Selasa, 21/01/2020 13:02 WIB

Komentari FPI, Hendropriyono Disentil Pemerhati Politik

Hendropriyono disebut gelantur bandingkan FPI dengan Kartosoewirjo. Seperti gajah dibandingkan pohon durian. 

Ilustrasi FPI

Jakarta, Jurnas.com - Pernyataan Mantan Kepala BIN, AM Henrdopriyono yang membandingkan antara Front Pembela Islam (FPI) dengan gerakan Kartosoewirjo mendapat kritik pedas dari pemerhati politik asal Bandung, M Rizal Fadillah.

Hendropriyono, sebelumnya mengatakan, gerakan Kartosoewirjo yang besar saja berhasil ditumpas, apalagi FPI yang lebih kecil.

Sejarah mencatat, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo adalah tokoh yang memimpin pemberontakan Darul Islam melawan pemerintah Indonesia pada 1949 - 1962, dengan tujuan mengamalkan Al-Qur`an dan mendirikan Negara Islam Indonesia berdasarkan hukum syariah.

Nah, pernyataan Hendropriyono yang membandingkan FPI dengan Kartosoewirjo inilah yang dikritik pemerhati politik, M Rizal Fadillah..

Berikut ulasan dan kritikan yang disebar melalui jaringan komunikasi sosial dan diterima jurnas.com, Kamis (5/12/2019):

Pernyataan Hendropriyono soal keberadaan FPI nampaknya belepotan. Katanya Pemerintah jangan memiliki rasa percaya berlebihan. FPI disebut olehnya kelompok intoleran. Lalu ngelantur dihubungkan dengan Kartosoewirjo segala. Perbandingan yang tidak relevan seperti gajah dibandingkan pohon durian.

Pemerintah bukan percaya diri berlebihan, tetapi mencari solusi keseimbangan untuk kestabilan. Perpanjangan SKT bagi FPI merupakan kebijakan konstruktif bagi pemerintah sendiri. Menyebut FPI sebagai kelompok intoleran mesti berdasar tolok ukur. Hukum dasarnya bukan pandangan arogansi Hendro sendiri.

Mengaitkan FPI dengan Kartosoewirjo di samping perbandingan yang seperti gajah dengan pohon durian, juga FPI tidak berjuang untuk mendirikan Negara Islam. Berjuang membela Islam di Negara Pancasila.

Jika secara dokumen administrasi telah terpenuhi, wajib tindak lanjut dijalankan. Tidak ada alasan untuk tidak memperpanjang jika semua persyaratan administrasi telah lengkap.

Ini konsekuensi dari suatu negara hukum. Jika alasan diragukan soal loyalitas ideologi maka hal itu mesti dibuktikan. Dan jika dianggap menentang Pancasila tentu persoalan serius seperti ini harus ditetapkan oleh Pengadilan.

Tidak boleh sewenang wenang menafsirkan dengan bahasa keangkuhan kekuasaan.

Kembali ke sikap berang Hendropriyono, maka Hendro lah yang nyatanya over confidence bahkan arogan. Sok menjadi pengawal NKRI tapi sebenarnya memecah belah potensi bangsa di NKRI. Persatuan harus didahulukan.

Bukan membahasakan dengan "200 ribu mengorbankan 267 juta". FPI itu ada dan berdayaguna. Umat Islam tidak mempersoalkan keberadaan FPI. Bahwa ia punya karakter tegas itu sah sah saja sepanjang tidak melanggar hukum.

Premanisme di negara ini jauh lebih nyata dan berbahaya. Tanpa moralitas. Uang yang menjadi ukuran. Kelompok kelompok preman demikian kadang dipelihara.

FPI tentu berbeda karena memiliki standar moral yang jelas yakni agama. Tidak ada aksi yang berujung proses peradilan dan penghukuman.

FPI iku ono pak Hendro. Jangan menganggap kalah pemerintah jika memperpanjang SKT ormas FPI. Malu jika diposisikan Pemerintah adalah musuh FPI yang harus dimenangkan atau dikalahkan.

Betapa kecil dan kerdilnya Pemerintah jika demikian. FPI seperti ormas lain mesti diayomi sama dan harus dibangun kemitraan yang bersimbiosis mutualistis.

Orang juga sudah mulai membaca arogansi Hendro yang sedang membangun "kerajaan keluarga" dengan mengorbitkan Diaz atau Andika.

Hendro masih disorot ikut bertanggungjawab atas kematian Munir di pesawat saat terbang ke Belanda. Kolonel Hendro Priono yang memimpin "pembantaian" 246 pengikut Warsidi di Talangsari Lampung. Semua menjadi goresan hitam.

Hendro dengan bergantinya kekuasaan tidak berubah karakter untuk semakin bijak. Tetap tinggi hati. Tidak concern pada khidmat keumatan. Umat Islam selalu diposisikan berhadapan dan dianggap membahayakan. Cara pandang negatif yang sangat kontra produktif. Termasuk juga pada FPI.

FPI itu merupakan bagian dari potensi keumatan bangsa Indonesia. Mesti diajak melangkah bersama bukan untuk dimusuhi dan diberi predikat yang buruk.

FPI itu ada dan bisa berdayaguna untuk agama, bangsa dan negara.
Hendro FPI ono..!

M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik

TAGS : FPI Kartosoewirjo Hendropriyono




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :