Legenda Manchester United (MU), Eric Cantona (Foto: EPA/The Straits Times)
Cannes, Jurnas.com - Legenda sepak bola Prancis, Eric Cantona, mengungkapkan bahwa dirinya telah menjalani terapi psikis atau psikoterapi sejak berusia 20 tahun. Namun, dalam sebuah film dokumenter tentang perjalanan hidupnya, Cantono mengaku masih terus berjuang melawan `iblis` di dalam dirinya.
Salah satu tokoh paling menarik dan berwarna dalam dunia sepak bola ini setuju untuk terbuka mengenai ego eksplosif dan rapuhnya yang terkenal dalam dokumenter berjudul "Cantona", yang merupakan satu dari dua dokumenter sepak bola yang tayang perdana di Festival Film Cannes.
Film berdurasi 115 menit karya sutradara asal Inggris, David Tryhorn dan Ben Nicholas, ini menampilkan sesi wawancara mendalam bersama mantan pesepak bola yang kini beralih profesi menjadi aktor tersebut. Suasananya terkadang menyerupai sesi psikoanalisis yang panjang.
Wawasan dari mantan manajer Manchester United, Alex Ferguson, dan mantan rekan setimnya, David Beckham, serta iringan musik yang memikat dari salah satu personel grup musik dance legendaris era 1990-an, Orbital, membuat dokumenter ini sangat menarik untuk ditonton.
"Saya terus-menerus mencoba mencari tahu siapa diri saya sebenarnya, dan itulah alasan mengapa saya melakukan yang terbaik untuk bertindak berdasarkan insting sebanyak mungkin. Tentu saja, ada kalanya keadaan menjadi sedikit tidak terkendali, tetapi itu adalah bagian dari kehidupan dan saya menerimanya," ujar Eric Cantona kepada AFP pada Sabtu (16/5).
Ketika ditanya apakah terapi yang dijalaninya telah membuahkan hasil, Cantona memberikan penjelasan mengenai proses panjang yang telah ia lewati tersebut.
"Saya sudah menjalaninya dalam porsi yang banyak. Saya memulainya pada usia 20 tahun dan saya terus melanjutkannya di berbagai momen yang berbeda. Ini adalah sebuah dunia yang sangat menarik perhatian saya," ujar pria 59 tahun itu.
City Siap Bajak Anak Legenda MU
Di dalam film dokumenter "Cantona", ia berulang kali merujuk pada istilah "api" dan "iblis" di dalam dirinya yang menjadikannya sosok yang sangat mudah meledak, baik di dalam maupun di luar lapangan hijau, namun di sisi lain juga mampu mengubah arah pertandingan lewat sebuah umpan jenius atau gol yang mengandalkan insting murni.
Dokumenter ini berfokus pada periode lima tahun penuh trofi yang ia habiskan di Old Trafford yang berhasil melambungkan namanya menjadi salah satu bintang terbesar dalam sepak bola, namun sekaligus sosok yang penuh reputasi buruk akibat aksi tendangan kungfu terhadap seorang penonton setelah dia dikartu merah di markas Crystal Palace pada 1995 silam.
"Tentu saja, saya punya banyak ingatan tentang hal itu di kepala saya dan adalah hal yang baik untuk bisa menerimanya. Saya membuat mereka hidup berdampingan bersama dan mereka suka berpesta," dia menambahkan.
Terdapat sejumlah film bertema sepak bola yang mengejutkan di Cannes tahun ini, yang biasanya dikenal sebagai kuil tertinggi bagi perfilman seni. Film buatan Argentina berjudul The Match turut menyoroti pertandingan perempat final Piala Dunia 1986 yang terkenal antara Inggris dan Argentina, yang ditentukan oleh gol kontroversial menggunakan tangan oleh Diego Maradona.
Dokumenter bertema sepak bola memang mengalami perkembangan pesat dan menjamur dalam beberapa tahun terakhir. Serial hit Netflix pada 2023 tentang David Beckham turut andil dalam membantu mempopulerkan genre ini di mata pemirsa global.
Sebuah produksi film baru yang mengangkat kisah pelatih sepak bola ternama asal Italia, Carlo Ancelotti, yang disutradarai oleh Paulo Sorrentino juga baru saja diumumkan di Cannes pada 15 Mei kemarin.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Dokumenter Cantona Festival Cannes Legenda MU



























