Jurnalis Palestina yang dilaporkan tewas pada perang di Jalur Gaza (Foto: Anadolu)
Jakarta, Jurnas.com - Tiga tahun perang Israel di Jalur Gaza telah menelan korban besar di kalangan jurnalis Palestina. Sebanyak 263 jurnalis dan pekerja media dilaporkan tewas, hampir 500 lainnya terluka, sementara puluhan jurnalis ditahan atau masih dinyatakan hilang di tengah kehancuran wilayah tersebut.
Direktur Kantor Media Pemerintah Gaza, Ismail al-Thawabta, mengatakan kepada Anadolu bahwa 50 jurnalis telah ditahan di penjara Israel sejak Oktober 2023. Dari jumlah tersebut, 23 orang masih berada dalam tahanan, sedangkan tiga jurnalis lainnya belum diketahui keberadaannya.
Ketiga jurnalis yang dilaporkan hilang adalah Nidal Suheil al-Wahidi, Haitham Jamal Abdul Wahid, dan Ahmad Issam al-Agha.
Besarnya jumlah korban juga mendapat perhatian organisasi profesi internasional. Pada 7 September, Federasi Internasional Jurnalis (IFJ) menyatakan bahwa jumlah jurnalis yang tewas di Gaza merupakan yang tertinggi dalam sejarah jurnalisme modern.
Organisasi tersebut menyebut data korban terus ditinjau dan diperbarui seiring munculnya informasi baru.
Di tengah situasi itu, jurnalis Palestina tetap menjadi sumber utama pemberitaan langsung dari Gaza. Israel masih melarang jurnalis asing memasuki wilayah tersebut, sementara para reporter lokal harus bekerja di tengah serangan, pengungsian, dan keterbatasan sarana peliputan.
Lebih dari Seperlima Jurnalis Gaza Tewas
Persatuan Jurnalis Palestina sebelumnya menyebut 27 jurnalis perempuan termasuk di antara korban tewas. Organisasi itu juga memperkirakan bahwa dari sekitar 1.200 jurnalis yang berada di Gaza, lebih dari seperlima telah kehilangan nyawa selama perang.
Dampak perang tidak berhenti pada korban jiwa. Persatuan Jurnalis Palestina memperkirakan sekitar 60–75 persen jurnalis yang masih hidup telah kehilangan rumah atau terpaksa mengungsi. Jumlah mereka diperkirakan mencapai 700 hingga 900 orang.
Lebih dari 80 persen kantor dan lembaga media di Gaza juga dilaporkan hancur seluruhnya atau mengalami kerusakan sebagian. Kondisi ini memaksa banyak jurnalis bekerja dari tenda pengungsian, lokasi perpindahan warga, hingga halaman rumah sakit.
Mereka harus melanjutkan peliputan di tengah keterbatasan listrik, akses internet, kamera, serta perlengkapan pelindung. Sebagian juga kehilangan anggota keluarga dan tempat tinggal akibat serangan yang menghantam wilayah tempat mereka bekerja maupun berlindung.
Al-Thawabta menyebut serangan Israel telah merusak atau menghancurkan 16 kantor televisi satelit, 11 lembaga radio, 12 kantor surat kabar dan majalah, serta 23 organisasi media digital. Kerusakan juga mencakup 27 percetakan dan lima organisasi serikat pekerja serta hak-hak yang berkaitan dengan sektor media.
Ia memperkirakan kerugian sektor media mencapai sekitar US$1 miliar, termasuk kerusakan gedung, peralatan, kendaraan siaran, dan perangkat teknis.
Jurnalis Tewas Saat Menjalankan Tugas
Sejumlah jurnalis tewas ketika menjalankan tugas peliputan atau berada di lokasi yang menjadi sasaran serangan. Pada November 2023, Bilal Jadallah, Direktur Jenderal Press House-Palestine, tewas ketika serangan Israel menghantam kendaraannya di Kota Gaza.
Jadallah dikenal sebagai salah satu tokoh yang mendukung pengembangan media independen Palestina. Ia turut membantu mendirikan kantor berita Sawa serta melatih jurnalis dan menyediakan perlengkapan keselamatan bagi pekerja media.
Pada awal Desember 2023, Montaser al-Sawwaf, juru kamera lepas Anadolu, tewas bersama saudaranya, Marwan, dalam serangan udara Israel. Montaser telah bekerja dengan Anadolu sejak 2014 dan sebelumnya selamat dari serangan terhadap rumah keluarganya yang menewaskan orang tua serta beberapa saudaranya.
Meski mengalami luka pada mata dan hidung, ia tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai jurnalis. Montaser lahir pada 1990, telah menikah, memiliki dua anak, dan menempuh pendidikan jurnalistik serta media di Universitas Al-Aqsa.
Pada 15 Desember 2023, Samer Abu Daqqa, juru kamera Al Jazeera, meninggal setelah serangan pesawat nirawak di Sekolah Farhana, Khan Younis. Menurut laporan tersebut, tim penyelamat darurat tidak dapat menjangkaunya selama lebih dari lima jam. Meski keluarganya tinggal di Belgia, Abu Daqqa memilih tetap berada di Gaza untuk melanjutkan pekerjaan jurnalistiknya.
Korban di kalangan jurnalis berlanjut pada 2024. Hamza al-Dahdouh dan Mustafa Thuraya tewas pada Januari ketika serangan Israel menghantam kendaraan mereka di sebelah barat Khan Younis.
Hamza merupakan putra Wael al-Dahdouh, kepala biro Al Jazeera di Gaza. Sebelumnya, ibu dan sejumlah saudara Hamza tewas dalam serangan Israel terhadap sebuah rumah yang menjadi tempat berlindung keluarganya di kamp pengungsi Nuseirat pada Oktober 2023.
Pada Oktober 2024, jurnalis foto Hassan Hamad, yang bekerja untuk sejumlah media, tewas dalam serangan Israel di Gaza utara. Jenazahnya dibawa ke Rumah Sakit Kamal Adwan, tempat saudaranya mengenalinya melalui rambut dan rompi pers yang dikenakannya.
Serangan terhadap Jurnalis Berlanjut hingga 2025
Pada 10 Januari 2025, jurnalis lepas Anadolu, Saed Abu Nabhan, tewas ditembak penembak jitu Israel ketika menjalankan kegiatan jurnalistik dan kemanusiaan di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah.
Pada Juni tahun yang sama, serangan Israel menewaskan koresponden Palestine Today Suleiman Hajjaj, juru kamera stasiun tersebut Ismail Badah, serta editor Shams News Samir al-Rifai. Jurnalis Youssef al-Nakhala dari Al-Watania Media Agency juga meninggal akibat luka yang dideritanya setelah serangan Israel pada 31 Mei.
Pada 10 Agustus 2025, serangan udara Israel terhadap sebuah tenda di dekat Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza barat, menewaskan enam jurnalis. Di antara korban terdapat koresponden Al Jazeera Anas al-Sharif dan Mohammed Qreiqeh.
Al-Sharif dikenal luas melalui laporan mengenai bombardir, kelaparan, dan pengungsian di Gaza utara, wilayah yang mengalami serangan udara dan darat intensif pada awal perang. Qreiqeh sebelumnya bekerja untuk media lokal sebelum bergabung dengan Al Jazeera. Ibunya tewas dalam serangan militer Israel terhadap Rumah Sakit Al-Shifa pada Maret 2024.
Dua pekan kemudian, pada 25 Agustus, serangan Israel terhadap Rumah Sakit Nasser di Khan Younis menewaskan lima jurnalis yang sedang bekerja. Mereka adalah Mariam Abu Daqqa, Hossam al-Masri, Mohammed Salama, Moaz Abu Taha, dan Ahmad Abu Aziz.
Korban Jurnalis Bertambah Setelah Gencatan Senjata
Jumlah jurnalis Palestina yang tewas masih bertambah setelah kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan pada 10 Oktober 2025. Data Kantor Media Pemerintah Gaza menunjukkan jumlah korban meningkat dari 254 menjadi 263 orang setelah gencatan senjata tersebut.
Pada 12 Oktober 2025, kantor itu mencatat kematian pertama seorang jurnalis selama masa gencatan senjata, yakni Saleh al-Jaafarawi. Menurut kantor tersebut, ia ditembak oleh kelompok bersenjata yang disebut memiliki hubungan dengan Israel ketika melaporkan situasi di lingkungan Sabra, bagian selatan Kota Gaza.
Korban di kalangan pekerja media juga dilaporkan pada 2026. Koresponden Al Jazeera Mohammed Wishah tewas dalam serangan Israel pada April, sedangkan saudaranya, Ahmad, yang bekerja sebagai juru kamera untuk saluran tersebut, tewas pada 20 Juni.
Nama lain yang disebut dalam daftar korban pada 2026 adalah Amal al-Shamali, Anas Ghoneim, Abdul Raouf Shaat, dan Mohammed Qishta.
Bertambahnya korban setelah gencatan senjata menunjukkan bahwa ancaman terhadap pekerja media belum sepenuhnya berakhir. Para jurnalis masih menghadapi risiko ketika meliput serangan, kondisi pengungsian, dan dampak perang terhadap kehidupan warga sipil.
Jurnalisme Tanpa Dinding di Tengah Kehancuran Gaza
Persatuan Jurnalis Palestina menggambarkan kondisi kerja para reporter di Gaza sebagai “journalism without walls” atau jurnalisme tanpa dinding. Istilah tersebut mencerminkan hilangnya rumah dan kantor media yang selama ini menjadi tempat bekerja, sehingga banyak jurnalis terpaksa melaporkan peristiwa dari tenda pengungsian dan halaman rumah sakit.
Sebagian jurnalis berpindah bersama keluarga mereka sambil membawa peralatan yang masih tersisa. Mereka harus terus bekerja meski kehilangan tempat tinggal, akses komunikasi, dan fasilitas dasar yang diperlukan untuk menjalankan tugas jurnalistik.
Di tengah kondisi tersebut, laporan para jurnalis lokal menjadi salah satu sumber informasi utama mengenai situasi di Gaza, terutama karena akses jurnalis asing ke wilayah itu masih dibatasi.
Secara keseluruhan, perang Israel di Gaza sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 175.000 orang, menurut data yang dikutip dalam laporan tersebut. Sekitar 90 persen infrastruktur di wilayah itu juga dilaporkan hancur.
Meski kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas diumumkan pada Oktober 2025, Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan serangan Israel setelah kesepakatan tersebut telah menewaskan 1.454 warga Palestina dan melukai 5.090 lainnya. (*)
Sumber: Anadolu
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Jurnalis Palestina Jalur Gaza Perang Gaza

























