Minggu, 17/05/2026 01:43 WIB

Mengenal Sosok Abdul Malik Fadjar, Pencetus Hari Buku Nasional di Indonesia





Gagasan yang ia cetuskan pada 2002 hingga kini masih diperingati setiap tahun sebagai pengingat pentingnya buku bagi kemajuan bangsa.

Mengenal sosok Abdul Malik Fadjar, Menteri Pendidikan Nasional yang mencetuskan Hari Buku Nasional pada tahun 2002 (Foto: Google)

Jakarta, Jurnas.com - Setiap tanggal 17 Mei, Indonesia memperingati Hari Buku Nasional sebagai momentum untuk meningkatkan budaya membaca dan mendorong tumbuhnya literasi masyarakat.

Namun di balik peringatan tersebut, terdapat sosok penting yang menjadi penggagas lahirnya Hari Buku Nasional, yakni Abdul Malik Fadjar.

Gagasan yang ia cetuskan pada 2002 hingga kini masih diperingati setiap tahun sebagai pengingat pentingnya buku bagi kemajuan bangsa.

Abdul Malik Fadjar merupakan Menteri Pendidikan Nasional pada era Kabinet Gotong Royong di masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Saat menjabat, ia melihat rendahnya minat baca masyarakat Indonesia sebagai persoalan serius yang perlu mendapat perhatian lebih luas. Kondisi literasi yang masih tertinggal kala itu menjadi latar belakang munculnya ide Hari Buku Nasional.

Peringatan Hari Buku Nasional pertama kali mulai dirayakan pada 2002. Tanggal 17 Mei dipilih karena bertepatan dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980.

Pemilihan tanggal tersebut dimaksudkan untuk menegaskan pentingnya peran buku dan perpustakaan dalam meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat.

Lahir di Yogyakarta pada 22 Februari 1939, Abdul Malik Fadjar dikenal sebagai tokoh pendidikan yang memiliki perjalanan panjang di dunia akademik dan organisasi.

Ia aktif dalam berbagai organisasi pelajar dan kemahasiswaan, termasuk organisasi berbasis pendidikan dan keagamaan. Kiprahnya di bidang pendidikan juga berlangsung jauh sebelum masuk pemerintahan.

Dalam perjalanan kariernya, Abdul Malik Fadjar tidak hanya dikenal sebagai birokrat, tetapi juga sosok yang aktif mendorong pengembangan pendidikan masyarakat.

Lebih jauh, ia disebut terlibat dalam penguatan sekolah-sekolah dan kegiatan literasi di berbagai daerah. Perhatiannya terhadap akses pendidikan dan budaya membaca menjadi salah satu ciri penting dalam kiprahnya.

Sejumlah laporan pada masa itu menunjukkan tingkat minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Produksi buku nasional bahkan disebut jauh tertinggal dibanding sejumlah negara lain.

Keprihatinan tersebut kemudian mendorong Abdul Malik Fadjar menggagas Hari Buku Nasional, bukan hanya untuk menumbuhkan kebiasaan membaca, tetapi juga mendukung perkembangan industri buku nasional.

Lebih dari dua dekade setelah pertama kali diperingati, gagasan yang dicetuskan Abdul Malik Fadjar masih relevan hingga saat ini.

Di tengah perkembangan teknologi digital, Hari Buku Nasional tetap menjadi pengingat bahwa budaya membaca memiliki peran besar dalam membentuk generasi yang kritis dan berpengetahuan luas.

KEYWORD :

Abdul Malik Fadjar Hari Buku Nasional 17 Mei Menteri Pendidikan Nasional




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :