Sabtu, 17/11/2018 03:42 WIB

Stabilkan Nilai Tukar Rupiah, Indonesia Harus Genjot Ekspor

Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar sudah pasti berdampak pada mahalnya barang-barang impor.

Uang Rupiah ilustrasi

Jakarta - Indonesia harus fokus meningkatkan nilai ekspornya untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar. Meningkatkan nilai ekspor akan jauh lebih efektif daripada kebijakan berupa intervensi pasar yang sudah dilakukan sebelumnya.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies Novani Karina Saputri mengatakan, nilai tukar Rupiah fluktuatif dan tidak bisa diprediksi menguat dalam waktu dekat.

Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang merespon kenaikan suku bunga The Fed dengan turut meningkatkan suku bunga acuan hanya efektif untuk jangka pendek. Hal ini, lanjutnya, juga tidak memberikan dampak signifikan terhadap kestabilan nilai tukar Rupiah.

Peningkatan nilai ekspor, lanjut Novani, juga penting untuk menstabilkan kembali neraca perdagangan. Neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit karena nilai impor migas mengalami peningkatan. Impor migas di Mei 2018 meningkat sebanyak 20,95% dibandingkan dengan bulan April dan meningkat 57,17% dibandingkan dengan bulan Mei 2017.

Misalnya saja ekspor di bidang manufaktur. Nilai ekspor Indonesia di bidang ini lebih rendah kalau dibandingkan Malaysia. Ekspor barang manufaktur Indonesia pada Januari-Desember 2017 tercatat US$ 114,67 miliar atau Rp 1.548 triliun (74,52 % dari total ekspor).

Sementara itu, pada periode yang sama, ekspor barang manufaktur Malaysia tercatat RM 703,08 milyar atau Rp 2.460 triliun (82,2% dari total ekspor). Diperlukan adanya peningkatan ekspor agar nilai ekspor bergerak naik. “BI dan pemerintah harus terus mencari upaya untuk meningkatkan potensi ekspor kita.
 
Meskipun optimis, tetapi harus terus diperhatikan bahkan ditingkatkan guna mengendalikan kondisi neraca perdagangan dan cadangan devisa kita. Apabila neraca perdagangan dan cadangan devisa membaik maka akan membantu menstabilkan nilai tukar rupiah yang terus melemah akibat goncangan global,” jelasnya.

Tidak selamanya BI dapat mengandalkan BI 7 days Repo Rate dan intervensi ganda melalui pasokan valas dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) untuk mengendalikan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar.

Apabila terus dilakukan, tidak menutup kemungkinan krisis ekonomi kembali terjadi mengingat rupiah terus melemah sejak awal tahun 2018.

“Daripada terus-terusan merespon kenaikan suku bunga The Fed dengan menaikkan suku bunga acuan dan intervensi pasar lainnya, BI sebaiknya bekerjasama dengan pemerintah untuk sama-sama meningkatkan nilai ekspor.

Indonesia punya banyak potensi ekspor yang potensial untuk digenjot produktivitasnya. Langkah ini lebih efektif dan berdampak pada kestabilan nilai Rupiah dan juga neraca perdagangan,” terang Novani.

Soal wacana perlunya penekanan nilai impor, Novani menambahkan, hal ini tidak tepat dan berisiko membuat tingginya harga komoditas di dalam negeri.

Untuk melarang atau mengurangi volume impor butuh pertimbangan khusus karena hal ini akan memengaruhi stabilitas harga di pasar domestik. Karena produksi dalam negeri tidak bisa memenuhi kebutuhan pasar domestik, maka impor harus tetap dilakukan untuk menjaga kestabilan harga.

Sebagai importir utama untuk beberapa barang terutama bahan pokok, Indonesia pasti terdampak oleh fenomena ini. Semakin mahalnya barang impor yang merupakan bahan pokok dan bahan produksi ini akan meningkatkan nilai jual produksi sehingga harga menjadi mahal.

“Tidak hanya industri besar, tetapi pedagang – pedagang kecil yang menjual bahan pokok juga merasakan meningkatnya harga. Inflasi semacam ini akan menurunkan daya beli masyarakat yang secara tidak langsung akan berdampak pada melemahnya perekonomian Indonesia secara agregat.,” tegasnya.
 
Nilai tukar Rupiah dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang dimaksud antara lain adalah kondisi sosial dan keamanan dalam negeri, yang pengaruhnya tidak terlalu besar terhadap stabilitas nilai tukar Rupiah.

TAGS : Rupiah Ekspor Indonesia




TERPOPULER :