Ilustrasi menambahkan garam ke dalam sayuran. (FOTO: SHUTTERSTOCK)
Jakarta, Jurnas.com - Konsumsi garam selama ini umumnya hanya dikaitkan dengan rasa makanan atau tekanan darah. Namun, sebuah penelitian terbaru menyoroti kemungkinan dampak lain: terlalu banyak natrium diduga dapat mempercepat penurunan daya ingat, khususnya pada pria.
Studi jangka panjang ini tidak hanya mengandalkan pengamatan singkat, tetapi mengikuti perubahan pola makan dan fungsi otak selama beberapa tahun untuk melihat bagaimana keduanya saling berkaitan.
Dikutip dari Earth, penelitian ini melibatkan lebih dari 1.200 orang dewasa lanjut usia yang pada awal studi tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan kognitif. Mereka merupakan bagian dari proyek riset penuaan dan kesehatan otak di Australia.
Setiap peserta melaporkan kebiasaan makan sehari-hari, yang digunakan peneliti untuk memperkirakan asupan natrium. Setelah itu, mereka dipantau selama 72 bulan dengan tes kognitif berkala yang mengukur memori, perhatian, bahasa, dan kemampuan pemecahan masalah.
Pendekatan ini penting karena memungkinkan peneliti melihat perubahan fungsi otak dari waktu ke waktu, bukan hanya satu titik pengukuran.
Pada tahap awal, hasil penelitian tampak tidak menunjukkan hubungan kuat antara asupan natrium dan penurunan kognitif secara umum.
Namun, pola berbeda muncul ketika data dianalisis lebih rinci. Pria dengan asupan natrium tinggi pada awal penelitian menunjukkan penurunan lebih cepat pada memori episodik, yaitu kemampuan mengingat pengalaman pribadi dan kejadian sehari-hari seperti percakapan atau lokasi barang.
Menariknya, hubungan ini tidak ditemukan pada perempuan.
“Temuan kami memberikan bukti awal adanya hubungan antara konsumsi natrium yang lebih tinggi dan fungsi kognitif, tetapi masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami sepenuhnya bagaimana dan mengapa hubungan ini terjadi,” kata Dr. Samantha Gardener dari Edith Cowan University.
Mengapa lebih banyak terjadi pada pria? Peneliti mencatat bahwa pria dalam studi ini rata-rata mengonsumsi lebih banyak natrium dan memiliki tekanan darah diastolik yang lebih tinggi. Kedua faktor ini dapat memberi tekanan jangka panjang pada pembuluh darah, termasuk yang memasok darah ke otak.
Aliran darah yang berkurang dapat memengaruhi beberapa bagian otak lebih cepat, terutama hipokampus, yang berperan penting dalam memori episodik.
“Peserta laki-laki juga menunjukkan tekanan darah yang lebih tinggi, yang dipengaruhi oleh asupan natrium, namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pendekatan yang spesifik berdasarkan jenis kelamin dan bagaimana natrium dapat dijadikan salah satu faktor gaya hidup yang dapat dimodifikasi untuk menunda munculnya Alzheimer,” ujar Dr. Gardener.
Meski tekanan darah diduga berperan, hubungan antara konsumsi garam dan penurunan daya ingat tetap terlihat bahkan setelah faktor tersebut diperhitungkan.
Peneliti kemudian mempertimbangkan kemungkinan mekanisme lain, seperti peradangan di otak, stres oksidatif, serta perubahan kemampuan otak dalam melindungi dirinya sendiri.
Dr. Gardener menjelaskan bahwa mekanisme pastinya masih belum jelas, namun konsumsi natrium tinggi dapat menyebabkan peradangan otak, kerusakan pembuluh darah, dan penurunan aliran darah.
“Ada indikasi dari penelitian sebelumnya bahwa natrium tinggi dapat berkontribusi pada proses di otak yang terkait dengan penurunan kognitif, namun penelitian lebih lanjut sangat penting untuk menentukan mekanisme yang mendasarinya dan menyusun rekomendasi diet di masa depan untuk mengurangi risiko demensia,” ujarnya.
Para peneliti menegaskan bahwa temuan ini menunjukkan hubungan, bukan bukti sebab-akibat langsung. Selain itu, penelitian memiliki keterbatasan, termasuk data pola makan yang dilaporkan sendiri dan pengukuran natrium yang hanya dilakukan di awal studi.
Meski begitu, hasil ini memperkuat gagasan bahwa pola makan sehari-hari dapat memengaruhi kesehatan otak secara perlahan dalam jangka panjang.
Garam tetap dibutuhkan tubuh untuk menjaga keseimbangan cairan dan fungsi dasar lainnya. Namun, konsumsi berlebih dalam jangka panjang menjadi masalah yang semakin umum, terutama dari makanan olahan dan makanan siap saji.
Peneliti menekankan bahwa perubahan tidak harus ekstrem, melainkan lebih pada peningkatan kesadaran terhadap pilihan makanan sehari-hari. Kesehatan otak dipengaruhi oleh banyak faktor, dan pola makan hanyalah salah satu bagian yang dapat dikendalikan setiap hari.
Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Neurobiology of Aging. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Efek Konsumsi Garam Penurunan Daya Ingat



























