Rabu, 14/11/2018 09:15 WIB

Negara Asean Perkuat Infrastruktur Sains dan Teknologi

Ajang tahunan ke-52 ini mempertemukan delapan negara, yakni Indonesia, Kamboja, Malaysia, Myanmar, Laos, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Pertemuan Asean SCIRD di Puspiptek Serpong, Senin (2/4)

Jakarta – Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan Sub-Committee on Science & Technology Infrastructure and Resurce Development (SCIRD) se-Asia Tenggara. Ajang tahunan ke-52 ini mempertemukan delapan negara, yakni Indonesia, Kamboja, Malaysia, Myanmar, Laos, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Sementara dua negara lainnya, yaitu Singapura dan Brunei Darussalam berhalangan hadir, dalam acara yang digelar di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Banten tersebut.

Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Prof. Ainun Naim menjelaskan, SCIRD Asean kali ini membahas soal penguatan kerjasama infrastruktur serta pengembangan sumber daya sains dan teknologi di antara negara-negara Asia Tenggara.

“Jadi infrastruktur jangan dibayangkan seperti jembatan atau pelabuhan. Yang dimaksud adalah jurnal dan laboratorium. Sifatnya saling melengkapi satu sama lain, termasuk penelitinya,” jelas Ainun Naim kepada awak media, Senin (2/4) di Serpong.

Ainun menambahkan, pada 2016 lalu, ASEAN Committee on Science and Technology (COST) telah menetapkan ASEAN Plan of Action on Science, Technology, and Innovation (APASTI), yakni sebuah rencana jangka panjang 2016-2025.

Sehingga, seluruh kegiatan riset, iptek, dan inovasi negara-negara ASEAN, harus berkiblat pada APASTI 2016-2025 tersebut. Termasuk di antaranya hasil pertemuan SCIRD kali ini.

“Di antara yang akan dibahas yaitu membangun mekanisme transfer teknologi, berupa program pendampingan dan insentif untuk perusahaan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi (iptekin), mulai dari start-up sampai perusahaan berdaya saing,” terang Ainun.

Puspitek merupakan kawasan penelitian terbesar di Indonesia yang dibangun pada 1976. Kawasan itu berdiri di atas lahan seluas 460 hektar, dan terdiri dari 49 pusat penelitian milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Tenaga Nuklir (Batan), Lmebaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

TAGS : Tekno Kemristekdikti Sains Iptek




TERPOPULER :