Selasa, 14/07/2020 14:11 WIB

Molases Tebu Jawab Kelangkaan Alkohol di Tengah Masa Penanganan Corona

Ketersediaan molases tebu yang berlimpah berpeluang untuk mendatangkan keuntungan pada biokonversi menjadi etanol. Molases ini memiliki kadar gula yang sangat tinggi, yaitu lebih dari 50%.

Molases tebu merupakan produk samping dari industri gula yang dapat dijadikan sebagai salah satu sumber alkohol. (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Seiring merebaknya virus corona (COVID-19), kebutuhan terahadap alkohol khususnya etanol sangat meningkat baik untuk kebutuhan sterilisasi maupun sanitasi. Namun, belakangan terjadi kelangkaan alkohol di beberapa apotik dan rumah sakit.

Untuk itu Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbangtan Kementan) turut bergerak membantu memproduksi alkohol  dari produk-produk pertanian.

Kepala Badan Litbang Pertanian, Fadjry Djufri meminta Balitbangtan agar menyediakan alhokol dari produk pertanian untuk membuat hand sinitizer, disinfektan, dan sabun cair antiseptic untuk dibagikan kepada pegawai, serta utamanya kepada masyarakat sekitar kantor.

Salah satu alkohol yang bisa digunakan yaitu bioetanol. Bahan baku untuk pembuatan bioetanol adalah sumber gula, sumber pati dan sumber serat (lignoselulosa). Molases tebu merupakan produk samping dari industri gula yang dapat dijadikan sebagai salah satu sumber gula.

Ketersediaan molases tebu yang berlimpah berpeluang untuk mendatangkan keuntungan pada biokonversi menjadi etanol. Molases ini memiliki kadar gula yang sangat tinggi, yaitu lebih dari 50%.

Kepala Balai Besar Pascapanen, Prayudi Syamsuri mengatakan proses pembuatan bioethanol dari moleses tebu ini sederhana dan mudah diaplikasikan.

"Pembuatan bioetanol dari molases hanya perlu melewati dua tahap, yakni fermentasi dan destilasi karena molases merupakan jenis bahan gula," ujar Prayudi.

Mikroorganisme yang digunakan untuk fermentasi bioetanol ini adalah Saccharomyces cerevisiae. Spesies ini akan memecah bahan berkarbohidrat menjadi etanol dan karbondioksida.

Penggunaan Saccharomyces cerevisiae untuk proses fermentasi memerlukan pengkondisian kadar gula awal. Kadar gula sampel yang akan difermentasi tidak boleh melebihi 20% karena dapat menghambat aktivitas khamir dan tidak sempurnanya produksi bioetanol.

Selain itu, kadar gula yang terlalu tinggi mengakibatkan waktu fermentasi lebih lama dan terdapat kemungkinan tidak seluruh gula diubah menjadi alkohol.

Cara pembuatannya adalah molases tebu dengan nilai total padatan terlarut (TPT) sekitar 70-71 0Brix diencerkan dengan penambahan aquades yang bertujuan untuk menurunkan TPT dalam molases menjadi 15 0Brix.

Selanjutnya, pH molases yang sudah diencerkan diatur pada pH 5 dengan penambahan NaOH dengan tujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dari Saccharomyces cerevisiae dari penambahan fermipan.

Fermentasi dilakukan pada suhu ruang selama 24, 48 atau 72 jam setelah ditambahkan urea dan fermipan. Setelah itu dilakukan destilasi selama 3-4 jam.

Sekadar diketahui, BB Litbang Pascapanen Pertanian sudah dapat menghasilkan teknologi produksi bioetanol dari molases tebu dengan hasil rendemen bioetanol yang tinggi, yaitu sekitar 40-45% dengan kadar alkohol diatas 90% dengan 1 kali proses destilasi.

TAGS : Molases Tebu Kelangkaan Alkohol Penanganan Corona Fadjry Djufri




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :