Rabu, 20/05/2026 11:28 WIB

Studi Global Ingatkan Konservasi Alam Tak Bisa Abaikan Warga Lokal





Target besar dunia untuk melindungi alam ternyata menyimpan tantangan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar menetapkan kawasan konservasi baru

Ilustrasi - Peternak Sapi bersikeras bahwa bisnisnya adalah tentang konservasi hewan (Foto: Dailystar Sunday)

Jakarta, Jurnas.com - Target besar dunia untuk melindungi alam ternyata menyimpan tantangan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar menetapkan kawasan konservasi baru.

Penelitian global terbaru mengungkap bahwa miliaran manusia tinggal di wilayah yang berpotensi masuk dalam area perlindungan lingkungan atau konservasi alam, sehingga keberhasilan konservasi kini sangat bergantung pada dukungan masyarakat lokal.

Studi tersebut menyoroti bahwa perlindungan alam tidak bisa hanya berfokus pada hutan, satwa liar, atau peta kawasan hijau semata. Faktor kehidupan manusia, mata pencaharian, hingga keadilan sosial menjadi elemen yang menentukan keberhasilan target konservasi global menuju 2030.

Dikutip dari Earth, pada 2022, berbagai negara menyepakati target global untuk melindungi 30 persen wilayah daratan dan perairan dunia pada 2030. Target tersebut menjadi inti dari Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework.

Saat kesepakatan dibuat, baru sekitar 17,5 persen wilayah daratan dan perairan pedalaman yang memiliki status perlindungan. Artinya, dunia harus memperluas kawasan konservasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya hanya dalam beberapa tahun ke depan.

Namun kesepakatan tersebut juga membawa syarat penting: upaya konservasi baru wajib menghormati hak masyarakat adat, mendukung komunitas lokal, dan tetap memungkinkan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.

Dari sinilah muncul pertanyaan besar: siapa sebenarnya yang tinggal di wilayah yang akan dijadikan kawasan konservasi baru?

Penelitian menunjukkan bahwa banyak wilayah yang diproyeksikan menjadi kawasan konservasi baru sebenarnya telah lama dihuni manusia.

“Jika melihat lokasi calon kawasan konservasi baru, wilayah-wilayah ini bukan lahan kosong. Sering kali banyak orang tinggal di sana,” kata Chris Sandbrook dari University of Cambridge Conservation Research Institute.

Menurut Sandbrook, perencanaan perubahan penggunaan lahan demi mencapai target konservasi global harus mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat setempat.

Dalam studi tersebut, peneliti menguji tiga pendekatan berbeda untuk mencapai target perlindungan 30 persen wilayah bumi.

Pendekatan pertama berfokus pada keanekaragaman hayati, yakni memilih kawasan yang kaya spesies dan ekosistem penting yang membutuhkan perlindungan segera.

Pendekatan kedua menitikberatkan pada manfaat alam bagi manusia atau Nature’s Contributions to People, seperti penyediaan air bersih, penyerbukan tanaman, dan pengaturan iklim.

Pendekatan ketiga berfokus pada wilayah adat dan tradisional yang selama ini telah dikelola masyarakat lokal.

Ketiganya sama-sama dapat mencapai target konservasi global, tetapi dampak sosial yang ditimbulkan sangat berbeda. Skala dampaknya dinilai sangat besar.

Dalam pendekatan berbasis keanekaragaman hayati, sekitar 2,2 miliar orang diperkirakan akan tinggal di dalam kawasan konservasi baru. Jika menghitung masyarakat di sekitar kawasan tersebut, jumlahnya meningkat menjadi 2,7 miliar orang.

Pendekatan kedua diperkirakan berdampak langsung pada sekitar satu miliar orang. Sementara pendekatan berbasis wilayah adat berdampak pada sekitar 517 juta orang, terutama komunitas yang sangat bergantung pada sumber daya alam lokal.

Sebagai perbandingan, saat ini diperkirakan sekitar 396 juta orang tinggal di kawasan lindung di seluruh dunia.

Penelitian juga menganalisis kondisi ekonomi masyarakat menggunakan Human Development Index atau HDI. Hasilnya menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang tinggal di kawasan calon konservasi memiliki tingkat pembangunan lebih rendah dibanding rata-rata nasional.

Dalam pendekatan berbasis wilayah adat, lebih dari 60 persen populasi terdampak berada pada kategori pembangunan manusia terendah. Lebih dari 90 persen berada pada kategori rendah hingga menengah.

Artinya, ekspansi konservasi global berpotensi memberikan beban terbesar kepada kelompok yang justru paling rentan secara ekonomi.

Para peneliti menegaskan bahwa persoalan terbesar bukan hanya soal tempat tinggal, tetapi juga cara masyarakat bertahan hidup.

Di wilayah adat dan tradisional, banyak masyarakat menggantungkan hidup dari berburu, memancing, dan mengumpulkan sumber daya alam liar. Pembatasan akses tanpa alternatif yang jelas bisa memicu kerusakan ekonomi dan sosial yang serius.

Sementara itu, dalam pendekatan berbasis keanekaragaman hayati, sekitar 61 persen wilayah tumpang tindih dengan lahan pertanian.

Pembatasan aktivitas bertani dinilai dapat mengganggu sistem pangan lokal. Peternakan dan penggembalaan ternak juga muncul di hampir seluruh skenario konservasi, menambah kompleksitas tantangan yang harus dihadapi.

Asia disebut sebagai kawasan dengan jumlah populasi terdampak terbesar. Dalam skenario konservasi berbasis keanekaragaman hayati, lebih dari satu miliar orang di Asia diperkirakan akan tinggal di kawasan konservasi baru.

Di banyak wilayah, masyarakat terdampak juga memiliki tingkat pembangunan lebih rendah dibanding rata-rata negara mereka masing-masing.

Penelitian menegaskan bahwa konservasi bukanlah masalah utama. Yang menentukan adalah bagaimana kawasan konservasi tersebut dikelola.

“Dalam banyak kasus, masyarakat yang tinggal paling dekat dengan kawasan konservasi justru sering merasakan dampak negatifnya,” ujar Javier Fajardo, penulis utama penelitian.

Sejarah konservasi dunia mencatat banyak contoh pendekatan eksklusif yang memaksa masyarakat meninggalkan tanah mereka atau membatasi akses terhadap sumber daya alam.

Akibatnya tidak hanya hilangnya mata pencaharian, tetapi juga rusaknya budaya dan kehidupan sosial masyarakat setempat.

Sebaliknya, pendekatan inklusif yang melibatkan masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan dinilai mampu menciptakan perlindungan alam yang lebih efektif sekaligus adil.

Saat ini, sebagian besar perencanaan konservasi masih berfokus pada data ekologis seperti habitat, spesies, dan penyimpanan karbon. Data sosial sering kali baru dipertimbangkan belakangan, atau bahkan diabaikan.

Padahal menurut peneliti, memahami penggunaan lahan, ekonomi lokal, dan hak masyarakat dapat membantu menentukan wilayah konservasi yang realistis sekaligus meminimalkan dampak sosial.

Penelitian ini juga menilai sistem pemantauan konservasi global masih terlalu fokus pada luas kawasan lindung dan keberhasilan ekologis, bukan dampaknya terhadap manusia.

Akibatnya, sebuah negara bisa saja dianggap berhasil mencapai target konservasi meski masyarakat lokal mengalami kerugian besar.

Peneliti menegaskan bahwa target konservasi global 30×30 sebenarnya dapat memberikan manfaat besar, baik bagi lingkungan maupun manusia, jika dijalankan dengan cara yang tepat.

Namun untuk mencapainya, dunia membutuhkan komitmen besar dalam mendukung masyarakat lokal yang hidup berdampingan langsung dengan alam.

“Jika target konservasi global dicapai dengan cara yang benar, hasilnya bisa sangat bermanfaat bagi manusia sekaligus alam,” kata Fajardo.

Menurutnya, melindungi ekosistem dan mendukung komunitas lokal bukanlah dua tujuan yang terpisah, melainkan harus berjalan bersama menuju 2030. (*)

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Communications. Sumber: Earth

KEYWORD :

Studi Global Konservasi Alam Peranan Warga Lokal Global Biodiversity Framework




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :