Suar gas di platform produksi minyak di Iran [REUTERS / Raheb Homavandi /]
WASHINGTON, Jurnas.com - Utusan Khusus Amerika Serikat (AS) untuk Iran, Rob Malley mengingatkan bahwa Washington tidak akan tinggal diam jika Teheran terlalu dekat dengan senjata nuklir.
Malley mengatakan hal itu dalam kutipan wawancara yang dirilis pada Rabu (24/11) menjelang dimulainya kembali pembicaraan minggu depan tentang menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015.
"Jika mereka mulai terlalu dekat, terlalu dekat untuk kenyamanan, maka tentu saja kami tidak akan siap untuk duduk diam," katanya kepada National Public Radio dalam sebuah wawancara, menurut kutipan yang dirilis penyiar AS.
Kutipan itu tidak membahas apa yang dia maksud dengan "terlalu dekat" atau opsi AS dalam kasus itu.
Presiden AS, Joe Biden berusaha menghidupkan kembali kesepakatan, di mana Iran setuju untuk membatasi program nuklirnya dengan imbalan bantuan dari sanksi AS, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Uni Eropa.
Pendahulu Biden, Donald Trump, meninggalkan kesepakatan pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi AS. Keputusan itu lantas membuat Iran mulai melanggar batas nuklirnya.
"Jika mereka memilih untuk tidak kembali ke kesepakatan, maka jelas kita harus melihat upaya lain - diplomatik dan sebaliknya - untuk mencoba mengatasi ambisi nuklir Iran," kata Malley dalam wawancara, yang direkam pada Selasa dan dijadwalkan tayang pada hari Jumat.
Malley mengatakan bahwa jika Iran memilih untuk tidak menghidupkan kembali kepatuhan terhadap perjanjian dan malah menyeret kakinya di meja perundingan dan terus mempercepat program nuklirnya, "kita harus merespons sesuai ... tahu, mereka akrab bagi semua orang." (REUTERS)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Iran Amerika Serikat Joe Biden Rob Malley

























