Senin, 20/04/2026 12:58 WIB

Studi: Kesepian Bisa Ganggu Daya Ingat, tapi Tidak Sebabkan Demensia





Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa kesepian dapat berkontribusi terhadap gangguan memori pada lansia, namun tidak secara langsung menyebabkan demensia

Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa kesepian dapat berkontribusi terhadap gangguan memori pada lansia, namun tidak secara langsung menyebabkan demensia (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa kesepian dapat berkontribusi terhadap gangguan memori pada lansia, namun tidak secara langsung menyebabkan demensia. Temuan ini menegaskan bahwa keduanya merupakan kondisi yang berbeda dan tidak boleh disamakan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Aging and Mental Health ini mencoba menjelaskan hubungan antara kesepian dan penurunan fungsi kognitif yang selama ini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.

Dikutip dari Live Science, kesepian merupakan emosi yang wajar dialami banyak orang dan bukan merupakan kelemahan pribadi. Namun, kondisi ini dapat memengaruhi cara seseorang berpikir dan mengingat.

Para peneliti menekankan bahwa penting untuk memahami perbedaan antara penurunan kognitif dan demensia.

Penurunan kognitif merujuk pada melemahnya fungsi mental secara umum, sementara demensia adalah istilah payung untuk berbagai penyakit, termasuk Alzheimer, yang menyebabkan kehilangan memori, kebingungan, dan penurunan kemampuan hidup mandiri.

Dalam studi ini, lebih dari 10.000 orang berusia 65 hingga 94 tahun diikuti selama enam tahun. Seluruh peserta dalam kondisi sehat, mandiri, dan tidak memiliki demensia di awal penelitian.

Peneliti memantau perubahan memori mereka serta menilai apakah kesepian berperan dalam perubahan tersebut.

Hasilnya menunjukkan bahwa kesepian memang berkaitan dengan meningkatnya kesulitan memori. Namun, tidak ditemukan bukti bahwa kesepian menyebabkan demensia.

Temuan ini dinilai penting karena sering kali gangguan memori langsung diasosiasikan dengan demensia, padahal keduanya tidak selalu berkaitan langsung.

Peneliti juga mencatat bahwa kesepian jarang terjadi sendiri. Banyak peserta dalam studi ini juga memiliki kondisi lain seperti diabetes, tekanan darah tinggi, depresi, atau tingkat aktivitas fisik yang rendah—semua faktor yang juga dapat memengaruhi kesehatan otak.

Misalnya, diabetes dapat mengganggu cara otak memproses glukosa sebagai sumber energi, sementara depresi juga diketahui berdampak pada fungsi memori.

Hal ini membuat sulit untuk memisahkan dampak kesepian dari faktor-faktor lain tersebut secara pasti.

Salah satu temuan menarik adalah tingginya tingkat kesepian yang dilaporkan di wilayah Eropa Selatan, yang selama ini dikenal memiliki jaringan sosial kuat.

Peneliti menekankan bahwa kesepian bersifat subjektif. Artinya, seseorang bisa merasa kesepian meskipun berada di tengah banyak orang, tergantung pada seberapa terhubung mereka secara emosional.

Penelitian ini juga memiliki keterbatasan, salah satunya adalah menganggap kesepian sebagai kondisi tetap, padahal perasaan tersebut dapat berubah dari waktu ke waktu.

Meski demikian, studi ini memberikan wawasan penting bahwa layanan kesehatan mungkin perlu mempertimbangkan pemeriksaan tingkat kesepian sebagai bagian dari evaluasi kesehatan kognitif.

Peneliti juga menyampaikan bahwa otak manusia memiliki kemampuan beradaptasi yang baik. Gangguan memori yang terkait dengan kesepian dapat membaik ketika perasaan kesepian berkurang.

Menjaga aktivitas sosial juga diyakini dapat membantu meningkatkan fungsi kognitif secara keseluruhan.

Kesimpulannya, kesepian bukanlah faktor penentu utama seseorang mengalami demensia. Namun, kondisi ini tetap penting diperhatikan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan otak secara menyeluruh. (*)

KEYWORD :

Efek Kesepian Penurunan Daya Ingat Penurunan Fungsi Kognitif




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :