Minggu, 19/04/2026 11:37 WIB

Ilmuwan Temukan 600.000 Protein Mikroba Pemakan Plastik di Seluruh Bumi





Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa kemampuan mikroba untuk mengurai plastik ternyata jauh lebih luas dari yang selama ini diperkirakan

Mikroba pemakan plastik (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa kemampuan mikroba untuk mengurai plastik ternyata jauh lebih luas dari yang selama ini diperkirakan. Para peneliti menemukan lebih dari 600.000 protein mikroba yang berpotensi memecah plastik, baik alami maupun sintetis.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Technology & Innovation ini menunjukkan bahwa kemampuan tersebut tersebar hampir di seluruh jenis mikroorganisme yang dikenal.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Pere Puigbo dari University of Turku menemukan bahwa lebih dari 95 persen spesies mikroba yang diteliti memiliki protein yang berkaitan dengan penguraian plastik. Kemampuan ini tidak hanya dimiliki bakteri, tetapi juga kelompok mikroba lain seperti archaea.

Ditemukan di berbagai lingkungan ekstrem

Penelitian ini mencakup sampel dari berbagai lingkungan di seluruh dunia, mulai dari laut, tanah, mata air panas, hingga wilayah kutub. Hasilnya menunjukkan bahwa potensi penguraian plastik merupakan kemampuan yang tersebar luas dalam biosfer.

Namun, keberadaan gen atau protein ini belum tentu berarti mikroba tersebut benar-benar aktif menguraikan plastik di alam. Aktivitas tersebut masih dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti suhu, nutrisi, dan ketersediaan plastik.

Plastik kompleks lebih mudah diurai

Dari 39 jenis plastik yang dianalisis, para peneliti menemukan bahwa plastik dengan struktur kimia lebih kompleks justru lebih rentan terhadap penguraian mikroba. Hal ini karena adanya unsur seperti oksigen atau nitrogen dalam rantai kimianya, yang memudahkan enzim untuk memecahnya.

Di sisi lain, distribusi kemampuan ini tidak merata di semua lingkungan. Tanah dan mikroba yang hidup di dalam batuan menunjukkan potensi penguraian yang lebih tinggi dibandingkan lingkungan perairan.

Peran bakteri dan komunitas “plastisphere”

Penelitian juga menunjukkan bahwa bakteri memiliki lebih banyak kemampuan terkait penguraian plastik dibandingkan archaea. Meski begitu, archaea tetap berperan penting, terutama di lingkungan ekstrem yang minim oksigen.

Di alam, mikroba sering membentuk lapisan lengket yang disebut biofilm di permukaan plastik. Komunitas ini dikenal sebagai “plastisphere”, yang membantu enzim tetap menempel dan bekerja memecah plastik menjadi bagian lebih kecil.

Potensi solusi krisis plastik

Para peneliti menilai temuan ini membuka peluang baru dalam penanganan limbah plastik. Database protein yang disusun dapat menjadi alat penting untuk mengidentifikasi enzim yang efektif dalam proses daur ulang atau biodegradasi plastik.

Menurut Miho Nakamura dari Institute of Science Tokyo, alam sebenarnya telah memiliki potensi besar untuk mengatasi polusi plastik, asalkan dimanfaatkan dengan tepat.

Pendekatan ini juga menekankan bahwa solusi tidak bisa seragam. Plastik yang mudah terurai di satu lingkungan belum tentu dapat terurai di tempat lain.

Masih perlu penelitian lanjutan

Meski menjanjikan, para ilmuwan mengingatkan bahwa temuan ini masih tahap awal. Keberadaan gen belum tentu berarti enzim tersebut aktif bekerja. Diperlukan uji laboratorium untuk memastikan kemampuan nyata dalam mengurai plastik.

Temuan ini memberikan harapan baru bahwa alam memiliki kapasitas besar untuk membantu mengatasi krisis plastik global. Namun, pemanfaatannya tetap membutuhkan penelitian lebih lanjut, desain material yang lebih cerdas, serta pendekatan yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. (*)

Sumber: Earth

 
KEYWORD :

Mikroba Pemakan Plastik Krisis Plastik Sampah Plastik




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :