Selasa, 21/04/2026 00:40 WIB

Peringatan Hari Kartini Setiap 21 April: Ini Sejarah hingga Tujuannya





Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia kembali menoleh ke belakang untuk memberikan penghormatan kepada Raden Ajeng (RA) Kartini.

Ilustrasi - ini sejarah dan makna dari peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April (Foto: Theasianparent)

Jakarta, Jurnas.com - Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia kembali menoleh ke belakang untuk memberikan penghormatan kepada Raden Ajeng (RA) Kartini.

Namun, esensi dari peringatan ini sejatinya melampaui parade busana adat; ini adalah perayaan atas lahirnya sebuah gagasan revolusioner yang memicu transformasi peran perempuan di tanah air.

Legitimasi peringatan ini berakar dari Keputusan Presiden RI No. 108 Tahun 1964. Melalui mandat Presiden Soekarno tersebut, Kartini resmi menyandang status sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Penetapan ini mengubah hari lahir sang pejuang menjadi sebuah pengingat abadi bahwa emansipasi adalah fondasi penting dalam pembangunan sebuah bangsa yang merdeka.

Lahir di Mayong, Jepara, pada tahun 1879, Kartini tumbuh dalam lingkaran aristokrat sebagai putri dari R.M. Sosroningrat dan M.A. Ngasirah.

Meskipun memiliki privilese untuk mengenyam pendidikan di Europesche Lagere School (ELS), langkahnya sempat terhenti oleh tembok tradisi pingitan.

Namun, sekat-sekat fisik di rumahnya gagal membelenggu intelektualitasnya. Melalui tumpukan buku dan korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Eropa, Kartini merumuskan kritik tajam terhadap feodalisme, pernikahan paksa, hingga minimnya akses pendidikan bagi kaum perempuan.

Gagasan-gagasan visioner tersebut akhirnya mendunia setelah J.H. Abendanon membukukan surat-suratnya pada tahun 1911 dengan tajuk Door Duisternis tot Licht.

Publik Indonesia mengenalnya secara luas melalui terjemahan ikonik Balai Pustaka tahun 1922, Habis Gelap Terbitlah Terang, yang kemudian dipoles secara sastrawi oleh Armijn Pane pada 1938.

Buku ini menjadi bukti otentik bahwa pemikiran seorang perempuan dari balik pingitan mampu menembus batas waktu dan wilayah.

Perjuangan Kartini tidak padam meski ia akhirnya menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat.

Berkat dukungan penuh dari sang suami, ia justru berhasil merealisasikan visinya dengan mendirikan sekolah bagi perempuan di Rembang.

Dalam berbagai catatan, Kartini mengungkapkan bahwa pernikahan justru memperluas cakrawala berpikirnya terhadap isu-isu sosial yang lebih kompleks.

Meskipun wafat dalam usia yang sangat muda, yakni 25 tahun, sesaat setelah melahirkan putranya pada 17 September 1904, semangat Kartini terbukti abadi.

Penghormatannya bahkan merambah ke kancah internasional; nama "Raden Adjeng Kartini" kini diabadikan sebagai nama jalan di kota-kota besar Belanda seperti Amsterdam dan Utrecht, bersanding dengan tokoh kemanusiaan dunia lainnya.

Di era modern 2026 ini, peringatan Hari Kartini telah bertransformasi menjadi momentum krusial untuk menagih janji kesetaraan gender dan keadilan pendidikan.

Sosok yang dikagumi oleh W.R. Supratman lewat lagu gubahannya ini tetap menjadi kompas bagi perempuan Indonesia untuk berani berpikir kritis, mematahkan stigma, dan berdiri tegak sebagai pilar kemajuan bangsa yang setara.

KEYWORD :

Hari Kartini 21 April Peringatan Hari Kartini RA Kartini




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :