. Hal ini memberikan wawasan baru tentang evolusi planet dan komposisi awalnya.

“Apakah proses-proses yang kita amati saat ini juga telah berlangsung di masa lalu masih perlu dibuktikan. Temuan kami membuka perspektif yang sepenuhnya baru tentang evolusi dinamika internal planet kita,” ujar Nils Messling.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa fenomena ini tidak akan memicu eksploitasi emas secara besar-besaran. Volume logam yang naik ke permukaan sangat kecil dan lebih bernilai sebagai temuan ilmiah.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature ini membuka pemahaman baru tentang dinamika internal Bumi. Ke depan, penelitian lanjutan akan difokuskan untuk mengukur laju pergerakan logam serta dampaknya terhadap sistem geologi global.

Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa proses di dalam Bumi masih terus membentuk kondisi permukaan secara kompleks. Bahkan, dari kedalaman ribuan kilometer, jejaknya kini mulai terlihat di permukaan planet yang kita huni. (*)

KEYWORD :

Inti Bumi Emas dan Logam Mulia Lava Vulkanik




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :