Bangunan hancur di Gaza, Palestina (Foto: Reuters)
Jakarta, Jurnas.com - Tiga tahun perang Israel di Jalur Gaza telah menimbulkan korban kemanusiaan dalam skala besar. Hingga 4 Oktober, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 74.237 warga Palestina tewas dan 175.206 lainnya terluka sejak perang dimulai pada Oktober 2023.
Jumlah kematian tersebut setara dengan sekitar 3,4 persen dari perkiraan populasi Gaza sebelum perang yang mencapai 2,2 juta jiwa. Artinya, sekitar satu dari setiap 30 penduduk Gaza tercatat telah meninggal akibat perang.
Di balik angka tersebut terdapat nama-nama yang menjadi simbol tragedi Gaza, seperti Hind Rajab, bocah perempuan yang memohon pertolongan dari sebuah mobil yang berada di bawah tembakan; Refaat Alareer, penyair dan guru; Khaled Nabhan, kakek yang menyebut cucunya yang tewas sebagai “soul of my soul”; serta Anas al-Sharif, jurnalis yang melaporkan kondisi Gaza utara.
Namun, korban perang tidak hanya terlihat dari jumlah kematian dan luka. Jutaan warga Palestina kehilangan rumah, terusir berulang kali, kehilangan sumber penghasilan, serta menghadapi kelangkaan pangan dan rusaknya layanan kesehatan serta pendidikan.
Gencatan senjata pada Oktober 2025 memang menurunkan intensitas pertempuran, tetapi tidak sepenuhnya menghentikan kematian maupun memungkinkan sebagian besar warga Gaza kembali ke rumah mereka.
Anak-anak dan keluarga menanggung beban besar
Dari 71.444 korban meninggal yang identitas usia dan jenis kelaminnya telah diketahui hingga 31 Desember 2025, sebanyak 47,7 persen merupakan laki-laki, 29,8 persen anak-anak, 15,4 persen perempuan dan 7,1 persen warga lanjut usia, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
Pada Oktober 2023 saja, sebanyak 8.805 warga Palestina dilaporkan tewas berdasarkan data WHO Health Cluster.
Ribuan warga lainnya juga diyakini masih hilang dan kemungkinan tertimbun di bawah bangunan yang hancur.
Hemaya Center for Human Rights dalam pernyataan 3 Oktober menyebut telah mendokumentasikan kematian 21.745 anak sejak Oktober 2023. Lembaga itu juga melaporkan sekitar 46.000 anak mengalami luka, termasuk sekitar 11.000 kasus amputasi pada bagian tungkai bawah.
Selain itu, terdapat 123 kematian anak akibat kekurangan gizi dan dehidrasi serta 293 kematian bayi prematur di tengah memburuknya layanan kesehatan, gangguan listrik, serta keterbatasan obat dan perlengkapan medis.
Besarnya kehilangan dalam keluarga bahkan sudah terlihat pada tahun pertama perang. Survei Palestinian Center for Policy and Survey Research yang dilakukan pada 26 Mei hingga 1 Juni 2024 menemukan 61 persen responden di Gaza mengatakan seorang anggota keluarganya telah terbunuh. Sebanyak 78 persen menyatakan ada kerabat yang tewas atau terluka.
Survei tersebut dilakukan di wilayah Gaza tengah dan selatan yang dapat diakses, tidak mencakup Gaza utara dan kawasan yang menjadi lokasi pertempuran aktif.
Hampir 1,9 juta warga Gaza kehilangan tempat tinggal
Kerusakan rumah menjadi salah satu persoalan kemanusiaan paling panjang akibat perang.
Menurut estimasi PBB, hampir 1,9 juta warga Palestina atau sekitar 90 persen populasi Gaza telah mengungsi selama perang. Banyak di antara mereka harus berpindah tempat berkali-kali.
Bagi banyak keluarga, pengungsian berlangsung lama karena rumah mereka telah hancur atau tidak lagi aman untuk ditempati.
Penilaian Bank Dunia, PBB dan Uni Eropa yang diterbitkan pada April mencatat 371.888 unit rumah rusak atau hancur. Jumlah itu setara sekitar 77 persen dari seluruh stok perumahan Gaza berdasarkan kerusakan hingga Oktober 2025.
Sementara itu, Biro Pusat Statistik Palestina mencatat sekitar 201.290 bangunan mengalami kerusakan hingga 16 Juni 2026, atau sekitar 82 persen dari seluruh bangunan di Gaza. Sebanyak 134.422 bangunan di antaranya dilaporkan hancur total.
Kondisi tempat tinggal warga juga masih jauh dari layak. Sekitar 94 persen penduduk Gaza membutuhkan bantuan tempat tinggal dan kebutuhan rumah tangga dasar berdasarkan penilaian Shelter Cluster yang dikutip OCHA dan menggunakan survei pada Juni.
Saat itu, hingga 65 persen rumah tangga tinggal di tenda atau tempat penampungan darurat yang hanya memberikan perlindungan terbatas dari cuaca.
Lebih dari separuh keluarga yang tinggal di tenda telah menggunakan tenda yang sama selama lebih dari satu tahun. Lebih dari separuh tenda dan tempat penampungan darurat yang dinilai juga berada dalam kondisi buruk atau sangat buruk.
OCHA turut mengidentifikasi ratusan lokasi pengungsian yang berisiko terdampak banjir, sehingga ratusan ribu warga yang tinggal di tempat penampungan sementara menghadapi ancaman tambahan.
Ekonomi Gaza nyaris lumpuh
Perang juga menghancurkan kemampuan keluarga untuk memperoleh penghasilan.
Laporan UN Trade and Development yang dirilis 24 September memperkirakan 92 persen unit usaha ekonomi di Gaza mengalami kerusakan atau kehancuran sejak Oktober 2023. Konflik tersebut juga menghancurkan ratusan ribu lapangan kerja dan menghapus miliaran dolar pendapatan tenaga kerja yang seharusnya dapat diperoleh di wilayah Palestina yang diduduki.
Tingkat pengangguran di Gaza mencapai 78 persen, sementara lebih dari 90 persen penduduk usia kerja tidak memiliki pekerjaan.
Output ekonomi tahunan per kapita Gaza pada 2025 turun menjadi hanya 212 dolar AS, sekitar 17 persen dari tingkat pada 2022.
Pada saat yang sama, harga-harga pada 2025 tercatat 274 persen lebih tinggi dibandingkan 2022. Sejumlah kebutuhan pokok, termasuk kentang dan gas untuk memasak, dijual dengan harga beberapa kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Hampir seluruh sektor produktif ikut terdampak. Produksi pertanian dan industri masing-masing anjlok 94 persen dibandingkan 2022, sementara sektor konstruksi merosot 99 persen.
Lahan pertanian hancur, ketergantungan bantuan pangan meningkat
Kerusakan lahan pertanian dan hilangnya pendapatan rumah tangga membuat warga semakin kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.
UN Trade and Development memperkirakan kurang dari 1,5 persen lahan pertanian Gaza yang masih dapat diakses sekaligus tidak mengalami kerusakan.
Kondisi tersebut membuat ketahanan pangan Gaza sangat bergantung pada bantuan. Sebagian besar penduduk, termasuk anak-anak serta perempuan hamil dan menyusui, menghadapi kerawanan pangan akut dan kekurangan gizi.
Dampaknya dapat berlangsung jauh lebih lama daripada perang itu sendiri. PBB memperingatkan anak-anak di bawah usia lima tahun berisiko mengalami dampak yang tidak dapat dipulihkan, termasuk pertumbuhan terhambat, gangguan kognitif dan masalah perkembangan yang dapat memengaruhi kesehatan mereka dalam jangka panjang.
Kematian masih dilaporkan setelah gencatan senjata
Gencatan senjata Oktober 2025 belum mengakhiri seluruh korban jiwa.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya 1.460 warga Palestina tewas dan 5.116 lainnya terluka sejak gencatan senjata tersebut, sementara 835 jenazah telah ditemukan.
Kerusakan sistem kesehatan juga memperberat kondisi warga. Lebih dari separuh rumah sakit dan klinik layanan kesehatan primer di Gaza tidak berfungsi, menurut penilaian yang dikutip UN Trade and Development.
Sektor pendidikan menghadapi kerusakan serupa. UNICEF mencatat hampir 98 persen bangunan sekolah di Gaza telah mengalami kerusakan sejak Oktober 2023. Lebih dari 93 persen di antaranya membutuhkan rehabilitasi besar atau pembangunan kembali secara menyeluruh.
Sekitar 541.000 siswa kembali bersekolah pada September berdasarkan data Palestina, tetapi banyak di antara mereka belajar di ruang kelas darurat dengan keterbatasan perlengkapan dasar.
Selama tiga tahun, pendidikan tatap muka anak-anak Gaza juga terputus secara berkepanjangan. UNICEF menyebut sekitar 700.000 anak berusia 4 hingga 17 tahun kehilangan pendidikan formal tatap muka selama tiga tahun berturut-turut. Dari jumlah tersebut, sekitar 420.000 anak sama sekali tidak memperoleh pembelajaran tatap muka.
Rekonstruksi Gaza membutuhkan puluhan miliar dolar
Kerusakan yang terjadi membuat persoalan Gaza tidak berhenti pada penghentian perang. Pemulihan rumah, fasilitas kesehatan, sekolah, infrastruktur, sektor ekonomi dan sumber penghidupan akan menjadi tantangan jangka panjang.
Laporan terbaru UN Trade and Development memperkirakan kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi Gaza mencapai 71,5 miliar dolar AS. Angka tersebut masih dapat meningkat seiring ditemukannya kerusakan baru.
Tiga tahun perang dengan demikian telah meninggalkan dampak yang jauh melampaui angka korban jiwa. Puluhan ribu orang tewas, jutaan warga terusir dari rumah, sumber penghasilan hancur, sistem kesehatan dan pendidikan rusak, sementara anak-anak menghadapi risiko dampak jangka panjang akibat kehilangan tempat tinggal, pendidikan dan akses pangan.
Bagi sebagian besar warga Gaza, berakhirnya intensitas pertempuran belum berarti berakhirnya krisis. Jalan menuju kehidupan normal masih terbentang panjang di tengah kehancuran yang membutuhkan pemulihan dalam skala besar. (*)
Sumber: Anadolu
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Perang Israel jalur Gaza Warga Palestina


























